Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Wasiat
turut memainkan peranan yang penting di dalam berdakwah.'Bapa' memikul
tugas yang amat berat untuk memelihara kebahagiaan keluarga yang terdiri dari
isteri dan anak-anak.Kita telah dihidangkan oleh Al Quran bagaimana Luqman
al-Hakim mendidik anaknya.Dan sebagaimana yang dimaklumi sebuah surah
khusus di dalam Al Quran diberi nama dengan nama Surah Luqman.
Ramai di kalangan umat Islam tidak
mengetahui bahwa 'wasiat' yang diberikan oleh Luqman kepada anaknya itu
merupakan salah satu 'teknik' di dalam berdakwah.Sekiranya teknik ini
diamati lalu dipraktikkan di dalam kehidupan seharian,nescaya anak-anak akan
lahir sebagai muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Bertuahlah sebuah
keluarga yang mempunyai anak-anak seperti mereka.Mempunyai generasi yang
diibaratkan umpama purnama yang menerangi kegelapan malam.Ayuh ! Wahai ayah dan
ibu,wasiatkan kepada anak-anakmu seperti mana wasiat yang diajar oleh Luqman
al-Hakim!!!
Dr.Wahbah Az-Zuhaili telah berkata di dalam bukunya 'Tafsir Munir':
"Al Baidhawi telah
berkata bahwa nama Luqman sebenarnya ialah Luqman bin Ba'ura.Beliau
bukannya nabi tetapi jumhur mengatakan bahwa beliau seorang yang
bijaksana.Diberikan kepadanya Al Hikmah yaitu kelebihan pada
aqalnya,cerdik dan perkataan atau kalam yang dikeluarkannya memberi kesan
kepada manusia.Nama sebenar anaknya ialah (mengikut As-Suhaili) An'am atau
Asykam atau Matan atau Tharan"
Abd.Rahman Hassan Al Maidani berkata di dalam bukunya 'Fiqh Dakwah' bahwa di sana
terdapat 14jenis permasalahan yang dapat dipelajari melalui
kisah Luqman mendidik anaknya melalui 'wasiat'.Oleh itu marilah sama-sama kita
menilai wasiat tersebut yang mengandungi14permasalahan
penting buat umat Islam selepas ini.
U/P :
1.Tulisan berikut selepas
ini berdasarkan terjemahan dan olahan melalui buku karangan Dr.Wahbah
Az-Zuhaili dan Abd.Rahman Hassan Al-Maidani yang tersebut di atas.
Untuk memudahkan anda,sila rujuk terjemahan/tafsir Al Quran
bagi ayat 13-19 Surah Luqman.
Permasalahan Pertama:
Perkara pertama yang diajar oleh
Luqman kepada anaknya ialah jangan Syirik kepada Allah.Disebutkan di
dalam wasiat ini,bahwa syirik kepada Allah adalah kezaliman yang amat
besar.Mengapa? Karena ia mengandungi syirik terhadap Rububiyatullah (Allah
Yang Maha Berkuasa memelihara alam semesta ) dan syirik terhadap Uluhiyatullah
(Tidak ada tuhan yang disembah melainkan Allah).Atau dengan ertikata lain,
mempersekutukan Allah dengan sesuatu lain yang juga mampu memelihara alam
semesta dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yang juga layak
untuk disembah.Inilah Syirik!!!
Meskipun syirik terhadap
Uluhiyatullah lebih ringan dari syirik terhadap Rububiyatullah, akan
tetapi Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mati dalam hal demikian!
Syirik sebesar-besar kezaliman.Zalim pula bererti meletakkan sesuatu bukan di tempat yang
sepatutnya.Lagi sekali kita ingin mengajukan soalan.Mengapa syirik dikatakan
zalim? Telah disepakati,bahwa Allah lah yang menciptakan makhluk semesta
alam.Allah jua yang menurunkan nikmat.Adakah layak kita samakan kekuasaan Allah
ini dengan sesuatu kuasa yang lain? Jika ada di kalangan manusia yang
menyamakan kekuasaan Allah dengan kuasa yang lain maka ia telah melakukan
kezaliman!!!
Allah sahaja yang layak disembah
dan diagungkan kerna apa yang dilakukan-Nya itu tak mampu dilakukan oleh kuasa
lain.Tetapi jika kuasa lain yang diagungkan,maka inilah kezaliman.Yaitulah
meletakkan sesuatu bukan di tempat yang sepatutnya.............
Inilah yang diperkatakan melalui ayat
13 surah Luqman yang bermaksud:
"Wahai anakku!Janganlah
engkau mempersekutukan Allah.Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah
kezaliman yang amat besar."
Permasalahan Kedua:
Luqman mengajar anaknya supaya
bersyukur kepada Allah di atas anugerah nikmat-Nya yang tak terhitung luas
dan banyak.Dan kesyukuran mengandungi erti: Balasan perbuatan yang indah dan
baik dengan perbuatan yang juga baik dan indah.Termasuk di dalam erti kata
syukur ini ialah beribadah kepadaNya dengan melakukan ibadat-ibadat seperti
yang disyariatkan,mendekatkan diri kepadaNya,menuntut keredhaan-Nya dan
memuji-Nya serta menghadapkan diri dengan berdoa kepadaNya yang Maha Esa.
Memuji lebih umum dari bersyukur
karena hak mutlak kepujian itu diberikan ke atas yang dipuji pabila bersifat
dengan sifat atau sifat-sifat yang baik.Hatta yang dipuji itu tidak melakukan
sesuatu kebaikan terhadap pemuji.
Dan peringatan 'kesyukuran' kepada
Allah ini dikaitkan dengan pembalasan pada Hari Qiamat.Jika sekiranya
kesyukuran itu kepada Allah ,maka akan mendapat balasan pahala dan jika
sebaliknya akan mendapat balasan siksaan di atas kekufuran dan keingkaran.
Inilah yang diperkatakan melalui ayat
14 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan kami wasiatkan
(perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibubapanya.........Bersyukurlah
kepadaku dan..........Kepadaku tempat kembali.".
Permasalahan Ketiga:
Luqman mendidik anaknya agar berterima
kasih kepada ibubapa di atas susah payah dan jerit perih mereka membesarkan
dan mendidik anak dengan segala macam pemberian dan kebaikan untuk anak
tersayang.Tunaikan hak keduanya terutama kepada ibu.Karena ibu bersusah payah
menanggung penderitaan bermulanya dari proses mengandung sehinggalah melahirkan
anak,menyusu sehingga tamat tempoh berakhirnya penyusuan selama 2 tahun dan
mentarbiyah anak siang dan malam.
Sesungguhnya ketaatan kepada
ibubapa walaupun berlainan agama adalah wajib diikuti kecuali pabila disuruh
mengerjakan maksiat dan meninggalkan amal ibadat yang disyariatkan oleh
Islam.Maka ketika itu haram mentaati perintah itu!!!
Lihatlah tingkatan terima kasih
(syukur) yang ditonjolkan melalui wasiat ini.Terima kasih/kesyukuran kepada
ibubapa datang selepas syukur kepada Allah. 'Logiklah' bahwa ucapan terima
kasih/syukur ini pertama-tamanya buat Khaliq (pencipta).Selepas itu barulah
diikuti pula buat makhluk yang didahului oleh ibu bapa yang tercinta.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
14 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan kami wasiatkan
(perintahkan)kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapanya.Ibunya
mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan dan menceraikan
menyusu dalam 2 tahun.Bersyukurlah kepadakudan kepada ibu
bapamu! Kepadaku tempat kembali"
Permasalahan Keempat:
Luqman mendidik anaknya dengan mencegah
anaknya dari mentaati ibubapa yang mendesak atau mengajak supaya mensyirikkan
Allah dan segala macam perbuatan maksiat yang dilarang Allah.
Akan tetapi sebagai
anak,ibubapanya harus dilayani ,ditemani dan digauli dalam suasana yang penuh
kebahagiaan dan kasih sayang.Anak juga harus melakukan kebaikan kepada mereka
berdua seperti menjaga hal ehwal kewangan,menghormati dan berkhidmat kepada
mereka.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
15 surah Luqman yang bermaksud:
" Dan kalau keduanya memaksa
engkau supaya mempersekutukan Aku, apa yang tiada engkau ketahui ,janganlah
dituruti;dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan secara patut"
Permasalahan Kelima:
Luqman menasihati anaknya agar melalui
jalan yang dilalui oleh mereka yang kembali bertaut kepada Allah dengan
keimanan ,ketaatan dan meredah jalan yang lurus (jalan yang Allah anugerahkan
nikmat kepada mereka).Bukan jalan yang dilalui oleh mereka yang dimurkai Allah
dan mereka yang sesat!
Mereka yang kembali kepada Allah
ini terdiri dari kalangan para Rasul,Nabi,orang benar dan sesiapa sahaja yang
mengikuti mereka dengan keikhsanan dari kalangan orang mukmin.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
15 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan turutlah jalan orang
yang kembali kepada KU "
Permasalahan Keenam:
Luqman berpesan kepada anaknya
supaya melakukan 'pemerhatian' tentang Hari Qiamat,urusan al-
Qadha',pembalasan amalan serta melakukan pemerhatian terhadap segala arahan
menyuruh dan meninggalkan sesuatu perkara di dalam menongkah arus dunia ini.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
15 surah Luqman yang bermaksud:
"Nanti kamu akan kembali
kepada KU dan akan AKU beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"
Permasalahan Ketujuh:
Luqman menerangkan kepada anaknya
akan 'syumul'nya Ilmu Allah melewati ilmu manusia.Allah bebas melakukan
apa sahaja tanpa ada halangan.Allah mendatangkan sesuatu yang diinginkanNYA
dari segenap tempat yang tak mampu dibuat oleh makhluk.
