Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Racun atau virus ternyata tak
hanya menyerang tubuh kita saja. Hati kita dalam artian maknawi pun ternyata
bisa juga kesusupan makhluk yang berbahaya ini. Bedanya, kalau racun dan virus
yang menyerang tubuh segera kita rasakan pengaruhnya dan tentu segera kita
waspada, misalnya dengan membuang sumber racun yang ada. Namun kalau hati kita
yang kena racun, kita sering tak sadar kalau telah keracunan. Bahkan mungkin
sebagian besar kita tak tahu apa itu racun atau virusnya hati. Dokter di rumah
sakit pun tak bisa mendiagnose atau jangan-jangan dokternya pun kena racun atau
virus itu pula…
Jelasnya, racun hati berbeda
dengan racun yang menyerang tubuh. Ia lebih gawat karena mengancam kelangsungan
hidup pada dua kehidupan , yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Beberapa racun
hati yang mesti diwaspadai adalah:
Terlampau Banyak Bicara
Lidah kita sebenarnya bentuknya
hanya kecil, namun ternyata ia punya daya rusak yang sangat hebat bila tidak
dipelihara dengan syariat. Pertengkaran, permusuhan , kebencian, perceraian,
bahkan peperangan bisa berlangsung akibat tidak terkendalinya kata-kata yang
dimainkan oleh lidah. Di zaman kita, realita membuktikan bagaimana kerusakan
yang ditimbulkan dari aktivitas "terlampau banyak bicara". Fitnah,
adu domba, menggunjing (Ghibah) bergaung di berbagai penjuru. Tak heran apabila
aktivitas ini pula yang terbanyak memasukkan orang kedalam api neraka seperti
sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam : "Dua lubang yang terbanyak
memasukkan manusia ke dalam neraka, yaitu mulut dan kemaluan" (HR
shahihain)
Kadang orang berucap tanpa ia
pikirkan terlebih dahulu dan ia anggap hal yang sangat sepele namun berakibat
ia terpuruk di api neraka. Dan kini majelis-majelis seperti ini laku dan banyak
diminati oleh masyarakat. Beragam dosa lahir dari aktivitas ini, maka ia pula
yang merupakan racun berbahaya yang mesti diwaspadai. Bagi seorang muslim hanya
ada 2 pilihan saja yaitu berkata-kata yang baik atau diam.
Memandang hal-hal yang
diharamkan
Pandangan yang haram akan
membekaskan bayangan di dalam hati kita terhadap apa-apa yang kita pandang.
Syaitan pun segera bermain di sana, dengan membikin hiasan-hiasan indah pada
bayangan tersebut. Akibatnya akan lahir kejelekan-kejelekan yang banyak di hati
kita. Sebenarnya ada muatan apa pada pandangan yang diharamkan itu…?
1.Pandangan
adalah panah yang dillepaskan oleh iblis. Ketika seseorang tak menjaga
pandangannya niscaya panah-panah iblis segera menancap di dalam hatinya, dan
membuat luka yang menganga.
2.Syaitan
masuk bersama pandangan yang diharamkan.
3.Menyibukkan
hati untuk memikirkan apa yang dipandang. Hati pun lalai untuk memikirkan
kesehatan dan kebaikan hati. Akhirnya, kacau balaulah segala urusannya,karena
mengikuti hawa nafsunya.
4.Mengumbar
pandangan merupakan kemaksiatan kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kepada
laki-laki dan perempuan muslimah untuk menjaga pandangannya : "Katakan
kepada laki-laki yang beriman agar menundukkan pandangannya dan menjaga
kehormatan mereka, yang demikian itu lebih suci dan bersih bagi mereka"
(QS An Nur : 30)
5.Mengumbar
pandangan menyebabkan kegelapan hati. Hal ini sebagaimana ditunjukkan Allah
setelah memerintahkan untuk menjaga panadangan dengan firmanNya : "Allah
adalah cahaya langit dan bumi"
6.Mengumbar
pandangan membutakan hati dari membedakan antara kebenaran dengan kebatilan.
Dan barangsiapa yang menundukkan pandangan karena Allah maka ia akan memperoleh
firasat yang benar.
Kebanyakan Makan
Sederhana dalam hal makan
berkorelasi dengan kelembutan hati, kekuatan pemahaman, kelembutan jiwa
kelemahan hawa nafsu dan amarah. Adapun berbanyak makan akan menyebabkan hal
yang berlawanan dengan hal di atas.
"Tidaklah bani Adam memenuhi
suatu wadah yang lebih jelek daripada perutnya. Cukup baginya menegakkan tulang
punggungnya, bila tidak maka hendaknya ia mengisi sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya" (HR. Ahmad)
Berlebihan dalam hal makan
mengundang sedemikian banyak kejelekan, karena akan menggerakkan badan untuk
berbuat maksiat, memperberat ketaatan dan ibadah. Kita dapati dalam realita,
betapa banyak maksiat terjadi karena kebanyakan makan. Diakhir poin ini,
seorang ulama salaf mengisahkan tentang seseorang yang menasehati pemuda ahli
ibadah di kalangan bani israil Janganlah kalian banyak makan, minum dan tidur
yang mengakibatkan kalian banyak merugi.
Terlalu banyak bergaul
Pergaulan yang tidak didasari
dengan syariat, akan menimbulkan kerusakan yang besar. Kasus yang banyak
terjadi, seseorang yang semula shalih, berubah total menjadi penjahat yang luar
biasa rusak karena pengaruh pergaulan yang tidak islami. Maka bagi setiap
muslim hendaknya memperhatikan siapa yang akan dia jadikan kawan dekatnya yang
selalu ia pergauli. (Tazkiyatun Nafs Dr. Ahmad Farid)
[Dievalusi dengan menggunakan
perangkat elektronik]
Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United
States of America)
Ada menyeruak perhatian yang
begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam
Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama
ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada
manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan,
atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an
dalam pengulangan-pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida.
Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada
organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini
menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk
mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka
mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap
sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa
Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa
berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa
berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden
tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian
dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini
diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97%
percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat
pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada
syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku
presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di
Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus
1984.
Dan benar-benar terlihat pada
penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur'an yang kentara pada penurunan tekanan
syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah
suara beberapa ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya
adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga
kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat
Al-Qur'an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat
makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dalam Bahasa
Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah
penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan
apakah terdapat dampak Al-Qur'an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat
bacaan Al-Qur'an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur'an semisal suara
atau lirik bacaan Al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang
diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian
komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa
"Kata-kata dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya
bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur'an . Dan penelitian ini semakin
menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah
perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan
komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan
dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di
Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan
adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas
secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi
perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan
menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Subsekuen:
1.Program komputer yang mengandung pengaturan
pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2.Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk,
layar monitor dan printer.
3.Perangkat monitoring elektronik yang terdiri
atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang
diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk
memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor
besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu
badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik
dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya
cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel
listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah
yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu
ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini,
menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan.
Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat
jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung.
Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil
pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang
digunakan:
Percobaan dilakukan selama 210
kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40
tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut
adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah
dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali,
sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden
kalimat Al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa
kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada
bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur'an) disejajarkan dengan
bacaan Al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan
responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur'an selama 40 uji-coba. Dan selama
diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam.
Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan
berbahasa Arab bukan Al-Qur'an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan
berbahasa Arab bukan Al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk
mirip seperti Al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan
Al-Qur'an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan tujuannya
adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada
orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat),
maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab
yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum
diperdengarkan satu ayat Al-Qur'an kepada responden, maka tujuannya adalah
untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang
rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan
dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam
serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan
ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir
pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur'an dan bacaan
bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur'an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah
dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur'an,
kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur'an dan seterusnya atau sebaliknya
secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa
bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur'an dan bukan Al-Qur'an, akan
tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur'an dan
mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada
setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel
yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan
perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan
listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor
dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan
pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama
percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase
energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal
percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.