Sesuatu kebaikan ,kejahatan,kezaliman
dan kesalahan yang diumpamakan seperti berat biji sawi walaupun tersembunyi
jauh di dalam batu atau jauh berada di tempat yang tinggi seperti langit atau
jauh berada di sedalam-dalam tempat seperti di dasar bumi akan didatangkan oleh
Allah jua pada Hari Qiamat untuk dihisab / dihitung dan diberi ganjaran dosa
atau pahala.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
16 surah Luqman yang bermaksud:
"(Kata Luqman):Hai anakku!
Sesungguhnya jika ada (amal engkau) seberat biji sawi dan ada (tesembunyi)
dalam batu,di langit atau di bumi ,itu akan dikemukakan oleh Allah dan Allah
itu Halus(mengerti hal-hal yang halus) dan Cukup Tahu"
Permasalahan Kelapan:
Luqman menyuruh anaknya agar menunaikan
solat/sembahyang kerna solat merupakan fardhu yang difardhukanNya melalui
utusanNya di bumi( dari kalangan Nabi dan Rasul).
Selepas manusia ditegah dari
syirik dan ditakutkan dengaan Ilmu Allah dan QudratNya yang tak dapat
ditandingi oleh sesiapa,datanglah arahan supaya beramal dengan amalan-amalan
yang serasi dengan prinsip-prinsip Tauhid yaitu antaranya solat / bersembahyang
.Solat adalah tiang agama.Dalil keimanan dan yakinnya hamba terhadap Ilahi.
Jalan mendekatkan diri kepada Nya dan membantu mencegah kemungkaran, kekejian
dan mensucikan diri.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
17 surah Luqman yang bermaksud:
"Hai anakku! Dirikanlah
solat/sembahyang "
Permasalahan Kesembilan:
Luqman menyuruh anaknya berbuat
yang ma'ruf / kebaikan dan mencegah kemungkaran .Ini menunjukkan kepada
kita bahwa arahan supaya menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran
dari 'tugasan' yang terkandung di dalam seruan Ilahi kepada Agama Islam
semenjak dahulu lagi…
Inilah yang diterangkan melalui ayat
17 surah Luqman yang bermaksud:
"Suruhlah mengerjakan yang
baik,cegahlah perbuatan yang buruk"
Permasalahan Kesepuluh:
Luqman menasihatkan anaknya agar bersabar
di atas segala perkara yang dibenci yang menimpa diri samada musibah itu
datang dari Ilahi menguji diri,harta , suami isteri dan anak-anak .Atau musibah
ini berpunca dari bertembungnya dengan masyarakat yang membenci pendakwah
(pendakwah bersifat pembawa hidayat,pemberi ingatan ,pembaik pulih dan
pelindung) pabila menyeru ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran dan apabila
pendakwah mengajak manusia kepada Agama Allah yaitu Islam serta lain-lain
bidang atau cabang-cabang kebaikan.
Dimulakan wasiat dengan arahan
solat / bersembahyang dan ditamat dengan arahan supaya bersabar. Mengapa ?
Karena solat tiang agama dan sabar merupakan asas kekalnya ketaatan sepanjang
masa.
Secara jelas dapat difahami ,bahwa
sabar menahan musibah ini tergolong di dalam 'perkara yang berhajat kepada
kehendak yang kuat dari tahap keazaman'.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
17 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan berhati teguhlah
menghadapi apa yang menimpa engkau ; sesungguhnya (sikap) yang demikian itu
masuk perintah yang sungguh-sungguh"
Permasalahan Kesebelas:
Luqman menasihati anaknya agar jangan
takabbur dengan apa-apa pergerakan sekalipun yang menunjukkan kesombongaan
dan ketinggian diri di depan manusia.
Luqman bepesan agar jangan
memaling muka apabila bercakap dengan manusia kerna ia menunjukkan sifat
takabbur dan menghina(merendah-rendahkan seseorang). Jangan takabbur dan
merendah-rendahkan seseorang.Jangan memaling muka,membantah atau membangkang
tanpa usul periksa .Akan tetapi sentiasalah tawadhuk(merendahkan diri)
,berlembut, ,manis bicara,senang diajak berbicara,seronok diajak berbicara,riak
muka yang gembira,seronok ,ramah dan menjadi pendengar yang baik.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
18 surah Luqman yang bermaksud:
"Janganlah engkau memalingkan
muka engkau dari manusia karena kesombongan"
Permasalahan Kedua Belas:
Luqman nasihati anaknya agar tidak
berjalan di atas muka bumi ini dengan menampakkan keseronokan yang amatsangat
hinggalah akhirnya keseronokan ini melebihi had di dalam pergerakannya
,membedakan kelakuannya dengan manusia lain karena ia mengandungi ciri-ciri
berlebih-lebihan atau jauh dari kesederhanaan .
Dengan ciri ini orang yang gembira
ini akan menjadi takabbur dan sombong yang melebihi had syara'.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
18 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan janganlah berjalan di
bumi dengan angkuh ! Sesungguhnya Allah tidak mencintai sekalian orang yang
sombong dan membanggakan diri"
Permasalahan Ketiga Belas:
Luqman menasihati anaknya agar besederhana
dan sekata ketika berjalan. Tidak terlalu perlahan hingga menampakkan
kemalasan, kelambatan yang amat sangat sehingga menampakkan diri lemah
konon-kononnya ingin dikatakaan 'zuhud'. Tidak terlalu laju sehingga
menonjolkan sikap berlebih-lebihan serta tidak peduli kepada suasana
sekeliling.
Oleh itu sikap sederhana dan
sekata di antara lambat dan laju merupakan tanda / lambang seseorang itu
tenang,beraqal dan diri yang cergas dan sihat.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
19 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan besederhanalah dalam
berjalan"
Permasalahan Keempat Belas:(terakhir)
Luqman menasihati anaknya agar merendahkan
suara dan mencukupi suaranya didengari mengikut hajat atau keperluan
pendengar.Inilah antara adab bersuara dan bercakap untuk keperluan.
Diterangkan dalam wasiat ini
,bahwa mengangkat suara tanpa hajat/keperluan merupakan perkara yang dikutuk
,dikecam ,tidak disukai dan buruk.Contoh yang akan diberikan dalam ayat berikut
ini bahwa seburuk-buruk suara adalah suara himar / keldai karena suara himar /
keldai awalnya suara mengeluh dan akhirnya suara menguak /melalak.
Inilah yang diterangkan melalui ayat
19 surah Luqman yang bermaksud:
"Dan lembutkan lah suara
engkau! Sesungguhnya suara yang amat buruk ialah suara himar"
Tasawuf atau sufisme adalah suatu ilmu pengetahuan. Sebagai
ilmu pengetahuan, tasawuf mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim
dapat berada sedekat mungkin dengan Allah Swt.
Dengan demikian, seorang sufi senantiasa mempunyai tujuan
memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa ia
berada di hadirat Tuhan. Dengan kata lain, bahwa intisari dari sufisme ialah
kesadaran akan komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan
jalan mengasingkan diri dan kontemplasi.
Adapun kesadaran berada dekat dengan Tuhan dapat mengambil
berbagai bentuk sesuai dengan kondisi sufi itu sendiri. Yakni bisa berbentuk ma'rifah,
mahabbah, ittihad, hulul maupun wihdah al-wujud.
Untuk mencapai tujuannya (yakni berada dekat dan bersatu
dengan Tuhan), seorang sufi harus menempuh jalan panjang, di antaranya melalui al-zuhd,
yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian, atau kata lain,
meninggalkan keramaian dan mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan
juga tak mau lagi berhubungan dengan manusia yang dirasa tak lagi bermanfaat,
apalagi jika dapat menggangu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. Karena
itu, banyak tuduhan ditujukan pada para sufi, bahwa kaum sufi lebih cenderung
bersikap fatalistis dan dianggap sebagai biang keladi kemunduran Islam.
Sungguhpun demikian, banyak pula kita jumpai tokoh-tokoh sufi
yang amat peduli dengan lingkungan masyarakat sekitar dan mau menyumbangkan
gagasan-gagasan kemanusiaan yang mendasar, sekalipun oleh kelangsungan masa
mereka terdesak ke latar belakang kesejarahan. Satu di antara sekian banyak
tokoh tersebut adalah seorang sufi yang akan menjadi figur utama dalam tulisan
ini, yakni Jalaluddin Rumi.
Dilihat dari luasnya wawasan dan tajamnya penglihatan
pandangannya, dari tema-tema universal yang diangkat dalam setiap baris
karyanya dan dari cara mengungkapkan pikiran dalam bahasa puisi yang sarat
simbol, tak pelak lagi bahwa Rumi adalah seorang jenius dengan pikiran dan otak
brilian. Dengan visinya yang tajam, ia mampu menerobos dinding zamannya dan
mendahului beberapa abad gagasan-gagasan humanistis para pemikir besar dunia
yang datang kemudian.
Hal ini sebagaimana ungkapan Erich Fromm, seorang pengikut
Neo-Freudian:
"Dua ratus tahun
sebelum pemikiran humanisme renaisance, Rumi telah mendahului mengemukakan
ide-ide tentang toleransi agama yang dapat ditemukan pada Erasmus dan Nicholas
De Cusa, dan ide-ide tentang cinta sebagai tenaga kreatif yang fundamental
sebagai yang dikemukakan oleh Facini... Rumi bukan saja seorang penyair dan
mistikus (sufi) serta pendiri Tarekat; tetapi ia juga seorang manusia yang
mengetahui secara mendalam tabiat-tabiat manusia.
Makalah singkat ini ingin melacak karakteristik (watak)
sufisme Jalaluddin Rumi, yang diungkapkan melalui bait-bait syair dan puisi, di
mana oleh sementara orang ia dianggap sebagai pelopor yang menghidupkan kembali
semangat keagamaan kaum muslimin dan berusaha membuang jauh-jauh kesan yang
selama ini merusak citra para sufi yang dianggap sebagai fatalis. Sebaliknya,
ia mengetengahkan gagasan-gagasan yang penuh dinamika yang mendorong manusia
untuk senantiasa berbuat, berkarya dan bekerja keras untuk menunaikan tugas
kemanusiaannya yang amat berat.
B. Sekilas Tentang Jalaluddin Rumi.
Nama Asli Rumi adalah Muhammad Jalaluddin. Tetapi kemudian,
ia terkenal dengan sebutan Maulana al-Rumi atau Rumi saja. Ia dilahirkan pada
tanggal 6 Robiul Awwal 604 H (30 September 1207 M) di Balkh, yang pada
saat itu masuk dalam wilayah kerajaan Khawarizm, Persia Utara. Rumi Lahir dari
benih unggul. Dari pihak ayah, ia mempunyai garis keturunan Abu Bakar
al-Shiddiq, sedangkan dari pihak ibu, ada hubungan darah dengan Ali ibn Abi
Thalib. Ia juga termasuk keluarga kerajaan, karena kakeknya, Jalaluddin Huseyn
al-Katibi, menikah dengan putri raja 'Ala al-Din Muhammad Khawarizm Syah. Dari
perkawinan ini, lahirlah ayah Rumi yang bernama Muhammad, yang selanjutnya ia
bergelar Baha' al-Din Walad, tokoh ulama dan guru besar di negerinya di
masa itu yang juga bergelar Sultanu al-Ulama'.
Pada masa kanak-kanak, Rumi dididik sendiri oleh ayahnya yang
merupakan ulama’ besar saat itu. Setelah itu oleh ayahnya, Rumi dipercayakan
pada salah satu muridnya, Sayid Burhanuddin, selama empat sampai lima tahun,
sebelum hijrah dari Balkh.
Pengembaraannya yang cukup panjang ke beberapa kota dan
negeri tetangga, dengan ayah dan keluarganya, memberi kesan yang mendalam
tentang gejolak sejarah dan romantika kehidupan manusia. Sedangkan
perjumpaannya dengan beberapa tokoh besar seperti Fariduddin al-Attar,
Sihabuddin al-Suhrawardi dan juga Muhammad ibn Ali ibn Malik Daad, yang lebih
dikenal dengan Syamsuddin alTabrizi atau Syam Tabriz, telah membangkitkan
antusiasme yang cukup besar untuk menjadi manusia terhormat. Hal yang demikian
membuat Fariduddin al-Attar dengan penuh optimisme meramalkan: "Hari akan
datang, di mana anak ini akan menyalakan api antusiasme ketuhanan ke seluruh
dunia".
Ketika ayahnya meninggal tahun 1230 M, Rumi diangkat sebagai
ganti ayahnya untuk mengajar di Madrasa-i-uba'iyyat (Khudavandgar), dan sebagai
penasihat para sarjana dan mahasiswa. Selain itu, ia juga berubah profesi
sebagai penyiar agama. Dari ayahnya itulah Rumi memperoleh berbagai ilmu
pengetahuan jamannya, terutama ilmu kalam yang cukup mempengaruhi pola
pemikiran teologinya, disamping ketekunan belajarnya di berbagai tempat dan
kota serta dengan beberapa tokoh besar lainnya.
C. Jalaluddin Rumi dan Karya-Karyanya.
Rumi adalah termasuk tokoh sufi yang produktif. Di samping
sebagai juru da'i dan guru, dia juga aktif menulis karya-karya sufisme yang
mayoritas berbentuk sya'ir atau prosa. Karena itu, wajarlah jika ia dijuluki
sebagai sufi-penyair besar.
Karya sastra Rumi bisa dibilang sangat jamak; dalam bukunya Diwan-i
Syams-i Tabriz terdapat kurang lebih 2500 lirik; dalam Masnawi
sekitar 25.000 bait syair; dan Ruba'iyyat (syair empat baris) yang
kira-kira 1600 barisnya adalah asli.
Secara ringkas, karya-karya Jalaluddin Rumi dapat
diklasifikasikan menjadi 6 buah karya; 3 karya besar dan 3 karya yang relatif
kecil. Adapun karya besarnya adalah sebagai berikut:
Maqalat-i
Syams-i Tabriz (wejangan-wejangan Syam Tabriz). Karya ini berisi
tentang dialog-dialog mistis antara Syam Tabriz sebagai guru dan Rumi
sebagai murid.
Divan-i
Syams-i Tabriz (lirik-lirik Syams Tabriz). Karya ini disusun Rumi saat
ia berpisah dengan gurunya Syam Tabriz, yang berisi pujaan disamping untuk
mengenang guru sekaligus sahabat yang dicintainya.
Masnav-i
Ma'nawi (Masnawi Jalaluddin Rumi). Karya ini berisi
ajaran-ajaran pokok Tasawuf Rumi yang sangat mendalam. Para pengikut Rumi
menganggapnya sebagai penyibak makna batin al-Qur'an. Karya ini ia
sampaikan dalam bahasa puisi yang kreatif melalui apologi, anekdot dan
legenda.
Sedangkan karya Rumi yang relatif kecil antara lain:
Ruba'iyyat. Karya puisi
Rumi yang disampaikan dalam bentuk Kuatrin (sajak 4 baris).
Maktubat
(Korespondensi). Karya ini merupakan kumpulan surat-surat Rumi yang
ditujukan kepada dan untuk membalas rekan-rekan atau para pengikutnya.
Fihi Ma Fihi
(Di dalam apa yang ada di dalam). Karya ini merupakan ceramah tasawuf
Rumi kepada para pengikutnya yang tergabung dalam tarekatnya.
D. Karakteristik Sufisme Jalaluddin Rumi
Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas bahwa karya-karya
Rumi mayoritas berbentuk sya'ir, maka untuk melacak dan mengetahui lebih jauh
karakteristik sufisme Rumi perlu juga dilakukan analisa terhadap karya-karya
tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:
"Wahai kegilaan yang membuai, Kasih !
Engkau Tabib semua penyakit kami !
Engkau penyembuh harga diri,
Engkau Plato dan Galen kami !
Dalam hal ini, Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa Rumi masuk ke
dalam madzhab Realitas Utama Sebagai Keindahan, sebagaimana Ibn Sina, yang
pembawaannya terletak dalam melihat "wajah-Nya sendiri yang tercermin
dalam cermin alam semesta". Karena itu, alam semesta ini bagi mereka
berdua merupakan pantulan "Keindahan Abadi" dan bukan suatu emanasi
seperti yang diajarkan oleh Neo-Platonisme. Juga, menurut Mir Sayyid Syarif,
penyebab penciptaan ialah manifestasi keindahan, dan penciptaan yang pertama
ialah cinta. Wujud Keindahan ini dihasilkan oleh cinta kasih semesta, yang
instingtif-bawaan. Zoroaster dari Sufi Persia senang mendefinisikannya sebagai
"Api Kudus yang membakar segalanya kecuali Tuhan".
Ekspresi-ekspresi sufisme sering berpegang pada keseimbangan
antara cinta dan pengetahuan, suatu bentuk ekspresi emosional yang lebih mudah
memadukan sikap keagamaan yang merupakan titik awal setiap kehidupan kerohanian
Islam. Begitu pula yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi, ia mengekspresikannya
dalam bahasa cinta. Hal itu dapat ditemukan dalam sya'irnya yang lain:
Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Apa yang dapat kulakukan hai orang-orang Muslim ?
Aku sendiri tidak tahu.
Aku bukan orang kristen, bukan orang Yahudi, bukan
orang Magi, bukan orang Mosul,
Bukan dari Timur, bukan dari barat, bukan dari darat,
bukan dari laut,
Bukan dari tambang Alama, bukan dari langit yang melingkar,
Bukan dari bumi, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari
api,
Bukan dari singgasana, bukan dari tanah, dari eksistensi, dari
ada,
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqsee,
Bukan dari kerajaan-kerajaan Irak dan Kurasan,
Bukan dari dunia ini atau yang berikutnya; dari syurga atau
neraka,
Bukan dari Adam, Hawa, taman-taman syurgawi, atau firdausi,
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang
kucintai.