Dan sebab kami mengutamakan
metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output
angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan
akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan
satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang
positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi
listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi
ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan
responden tersebut ketika duduk.
Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan
bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada
otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak
ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada
responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.
Pada sejumlah responden, mungkin
akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap
mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak
dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh
data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian
dan Kesimpulan
Sungguh sudah terlihat jelas
hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada penelitian terdahulu
bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf.
dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah,
sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada
otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit
karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak
jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini
menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara
langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan
sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya)
terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an
yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui
oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada
dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol
atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena
itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan
menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina
tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini
sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga, hasil uji coba penelitian
ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh
fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila
disertai dengan mengetahui maknanya.
Dan perlu untuk disebutkan disini
bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas
dan dengan responden yang juga terbatas.
(dikutip dari SEJARAH HIDUP
MUHAMMAD oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL)
PENDAPAT MUIR
Sebenarnya apa yang diterangkan
kaum Orientalis dalam
hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh Sir
William Muir dalam The Life of
Mohammad supaya mereka yang
sangat berlebih-lebihan dalam
memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang biasanya
menerima begitu saja apa
yang dikatakan orang
tentang pemalsuan dan perubahan Qur'an itu, dapat melihat
sendiri. Muir adalah seorang penganut Kristen yang teguh dan yang juga
berdakwah untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan setiap kesempatan melakukan
kritik terhadap Nabi dan Qur'an,
dan berusaha memperkuat kritiknya.
etika bicara tentang Qur'an
dan akurasinya yang
sampai kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:
"Wahyu Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca
beberapa ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang
bersifat umum atau
khusus. Melakukan pembacaan ini adalah wajib dan sunah, yang dalam arti
agama adalah perbuatan baik yang
akan mendapat pahala
bagi yang melakukannya. Inilah sunah pertama yang sudah merupakan
konsensus. Dan itu pula yang
telah diberitakan oleh
wahyu. Oleh karena itu yang hafal
Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu
banyak sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka pada
awal masa kekuasaan Islam itu ada
yang dapat membaca sampai pada
ciri-cirinya yang khas.
Tradisi Arab telah membantu pula
mempermudah pekerjaan ini. Kecintaan
mereka luar biasa besarnya. Oleh karena untuk memburu segala
yang datang dari para
penyairnya tidak mudah
dicapai, maka seperti dalam
mencatat segala sesuatu
yang berhubungan dengan nasab
keturunan dan kabilah-kabilah mereka,
sudah biasa pula mereka
mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran hati mereka sendiri. Oleh
karena itu daya
ingat (memori) mereka tumbuh
dengan subur. Kemudian pada masa
itu mereka menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup.
Begitu kuatnya daya
ingat sahabat-sahabat Nabi,
disertai pula dengan kemauan yang
luar biasa hendak
nnenghafal Qur'an, sehingga mereka,
bersama-sama dengan Nabi dapat mengulang kembali dengan
ketelitian yang meyakinkan sekali segala
yang diketahui dari
pada Nabi sampai pada waktu mereka membacanya
itu."
"Sungguhpun dengan tenaga
yang sudah menjadi ciri khas daya
ingatnya itu, kita
juga bebas untuk
tidak melepaskan kepercayaan
kita bahwa kumpulan
itu adalah satu-satunya sumber. Tetapi ada alasan kita
yang akan membuat kita yakin, bahwa sahabat-sahabat Nabi menulis
beberapa macam naskah selama
masa hidupnya dari
berbagai macam bagian
dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an
itu ditulis. Pada
umumnya tulis-menulis di
Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan
Muhammad. Tidak hanya seorang
saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat
itu. Tawanan perang Badr
yang dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh
sebelum masa kerasulan Muhammad. Tidak hanya
seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan
surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat
mengajarkan tulis-menulis
kepada kaum Anshar
di Medinah, sebagai imbalannya mereka
dibebaskan. Meskipun penduduk
Medinah dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak
juga di
antara mereka yang
pandai tulis-menulis sejak sebelum
Islam. Dengan adanya kepandaian
menulis ini, mudah saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa ayat-ayat yang dihafal
menurut ingatan yang sangat teliti itu, itu juga yang
dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."