Dalama kenyataannya, perbedaan antara jalan pengetahuan dan
jalan cinta bermuara pada masalah keunggulan salah satunya atas lainnya, meskipun
sebenarnya tidak pernah ada pemisahan sepenuhnya antara kedua modus rohani
tersebut. Pengetahuan tentang Tuhan selalu memikirkan cinta, sementara cinta
mengisyaratkan adanya pengetahuan mengenai obyek cinta, walaupun itu hanya
merupakan pengetahuan langsung dan renungan.
Obyek cinta rohani adalah keindahan Tuhan yang merupakan
suatu aspek dari ketakterbatasan Tuhan, dan melalui obyek ini rasa cinta
menjadi terang dan jelas. Cinta yang penuh dan terpadu berputar mengelilingi
sesuatu titik tunggal yang tak terlukiskan, Allah Swt.
Selanjutnya menurut Rumi, cinta lebih tinggi dari kecemasan,
hal ini dapat kita fahami dalam sayirnya:
Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahid
membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.
Meskipun bagi sang zahid, sehari bernilai besar
sekali, namun bagaimana satu harinya bisa sama dengan lima puluh ribu tahun ?
Dalam kehidupan sang Sufi, setiap hari berarti lima
puluh ribu tahun di dunia ini.
Cinta (mahabbah), dan juga gairah cinta ('isyq)
adalah sifat Tuhan, takut adalah sifat hawa nafsu dan birahi.
Cinta memiliki lima ratus sayap, dan setiap sayap
membentang dari atas syurga di langit tertinggi sampai di bawah bumi.
Sang zahid yang ketakutan berlari dengan kaki, para
pecinta Tuhan terbang lebih cepat dari pada kilat.
Semoga Rahmat Tuhan membebaskanmu dari pengembaraan
ini!, tak ada yang sampai kecuali rajawali yang setialah yang menemukan jalan
menuju sang Raja.
Menurut Annemarie Schimmel, kekuatan Rumi adalah cintanya,
suatu pengalaman cinta dalam makna manusiawi tetapi sama sekali didasarkan pada
Tuhan. Ia merasa bahwa dalam setiap do'a ada rahmat Ilahi, dan ia membukanya
sendiri rahmat Ilahi itu. Beserta dengan kehendak Ilahi, ia menemukan pemecahan
bagi teka-teki taqdir dan mampu menjulang ke puncak kebahagiaan dari kesedihan
yang paling dalam karena perpisahan. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah syair:
"Aku terbakar, dan terbakar dan terbakar"
Selanjutnya, Schimmel mengatakan bahwa Rumi telah mengalami
keindahan dan keagungan Ilahi dengan seluruh indranya. Pengalaman indrawi
terpantul kuat dalam sajaknya, dan dalam sajak itu selalu terjaga keseimbangan
antara pengalaman indrawi dan kasih Ilahi, sebagaimana berikut:
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas,
Lewat cintalah semua endapan akan jadi anggur murni,
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat,
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup,
Lewat cintalah Raja jadi budak.
Dalam suatu kesempatan, Rumi pernah mengatakan bahwa hingga
hari kebangkitan pun kita tidak mungkin bisa berbicara secara memadai tentang
wajah cinta. Sebab, menurutnya, mana mungkin mengukur samudera dengan piring.
Dari beberapa syair Rumi tersebut, kita memperoleh pemahaman
bahwa pemahaman atas Tuhan beserta alam semesta hanya mungkin lewat bahasa
cinta, bukan semata-mata dengan kerja dan usaha yang bersifat fisik lahiriyah.
E. Kesimpulan
Dari syair Rumi dan ungkapan-ungkapan sufistiknya, kita
memperoleh gambaran:
Tuhan
sebagai satu-satunya tujuan, tak ada yang menyamai. Karena itu,
penggambaran Tuhan hanya mungkin lewat perbandingan, di mana yang
terpenting adalah makna perbandingan itu sendiri, bukan wujud lahiriyah
atau interpretasi fisiknya.
Manusia
senantiasa tidak puas; nafsunya selalu ingin terpenuhi. Karena itu, ia
harus terus bertarung melalui segala usaha. Namun, baru dalam cintalah ia
mendapatkan kepuasan.
Cinta,
menurut Rumi, adalah lenyapnya kedirian, yaitu kesatuan sempurna antara
kekasih Tuhan dengan Tuhan. Dengan ketiadaan diri (fana') berarti
terbuka bagi memancarnya cahaya Ilahi. Dengan kata lain, Tuhan adalah
segala-galanya, tak ada selain Dia.
Jadi, watak
sufisme Rumi adalah menjadikan cinta sebagai sarana untuk bisa bersatu dan
dekat dengan Tuhan.
Catatan dari Ciganjur Gus Dur, Walisongo dan Arabisasi
Islam adalah
ajaran normatif yang berasal dari Tuhan. Ia dapat diakomodasi ke dalam pelbagai
kebudayaan manusia tanpa harus menghilangkan identitasnya masing-masing. Agama
sebagai kepercayaan yang memuat norma kemasyarakatan tidak harus menolak budaya
setempat. Islam adalah ketentuan samawy, namun ia bukan mesti
mengalahkan nalar budaya ardly. Oleh karenanya para ulama Islam di
pelbagai belahan dunia non Arab, khususnya Asia Tenggara dan Indonesia
mengintegrasikan antara keislamam dengan kebudayaa-kebudayaan lokal. Di mana
kalangan ulama Nusantara telah mengadopsi sistem sosial, kesenian dan adat
istiadat Indonesia ke dalam prespektif Islam. Hal ini memungkinkan aneka ragam
kebudayaan Nusantara tetap lestari, meskipun Islam menyatukan wilayah ini dalam
identitas agama.
Dalam sejarah Islam Jawa tentunya tak seorang pun yang tidak mengenal nama
besar Walisongo. Para wali yang konon semuanya adalah keturunan Arab
~mengecualikan sunan Kalijogo~ inilah yang berjasa menyebarkan agama Islam di
tanah Jawa. Pada abad ke-15 Walisongo mengislamkan masyarakat Jawa dengan
mengintegrasikan nilai-nilai lokal jawa dalam Islam khas keindonesiaan.
Walisongo mengakomodasikan Islam sebagai ajaran agama dengan kebudayaan
masyarakat setempat. Ja’far Shodiq misalnya, ia mendekati masyarakat Kudus
dengan memenfaatkan simbol-simbol Budha-Hindu. Dari sisi fisik stategi ini
dapat ditengarai dari arsitektur menara, gerbang, dan jumlah pancuran tempat wudlu
yang melambangkan delapan jalan Budha. Dari psikis Sunan Kudus sangat
menghormati sapi, binatang yang dituhankan oleh masyarakat Hindu. Tradisi
menghormati sapi masih dapat kita jumpai hinga saat ini. umat Islam di Kudus
menyembelih kerbau, bukanya sapi pada hari raya Idul Adha.
Begitu pula Raden Sahid sangat toleran pada budaya lokal. Sunan Kalijaga
berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh bila pendiriannya diserang melalui purifikasi.
Ia berkeyakinan jika Islam telah dipahami, dengan sendirinya keyakinan lama
akan hilang. Pencipta tembang Ilir-ilir yang termasyur ini jugalah yang
merupakan penggagas perayaan sekaten, grebeg maulud dan kalimasadha. Lanskap
pusat kota berupa keraton, alun-alun, dengan dua beringin serta masjid ini
diyakini pula sebagai karyanya. (Tashwirul Afkar. No.14, 2003)
Sebagai contoh adopsi budaya, ranggon masjid Demak diambil dari konsep ”meru”
masa pra-Islam yang terdiri sembilan susun. Namun Sunan Kalijaga menjadikannya
tiga susun saja, untuk melambangkan tahap keberagamaan seorang muslim, yaitu
iman, Islam dan ihsan. Pada mulanya orang baru beriman saja, kemudian ia
melaksanakan Islam ketika menyadari pentingnya syariat. Barulah memasuki
tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan mendalami tasawuf, hakikat dan
ma’rifat. Ketika seseorang telah mencapai tingkat ihsan selubung formalitas
disingkirkan, dan yang dikedepankan adalah kesalehan. Perbuatan saleh tidak
mesti dibungkus dalam formalitas lembaga keagamaan.
Mengomentari manufer dakwah walisongo ini Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa
antara Islam da paham pemikiran lain mengalami proses saling mengambil dan
belajar. Dalam proses kompromi antara ajaran Islam dengan tradisi dan budaya,
Islam tidak saja harus ”menjinakkan” sasarannya, tapi ia sendiripun harus
bersikap ramah. Dengan demikian akan akan terjadi keragaman dalan Islam sebagai
tuntutan ajarannya sendiri yang universal.
Hal ini bertolak belakang dengan purifikasi dan pembaharuan Islam yang
dicanangkan Abdurrauf al-Singkili dan Muhammad Yusuf al-Maqassari pada abad
ke-17. Islam kemudian semakin berkembang dibawah bendera purifikasi atau
pemurnian ajaran Islam yang dipelopori oleh gerakan Wahabi. Gerakan nin sangat
gencar melawan semua bentuk apresiasi terhadap adat istiadat dan tradisi lokal.
Bahkan di tempat asalnya sendiri. di Mekkah mereka menghancurkan kubah-kubah
Masjidil Haram. Di Madinah hampir saja terjadi pembongkaran makam Rasulullah,
karena dianggap berbau bid’ah dan kemusrikan.
Keragaman Islam Nusantara semakin ketika kebangkitan Islam didengungkan. Meningkatnya
intensifikasi persentuhan Indonesia dan Arab memungkkinkan pesona revolusi
Iran, yang terjadi pada tahun 1978 menyebar ke mana-mana. Bahkan dijadikan tipe
ideal gerakan Islam, yang mencita-citakan tegaknya kembali khilafah Islamiyah.
Maka mulai saat itu aspirasi negara Islam muncul kembali.(Abdul Mun’im DZ,
2003)
Dewasa ini semangat pemurnian Islam telah berwujud gerakan massa yang merambah
ranah praksis. Di antaranya adalah jaringan Ikhwanul Muslimin, Khizbut Tahrir
Indonesia dan Majlis Mujahidin Indonesia. Mereka menghasilkam alternatif nyata
wujud keberagamaa yang lain. keberagamaa Islam yang mereka sebut ”otentik”,
Islami dan kaffah, yang seharusnya diberlakukan di seluruh dunia Islam. Sebuah
fundalentalisme yang dianggap universal (shahih li kulli zaman wa makan;
cocok untuk semua jaman dan keadaan).
Gagasan Islam pribumi yang dikembangkan sebagai jawaban dari Islam Otentik atau
Islam Murni yang ternyata lebih mengarah kepada Arabisasi diusung oleh
Abdurrahman Wahid dalam rangka menghindarkan tercerabutnya agama dari akar
budaya. Menurut Gus Dur, proses Arabisasi atau mengidentifikasikan diri dengan
Timur Tengah hanya mengakibatkan umat Islam Indonesia tercerabut dari akar
budayanya sendiri. bagaimanapun juga jelas berbahaya mengabaikan tradisi dalam
proses agamisasi. Apalagi menempatkannya di seberang program agamisasi
tersebut. Tradisi keyakinan keagamaan merupakan ruh bagi nalar individu dan
masyarakat dalam memahami dinamika sosial dan proses pelebura agama, dalam tata
hubungan sosial dan perilaku adat istiadat lokal.
Dengan pribumisasi Islam dapat dijamin adanya keragaman interpretasi dalam
plikasi nilai-nilai keberagamaan di setiap wilayah yag berbeda. Kondisi ini
memungkinkan Islam dipandang secara plural dan egaliter, bukan tunggal dan
otoriter. Bagi Islam Pribumi, Islam bukanlah agama yang sekali jadi. Islam
tidak lahir dari ruang lingkup dan lembaran kosong. Islam telah berafiliasi
dalam fakta historis. Segala sesuatu, sekalipun Kitab Suci yang diyakini
sebagai firman Tuhan yang abadi, karena telah membumi maka ia terkena kategori
sebagai fakta historis.
Fakta historis ini dapat kita jumpai semenjak Islam masih berada di Mekah dan
Madinah. Islam Mekah adalah Islam hasil perjumpaan wahyu dengan tradisi lokal
Quraisy atau Arab paganis (jahiliyyah). Sedang Islam era Madinah adalah
Islam yang telah bersinggungan dengan perbagai budaya dunia semacam Yahudi dan
Nasrani. Dengan nalar historis bisa dimengerti jika karakter dan genre ayat
Makkiyah berbeda dengan ayat-ayat Madaniyah.
Konsep Islamisasi Arab setidaknya menampakkan tiga pola, pertama Islam
mengambil sebagian tradisi dan meninggalkan sebagian lainnya. Kedua, Islam
mengambil dan meninggalkan tradisi Arab secara setengah-setengah dengan
mengurangi atau menambahkan adat dan praktek pra-Islam. Ketiga, Islam meminjam
norma-norma tersebut dalam bentuknya yang paling sempurna tanpa mancerna dan
mengubah namanya. (Khalid Abdul Karim, 1990)
Karena sifatnya yang selalu berdialektikaa dengan relitas, maka tradisi
keagamaan dapat berubah sesuai dengan konteks sosial dan kultural suatu
masyarakat. Dalam konteks Indonesia, Islam yang baik adalah Islam yang memahami
kebutuhan-kebutuhan masyarakat Indonesia. Menawarkan solusi atas
problem-problem yang dihadapi dan menjawab tantangan-tantangan ke depan. Dalam
pandangan Gus Dur sebagai penggagas pribumisasi Islam, Islam Pribumi sama
sekali tidak berpretensi untuk mengangkat budaya-budaya lokal Arab, karena
Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan.
Gus Dur Kecam Pembunuhan Syekh Ahmed
Yassin
Ketua Dewan Syuro
DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Abdurrahman Wahid di Jombang, Jatim,
Rabu mengecam keras pembunuhan yang dilakukan oleh kaum zionis Isreal terhadap
pemimpin Hamas Syekh Ahmed Yassin.
Menurut Gus Dur, pembunuhan itu
berarti Isreal sudah melakukan kekerasan atau sudah meninggalkan hukum dan
etika hubungan internasional. Sehingga akibat adanya peristiwa itu, proses
perdamaian di Timur Tengah sulit terealisasi.
Gus Dur mengemukakan hal itu saat
wawancara di sela-sela kampanye PKB di lapangan Desa Tebel, Kecamatan Bareng,
Jombang.
Gus Dur Klarifikasi Isu
Pembabtisan Dirinya
Ketua Dewan Syuro
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menglarifikasi
isu tentang pembabtisan atas dirinya yang direkam dan disebarluaskan melalui video
compac disk (VCD) oleh oknum tak bertanggungjawab.
Mantan Presiden RI ke empat itu
menglarifikasi pembabtisan dirinya saat kampanye PKB yang dihadiri ribuan kader
dan simpatisan partai tersebut, di GOR Kota Baru Jambi, Rabu (31/03).
"Itu tidak benar, dusta,
bohong, dan fitnah yang sengaja dimunculkan orang atau kelompok yang takut
kalah dengan PKB pada Pemilu 2004," katanya.
Ia mengakui bahwa munculnya
pembabtisan dirinya dalam VCD itu, karena beberapa waktu lalu ia menghadiri
undangan/pertemuan para pendeta gereja betel di Gelora Bung Karno, Senayan
Jakarta.
"Telah kita cari siapa dalang
dibalik itu," katanya lagi.
Menurut dia pula, kekhawatiran
orang terhadap PKB akan menang dalam Pemilu, berbagai cara dilakukan untuk
mendiskreditkan partai tersebut.
"Orang banyak ketakutan bila
PKB menang, karena setiap berkampanye di Jakarta dan daerah, puluhan ribu kader
dan massa menghadirinya, tanpa ada imbalan uang atau kaos," katanya.
Namun, kehadiran puluhan ribu
massa kampanye PKB itu, justru sedikit di ekspos oleh media.
"Tidak jadi masalah media
tidak mengeksposnya, karena kita (PKB) juga tak perlu media," kata Gus Dur
dengan gaya bicaranya yang lugas dan ceplas-ceplos itu.
Padahal, kata Gus Dur lebih
lanjut, persoalan PKB menang atau tidak bukan menjadi ukuran, karena yang jelas
PKB sebagai partai terbuka dan bukan partai Islam selalu dirindukan banyak
orang seperti di Papua, Bengkulu, dan Tapanuli.
Perjuangkan demokrasi
Pada sisi orasi politiknya, Gus
Dur juga menyatakan bila PKB menang pada Pemilu 2004, yang utama diperjuangkan
adalah soal demokrasi Indonesia yang sampai saat ini tidak berjalan.
Demkorasi itu, akan mencakup
beberapa bidang seperti kedaulatan hukum, yang artinya siapa yang melanggar
hukum akan mendapat akibatnya, serta hukum itu sendiri memperlakukan sama semua
orang tanpa pandang bulu itu pejabat, pengusaha, dan rakyat kecil.
"Sekarang ini yang punya uang
tidak tersentuh hukum, namun bila ada orang kecil di desa atau kampung yang
nyolong ayam justru dipenjarakan, itu namanya tak adil dalam penegakkan
hukum," katanya menjelaskan.
Kemudian soal terorisme harus
diberantas habis yang saat ini gagal dilakukan pemerintah Indonesia.
"Kegagalan Indonesia
memberantas habis terorisme itu, karena kepemimpinan yang tak jelas siapa yang
dipimpinya," katanya lagi.
Lalu soal pembayaran utang luar
negeri, PKB bertekad jika menang pada Pemilu dan berhasil memimpin bangsa Indonesia,
akan meminta lembaga keuangan/moneter internasional (IMF) memberi kelonggaran
waktu lima tahun untuk mencicil utang.
"Lima tahun saja kita bisa
mencicil lunas utang luar negeri itu, caranya mudah Indonesia untuk selama itu
tak perlu melakukan pembelian barang dan kebutuhan dari luar negeri, cukup
dengan barter barang saja dengan luar negeri," demikian Gus Dur.
Gus Dur vs ”Penyakit Nalar Arab”
Pada
dasarnya demokrasi bukan hanya menyangkut sistem politik pada tingkat negara.
Lebih dari itu demokrasi juga mencakup kehidupan keseharian masyarakat. Proses
demokrasi harus tercermin dalam interaksi antar kelompok dan golongan dalam
masyarakat. Pola kehidupan keluarga, bahkan hubungan antar individu harus
didasarkan pada sistem demokrasi. Artinya demokratisasi harus dimulai dari
ruang terkecil dalam interaksi masyarakat.
Pada tataran individu, struktur relasi kekuasaan juga menentukan esensi dan
kualitas demokrasi level di atasnya, yaitu masyarakat dan negara. proses
demokrasi akan berlangsung lebih baik jika setiap individu memiliki pengetahuan
yang memadai tentang nilai-nilai demokrasi. Kedua tataran inilah yang
menentukan karakteristik demokrasi modern, yang oleh Huntington disebut sebagai
demokrasi yang mendasarkan pada negara-kebangsaan.
Sebagai tokoh pendiri Forum Demokrasi Gus Dur merupakan seorang pejuang
demokrasi yang sangat konsisten. Ia mencita-citakan terciptanya tatanan
masyarakat dunia yang dapat saling berdiri sejajar tanpa harus terdistorsi oleh
ruang-ruag kesukuan maupun keagamaan. Di sini pandangannya menjadi menarik
mengingat ia adalah juga seorang tokoh agama terkemuka, pemimpin lima puluh
juta penganut agama yang sangat fanatik dan cenderung sinkretis.
Peraih Ramon Magsaysay ini tentunya hafal di luar kepala bahwa Rasulullah
pernah menyatakan ”Islam unggul dan tidak dapat diungguli”, namun ia menolak
angapan Islam tidak memerlukan pandangan dari luar untuk megatur kehidupan
karena dapat berarti pihak luar mempunyai keunggulan melebihi Islam. Ia
berpendapat keunggulan Islam terletak pada kemampuannya menerima nilai-nilai
dari ”luar” Islam. Nilai-nilai ”luar” inilah yang pada gilirannya dapat
mengembangkan gagasan Islam tentang pelbagai bidang kehidupan.
Gus Dur menerjemahkan demokrasi dari sisi historis dan menghadapkannya dengan
dua pilihan model, ”Barat” dan kuno. Model ”Barat” berdampak hilangnya jati
diri ketimuran bangsa Indonesia karena model ini lebih mementingkan pencapaian
kebebasan individu dan masyarakat secara penuh. Sementara strategi kuno
menghambat aspirasi masyarakat sebagai pihak yang seharusnya memegang
kedaulatan karena bentuk ini berkecenderungan menyerahkan segala-galanya kepada
penguasa.
Dengan mengamati kelemahan dua model yang saling bertolak belakang itu Gus Dur
mengajukan solusi yang disebutnya sebagai ”strategi ketiga”. Jalan tengah dari
dua kontradiksi ini diyakininya efektif mengiringi rekonsiliasi bangsa dan akan
mampu menutup ”babak kelam” bangsa Indonesia secara parsial. Demokratisasi
diharapkannya dapat berjalan semestinya dengan menghentikan tuntutan-tuntutan
yang melanggar kepentingan orang banyak.
Bila dibandingkan dengan konsep Teo-demokrasi milik al Maududi, tampak bahwa
jalan tengah yang ditawarkan Gus Dur memberikan harapan positif bila diterapkan
di Indonesia. Masyarakat Nusantara dengan pluralitasnya mempunyai watak mudah
melupakan hal-hal yang telah berlalu. Ciri dominan masyarakat jenis ini
cenderung menyukai hal-hal aktual. Guna mensiasati kecenderungan ini Gus Dur
telah mempersiapkan konsep negara maritim sebagai pengganti basis ekonomi
agraris. Sistem yang dimulai oleh Sultan Agung saat memimpin Mataram
dirasakannya sebagai sistem mandul. Terbukti kegagalan Mataram menyerang
Batavia karena menyia-nyiakan wilayah laut.
Teo-demokrasi merupakan penggabungan antara demokrasi an-sich dengan
sistem politik Islam. Di negara asalnya sendiri sistem ini kurang mendapat
angin karena pada dasarnya sistem ini hanya mensyaratkan legitimasi masyarakat
muslim kepada pemerintah atas pelbagai kebijakan publik, tanpa pernah memberi
kesempatan kepada masyarakat secara umum untuk bersaing secara terbuka dalam
konstelasi politik publik. Pakistan sebagai negara Islam selalu diwarnai
persengketaan politik yang berujung pada pertumpahan darah dan kudeta militer.
Sementara itu Gus Dur sangat menyadari bahwa gagasannya akan menuai banyak
kritikan. Bagi bangsa-bangsa yang telah lama merdeka dan mampu menerapkan
sistem demokrasi secara penuh, akan menganggap gagasan ini sebagai demokrasi
yang setengah-setengah. Menurutnya respon semacam ini tidak perlu ditanggapi
dengan respon ”keras”. Pengalaman berbeda setiap bangsa mengharuskan
masing-masing bangsa menempuh cara yang berbeda dalam mengapresiasi dan
mengaplikasikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bernegara.
Indonesia meskipun bukan ”negara agama” namun nilai-nilai normatif agama telah
menjadi satu tarikan nafas dengan dinamika penduduknya. Walaupun dalam banyak
hal demokrasi bertentangan dengan agama, tetap terdapat titik singgung yang
mempertemukan antara keduanya. Baik agama maupun demokrasi sama-sama
menginginkan terciptanya keselarasan hidup manusia dalam suatu tatanan yang
saling menghormati. Perbedaan mendasar adalah bahwa agama memiliki klaim
absolut atas kebenaran yang didasarkan pada sumber Kitab Suci. Sementara
demokrasi tidak mengharuskan adanya koridor paten nilai-nilai yang berlaku di
tengah-tengah masyarakat. Akibatnya kebenaran agama seringkali bertentangan
dengan nilai-nilai demokrasi, sehingga terciptalah sekat antara agama dan
demokrasi.
Untuk menyiasati kenyataan ini Gus Dur mencoba mengadakan transformasi
nilai-nilai agama. Selanjutnya agama akan meneruskan tranformasinya ke wilayah
ekstern. Upaya yang ditempuh adalah mengubah komitmen agama dari hanya
bersandar pada teks normatif kepada kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Karenanya Gus Dur berusaha untuk mempertemukan nilai-nilai keyakinan antar
agama di Indonesia dalam satu titik perjuangan martabat manusia. Ia berusaha
menundukkan keyakinan masing-masing agama dalam sebuah tataran baru hubungan
antaragama, yang dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan kemanusiaan.
Agama menurutnya akan dapat selaras dengan demokrasi jika memiliki watak
membebaskan. Islam hadir ke dunia untuk membebaskan manusia dari belenggu
”Jahiliyah”. Islam memberi kebebasan kepada umatnya untuk berkreasi menciptakan
peradaban yang lebih manusiawi. Agama apapun sama-sama mengemban misi perbaikan
kehidupan umat manusia melalui perubahan struktur masyarakat. Dengan tegas
Al-Qur’an menegaskan bahwa Muhammad diutus ke muka bumi untuk memberi rahmat
bagi seluruh alam. Membangun kesejahteraan semesta, bukan menindas
bangsa-bangsa.
Titik temu antara agama dan demokrasi inilah yang menurut Gus Dur harus
dikedepankan dalam membangan Indonesia masa mendatang. Potensi nalar agama akan
sanggup menopang perjuangan penegakan demokrasi di Nusantara. Sehingga pada
gilirannya proses demokratisasi tidak akan kehilangan ruh ketuhanannya. Tidak
terjebak dalam budaya menyimpang semacam hedonisme dan metrealisme.
Semua orang tentu menyadari bahwa tidak mudah mewujudkan demokrasi. Jack Snyder
bahkan menggambarkan satu kekuatiran atas gagalnya proses demokratisasi dengan
terjadinya conflict nationalist (konflik nasionalis). Ia menawarkan
resep yang menurutnya mampu menenggang perbedaan dan mengandorkan ketegangan
antar kelompok yang saling berebut kekuasaan dalam suatu wadah demokrasi.
”Doktrin bahwa sejumlah orang yang menganggap diri mereka berbeda karena
budaya, sejarah lembaga-lembaga atau prinsip mereka, seharusnyalah memerintah
diri sendiri dalam suatu sistem politik yang mencerminkan dan melindungi
perbedan itu.” (Jack Snyder, 2003)
Kyai yang
Sowan ke Cendana Kyai Kacangan
Mantan Ketua Umum
PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurahman Wahid atau sering dipanggil Gus Dur,
meminta pers jangan buru-buru mengambil kesimpulan tentang sowan sejumlah kyai
pengasuh Pondok Pesantren di Jawa Timur ke Cendana, karena mereka hanyalah kyai
kacangan.
"Siapa sih wong itu kyai
kacangan kok, nggak punya pengikut, pusing-pusing amat, orang mau silaturahmi
silakan saja," kata Gus Dur kepada Pers seusai berbicara dalam Konferensi
Internasional Cendekiawan Islam (International Conference of Islamic Scholars)
di Jakarta, Selasa.
Gus Dur mengatakan, silaturahmi
hanya merupakan bentuk hubungan antar sesama manusia yang kalau dirinya
diundang pun, maka juga akan datang.
"Saya kalau diundang ya
datang kok, kemarin saya di Kraton Solo dengan Wiranto dan Akbar Tandjung nggak
apa-apa itu hubungan biasa sebagai manusia," katanya.
Tetapi, lanjut dia, dirinya tetap
mempunyai pendirian dan tak akanterpengaruh siapapun.
"Jadi begitu juga kyai-kyai
itu, jangan-jangan mereka ke Pak Harto tetapi nggak menyebut pemilihan umum dan
lainnya, jadi jangan buru-buru mengambil kesimpulan ," katanya.
Para kyai yang "sowan"
ke Cendana untuk menemui mantan Presiden Soeharto itu antara lain KH Fawaid
As`ad, (Ponpes Asem Bagus), Gus Huda (Ponpes Cangak II Pasuruan) dan KH Hafid
(Ponpes Abdulqadir Jailani, Probolinggo).
Sementara itu, soal pendapat Ketua
PB NU Sholahuddin Wahid yang juga adik Gus Dur yang menyatakan bahwa pihaknya
tak akan mencalonkan Megawati sebagai Presiden mendatang karena telah gagal
memimpin bangsa keluar dari krisis dan prestasi buruk untuk keluar dari krisis,
Gus Dur mengatakan itu adalah pendapat Gus Shollah sendiri.
"Kalau dia berpendapat
seperti itu tentang Megawati itu kan pendapat dia, kan kalau orang lain banyak
mengikuti dia kan bukan salah dia," katanya.
Sedangkan tentang pendapatnya
sendiri, ia justru bertanya mengapa harus ia nyatakan.
"Kalau pendapat saya kenapa
harus saya nyatakan pendapat saya, apakah di sana tadi korupsi atau tidak saya
ngga boleh bicara karena saya akan mempengaruhi pendapat publik, ini soal
politik, penilaian terhadap pemerintahan Megawati," katanya.
NU dan Calon Presiden 2004
Nahdlatul Ulama, sebagaimana
Muhammadiyah, bukan organisasi politik. Meski demikian, kedua organisasi massa
ini senantiasa diperhitungkan dalam setiap momen politik penting. Menjelang
pemilihan presiden dalam Pemilu 2004, kedua organisasi ini sibuk mengatur
strategi guna mengambil peran dalam pemilu mendatang.
Muhammadiyah, misalnya, meski mendapat kritik dari kader-kader muda yang
tergabung dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), telah mengeluarkan
pernyataan dukungan kepada Amien Rais sebagai calon presiden. Dengan pernyataan
itu, Muhammadiyah bukan saja telah mengubah "politik garam" (high
politics) menjadi "politik gincu" (low politics), tetapi juga telah
menarik pusaran politik yang membuka peluang ketegangan dengan kelompok Islam
lain, terutama Nahdlatul Ulama (NU). Secara tidak disadari, dukungan itu
menghidupkan kembali rivalitas politik kelompok "modernis" dan
"tradisionalis" yang beberapa waktu sudah mencair.
Berbeda dengan Muhammadiyah, NU justru tidak pernah jelas mendukung siapa untuk
menjadi presiden. Kelompok-kelompok NU seperti "bola liar" yang bisa
dipermainkan oleh kepentingan politik lain. Kantong-kantong NU sangat rentan
dan mudah diombang-ambingkan oleh permainan politik. Mereka juga mudah
dimobilisasi untuk mendukung atau menolak sebuah manuver politik.
Menjelang pemilu dan pemilihan presiden 2004, kelompok-kelompok NU
"bermain" sendiri-sendiri tanpa ada "dirigen" yang mengatur
irama. Akibatnya, suara-suara sumbang tak beraturan muncul di sana-sini. Hasyim
Muzadi, Ketua Umum PBNU, bermain mata dengan Megawati Soekarnoputri, sekelompok
kiai NU berkunjung ke Cendana tanpa tujuan jelas, kelompok kiai yang lain
begitu intim dengan Hamzah Haz. Sementara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang
menjadi "sayap resmi" politik NU kian renggang dengan eksponen PBNU.
Jika pada Pemilu 1999 PBNU secara powerfull mendukung PKB, kini kemesraan itu
tinggal kenangan. Konsep kembali ke Khitah 1926 menjadi alasan kuat PBNU untuk
tidak mengeluarkan taushiyah mendukung PKB dalam Pemilu 2004. Bahkan, PBNU
mengingatkan PWNU Jawa Timur yang mengeluarkan taushiyah agar warga NU
dalam Pemilu 2004 mempertimbangkan hubungan historis dengan partai yang
"lahirnya difasilitasi NU" (Tempo, 23-29/2/2004).
PKB gesit membalas. Dalam rapat kerja nasional beberapa waktu lalu, PKB
mencoret nama Hasyim Muzadi (dan Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai calon
presiden (capres) yang sebelumnya disimpan dalam brankas, dan mengukuhkan KH
Abdurrahman Wahid sebagai satu-satunya capres PKB (Kompas, 24/2/2004). Itu
berarti, Hasyim Muzadi sudah kehilangan dukungan dalam lingkaran politik PKB.
Dengan keputusan itu, lengkaplah "perceraian" Hasyim Muzadi dengan
PKB.
Dengan konstelasi itu, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana peluang kekuatan
politik NU dalam pertarungan pemilihan presiden mendatang? Sampai di sini harus
ditegaskan, saya tidak hendak mendorong PBNU mengeluarkan taushiyah
untuk mendukung parpol atau capres tertentu. Concern utama tulisan ini adalah
bagaimana mengurangi tarikan politik dalam tubuh NU agar NU benar- benar
menjadi kekuatan civil society yang kokoh dan tak mudah dipermainkan berbagai
kepentingan. Tentu saja ini tidak mudah karena dalam tubuh NU telah mengalir
"darah politik" yang sedemikian kuat.
Darah politik inilah yang senantiasa mewarnai sejarah perjuangan NU. Dalam
rentang panjang, tujuan politik NU senantiasa berkisar pada tiga hal. Pertama,
menyalurkan dana pemerintah ke warga NU, terutama untuk meningkatkan fasilitas
pendidikan dan keagamaan.
Kedua, berusaha mendapat peluang bisnis dari pemerintah bagi NU dan
pendukungnya. Ketiga, mendapat kedudukan bagi warga NU dalam birokrasi (Greg
Fealy: 2003). Tarik-menarik kepentingan politik di lingkungan NU hingga kini
tidak bergeser dari tiga tujuan itu.
KETIKA mengadakan pertemuan dengan Megawati (sebagai presiden atau Ketua Umum
PDI-P) di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, beberapa waktu lalu, Hasyim Muzadi
mengemukakan, ada tiga kesepakatan antara keduanya. Pertama, sepakat pemilihan
umum harus diselenggarakan dengan sukses. Bila tidak, akan timbul akibat lebih
berat. Kedua, sepakat NU dan PDI-P mempunyai masyarakat yang sama, yaitu
masyarakat kecil, lemah, belum terdidik, dan sumber daya yang amat lemah.
Karena itu, harus ada program yang benar-benar menyentuh rakyat kecil. Ketiga,
sepakat NU bukan organisasi yang akan membicarakan satu per satu parpol, tetapi
melihat kepentingan masyarakat secara utuh berdasarkan wawasan keagamaan yang
disatukan wawasan kebangsaan (Kompas, 15/2/2004).
Sama sekali tidak ada yang salah dengan kesepakatan itu, bahkan demikianlah
seharusnya peran NU. Namun, bukan di situ problemnya. Tentu saja publik
bertanya, apakah kesepakatan kedua pihak hanya sampai di situ? Sulit dielakkan
bila pertemuan itu tidak mempunyai muatan politik apa pun. Pertemuan itu diduga
banyak kalangan sebagai penjajakan perihal kemungkinan paket politik capres dan
calon wakil presiden (wapres). Apalagi Hasyim Muzadi melemparkan gagasan
koalisi kekuatan "nasionalis" dan "religius". Hal itu kian
kuat sebagai indikasi bahwa Hasyim Muzadi mulai bermain mata dengan barisan
PDI-P.
Jika hal terakhir ini benar, di sinilah letak masalahnya. Menurut saya, Hasyim
Muzadi sudah benar saat sekuat tenaga berusaha untuk menjaga netralitasnya dari
pengaruh semua parpol. Sesuai semangat Khitah 1926, NU membebaskan warganya
untuk memilih parpol mana pun, dan NU secara institusional berdiri di atas
semua kekuatan parpol. PKB tentu kurang happy karena parpol ini yang
paling dirugikan dengan sikap itu. Sayang, momentum kerenggangan PBNU dengan
PKB dimanfaatkan Hasyim Muzadi untuk merapat ke dalam barisan PDI-P. Sikap ini
memicu kemarahan sebagian warga NU, bahkan KH Solahuddin Wahid, Ketua PBNU,
memberi warning kepada ketua umumnya.
Pernyataan Akbar Tandjung yang siap menjadi wakil presidennya Megawati jika dia
memenangi konvensi Golkar tidak bisa dilepaskan dari kemesraan Megawati dan
Hasyim Muzadi. Tandjung mencoba melemparkan "godaan politik" kepada
Megawati untuk menguji sejauh mana kesungguhannya melamar Ketua Umum PBNU itu. Suara
Golkar tentu lebih menjanjikan daripada NU, yang bukan saja terpecah dalam
berbagai parpol, tetapi juga harus "beradu otot" dengan Gus Dur yang
juga menjadi capres dengan dukungan mayoritas warga NU. Jika Megawati
terpancing dengan godaan Tandjung dan menjadi paket capres dan calon wapres,
maka Hasyim Muzadi akan berada dalam posisi sulit.
Hasyim Muzadi akan lebih terhormat bila dia tetap konsisten dengan garis
perjuangan khitah NU, dan tidak tergoda dengan rayuan politik. Kalau, misalnya,
mempunyai ambisi politik untuk menjadi calon wakil presiden, akan lebih elok
bila dinyatakan terus terang dan mundur dari Ketua Umum PBNU agar tidak terjadi
bias kepentingan dengan warga NU. Warga NU pasti akan senang bila para elitenya
tidak tercerai berai, apalagi saling menjatuhkan satu dengan yang lain.
Rumadi, Staf Peneliti Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM),
Mahasiswa S3 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
PKB Kembali Tegaskan Gandengkan Gus
Dur dengan SBY
Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB) kembali menegaskan akan menggandengkan mantan Menkopolkam, Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) dengan KH Abdurahman Wachid atau Gus Dur untuk memimpin
negara pada Pemilu 2004.
Pernyataan itu disampaikan Ketua
Lembaga Pemenangan Pemilu DPP PKB Dra Hj Chofifah Indar Parawansa yang juga
Ketua Umum PP Muslimat NU saat menghadiri kampanye PKB di Bojonegoro, Jatim,
Kamis (18/03).
"Terlalu egois jika
menyelesaikan masalah bangsa dikerjakan sendirian, jadi perlu koalisi
strategis. Gus Dur sendiri sudah memberikan sinyal pada Susilo Bambang Yudoyono
(SBY)," katanya.
Menurut dia, SBY merupakan sosok
politisi yang tidak memiliki track record jelek. Karena itu, SBY dinilai
dapat mendampingi Gus Dur untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih.
"Sebab untuk mewujudkan
pemerintahan yang bersih, diperlukan orang-orang atau politisi yang bersih
pula. Dengan demikian, jika presiden dan wakilnya dipegang oleh orang-orang
yang benar anti korupsi dan juga tidak cacat sebagai politisi busuk, Insya
Allah akan membawa kemajuan bagi negara," katanya.
Ketika ditanya apakah pertimbangan
menggandeng SBY itu sekedar memanfaatkan peseteruan antara SBY dengan Megawati
sebagai presiden untuk kepentingan mengumpulkan suara, Chofifah mengelak.
"Bukan itu yang menjadi
pertimbangannya, Gus Dur menggandeng SBY itu lebih didasarkan pada kepribadian
beliau. Jadi sangat kecil kalau hanya menghitung-hitung dan memanfatkan
perseteruan antara SBY dengan Megawati," ujarnya.
Sementara ketika disinggung
munculnya kembali orde baru, Chofifah mengatakan, itu sangat mungkin, apalagi
jika terjadi koalisi PDIP dengan Partai Golkar dalam pesta pemilu 2004, maka
akan menghidupkan kembali orde baru yang berarti reformasi akan terkubur.
"Kalau PDIP koalisi dengan
Golkar, orba akan hidup kembali dan itu berarti reformasi wassalam
(terkubur)," katanya.
Sebab, lanjutnya, selama ini visi
reformasi dari PDIP tidak diperlihatkan dan visi Golkar sendiri dengan
paradigma barunya juga belum kita lihat. Justru dalam kasus bebasnya Akbar
Tanjung dari jeratan hukum, menunjukkan intervensi kekuasaan terhadap hukum
masih tinggi
Tarik Ulur Pencalonan Gus Dur
Sejarah
berulang di kediaman KH Abdullah Abbas, kompleks Pesantren Buntet, Cirebon.
Lima tahun lalu, KH Abdurrahman Wahid, yang datang ke pesantren itu bersama
"lokomotif reformasi" Prof. Amien Rais, ditahbiskan sebagai calon
presiden atas restu kiai khos ini. Selasa lalu, 30-an kiai terkemuka sepakat
pula mengukuhkan lagi Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden dalam Pemilu
2004. "Lima tahun lalu, setelah pertemuan di rumah yang
penuh barokah ini, Gus Dur terpilih sebagai presiden," kata KH Ibnu
Ubaidillah, pemimpin sidang para ulama itu. "Setelah pertemuan lagi ini,
kami berdoa semoga Gus Dur terpilih kembali," begitu pengasuh Pesantren
Arjawinangun, Cirebon, ini menambahkan. Acara itu sendiri bertajuk
"Musyawarah Ulama Khos se-Indonesia".
Tampak hadir kiai dari jajaran Mustasyar (penasihat)
dan Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dari unsur Mustasyar,
selain KH Abdullah Abbas, tampak KH Abdullah Faqih (Langitan, Tuban), Tuan Guru
H. Turmudzi Badruddin (Lombok), KH Sanusi Baco (Makassar), dan KH Syekh Muchtar
Muda Nasution (Medan). Gus Dur sendiri baru tiba setelah makan siang.
Kalangan Syuriyah diwakili oleh KH Fachruddin Masturo
(Sukabumi) dan KH Fuad Hasyim (Buntet). Ada pula kiai yang aktif di Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB). "Namun mereka hadir dalam kapasitas
pribadi," kata Ibnu Ubaidillah, yang Ketua Dewan Syuro PKB Jawa Barat itu.
Pertemuan itu menghasilkan tiga kesimpulan. Salah
satunya, penahbisan Gus Dur itu. Namun butir ini diberi klausul tambahan,
"Pada saat Gus Dur berhalangan atau terganjal persyaratan calon presiden,
maka Gus Dur sebaiknya menunjuk penggantinya."
Para kiai ini akan kembali bermusyawarah setelah
pemilu legislatif nanti, untuk memastikan siapa sang calon pengganti itu bila
diperlukan. Ibnu sempat mengusulkan agar nama pengganti diputuskan sekalian.
"Saya sudah menyiapkan kertas suara untuk voting," katanya. Namun
niat itu urung dilaksanakan setelah melewati debat alot.
Ibnu mengakui, klausul pengganti itu bisa
mengakomodasi "aspirasi lain" di lingkungan NU. Maklumlah, Selasa
pekan lalu, Gerakan Pemuda Ansor mengajukan kriteria, calon presiden yang
diidamkan adalah yang belum pernah menjabat presiden. Maksudnya, tentu bukan
Gus Dur. "Kami sudah lama menyuarakan kriteria itu," kata Maskud
Chandranegara, Wakil Sekretaris Jenderal Pemuda Ansor. Namun sinyalemen ini
ditepis oleh Zuhdi Muhdlor, Pelaksana Harian Ketua Umum Ansor. "Itu hanya
wacana, pada akhirnya Ansor akan ikut PBNU," kata Zuhdi.
Sebelumnya, sempat muncul "Kaukus Seribu
Kiai" yang bertemu di Batu Ceper, Tangerang, Oktober 2003. Mereka
mempertanyakan kepemimpinan Gus Dur. Yang lebih genting bergulir menjelang Musyawarah
Kerja Nasional PKB, Mei 2003. Para tokoh Pengurus Wilayah NU berkumpul di Hotel
Sahid Jaya dan meminta PKB mempertimbangkan Hasyim Muzadi sebagai calon
presiden.
Sejak itu, hubungan Gus Dur-Hasyim meregang. Namun
pertemuan Buntet mengubah situasi di tubuh NU. Sikap Gus Dur melunak.
"Beliau cuma menegaskan, polemiknya dengan Pak Hasyim harus
diakhiri," kata Ibnu. Gus Dur sendiri menyatakan hal serupa. "Saya
menganggap Pak Hasyim tokoh NU yang harus dihormati, tidak ada masalah. Lagi
pula, Pak Hasyim ngomong di beberapa tempat ia tak mau dicalonkan," kata
Gus Dur.
Toh, Ahmad Bagdja, salah satu ketua di PBNU, menilai
kesepakatan Buntet itu masih sebagai sikap pribadi. Meski pesertanya banyak
pengurus PBNU, menurut dia, belumlah mencerminkan sikap PBNU. "Dukungan
kepada calon presiden adalah keputusan partai politik, bukan PBNU," kata
mantan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung ini.
Apakah sikap Buntet ini pertanda mulai mengerucutnya
dukungan para kiai NU pada Gus Dur? "Jelas tidak," kata KH Cholil Bisri.
Wakil Ketua Dewan Syuro PKB ini belakangan dikenal kerap menggalang para kiai
yang kritis pada Gus Dur. Kiai Cholil menyoal tidak diundangnya sejumlah ulama
penting. Misalnya KH Ilyas Rukhiyat (Tasikmalaya), KH Mustofa Bisri (Rembang),
KH Mas Subadar (Pasuruan), dan KH Sahal Mahfudz (Pati). Kiai Sahal hari itu
malah bertemu Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
"Saya ketawa mendengar keputusan itu. Pesan saya,
jangan sampai disengat kalajengking dua kali pada lubang yang sama," kata
Cholil. Maksudnya, jangan mengulang dua keputusan Buntet lima tahun silam?
"Silakan tafsirkan sendiri!" ujarnya sambil terkekeh.
Asrori S. Karni dan Hendri Firzani [Nasional, GATRA, Edisi 18 Beredar Jumat 12 Maret
2004]