"Kemudian kitapun
mengetahui, bahwa Muhammad telah
mengutus seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah
menganut Islam, supaya mengajarkan
Qur'an dan mendalami agama. Sering
pula kita membaca, bahwa ada utusan-utusan yang pergi
membawa perintah tertulis
mengenai masalah-masalah
agama itu. Sudah tentu mereka membawa apa yang diturunkan
oleh wahyu, khususnya
yang berhubungan dengan upacara-upacara dan peraturan-peraturan Islam serta apa yang
harus dibaca selama melakukan ibadat."
PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN
NABI
"Qur'an sendiripun
menentukan adanya itu
dalam bentuk tulisan. Begitu
juga buku-buku sejarah
sudah menentukan demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya
Umar, tentang adanya sebuah
naskah Surat ke-20
[Surah Taha] milik saudaranya yang perempuan dan
keluarganya. Umar masuk Islam tiga atau
empat tahun sebelum
Hijrah. Kalau pada masa permulaan Islam wahyu itu ditulis
dan saling dipertukarkan, tatkala jumlah
kaum Muslimin masih sedikit dan mengalami pelbagai macam
siksaan, maka sudah dapat dipastikan sekali,
bahwa naskah-naskah tertulis itu sudah
banyak jumlahnya dan sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai
puncak kekuasaannya dan kitab
itu sudah menjadi
undang-undang seluruh bangsa Arab."
BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA
NABI
"Demikian halnya Qur'an itu
semasa hidup Nabi, dan demikian juga halnya
kemudian sesudah Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum mukmin.
Berbagai macam bagiannya
sudah tercatat belaka dalam
naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua
sumber itu sudah seharusnya benar-benar cocok.
Pada waktu itu pun Qur'an sudah
sangat dilindungi sekali, meskipun
pada masa Nabi
masih hidup, dengan keyakinan
yang luarbiasa bahwa
itu adalah kalam Allah. Oleh
karena itu setiap
ada perselisihan mengenai isinya, untuk
menghindarkan adanya perselisihan demikian itu, selalu dibawa
kepada Nabi sendiri. Dalam hal ini
ada beberapa contoh pada
kita: 'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin
Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi
wafat, bila ada perselisihan,
selalu kembali kepada
teks yang sudah tertulis dan kepada
ingatan sahabat-sahabat Nabi
yang terdekat serta penulis-penulis wahyu."
PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH
PERTAMA
"Sesudah selesai
menghadapi peristiwa Musailima
- dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah menyebabkan
kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang
telah menghafal Qur'an dengan baik. Ketika
itu Umar merasa kuatir
akan nasib Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan
menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka
yang telah menyimpannya dalam
ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia
pergi menemui Khalifah Abu Bakr dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali
pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal
Qur'an itu akan
terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak
lagi dari mereka yang akan
hilang. Menurut hemat
saya, cepat-cepatlah kita bertindak
dengan memerintahkan pengumpulan
Qur'an."
"Abu Bakr segera menyetujui
pendapat itu. Dengan
maksud tersebut ia berkata
kepada Zaid bin Thabit, salah seorang Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau
pemuda yang cerdas dan saya
tidak meragukan kau. Engkau
adalah penulis wahyu pada Rasulullah
s.a.w. dan kau
mengikuti Qur'an itu;
maka sekarang kumpulkanlah.''
"Oleh karena
pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar dugaan, mula-mula Zaid
gelisah sekali. Ia masih
meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain
melakukannya. Akan tetapi akhirnya
ia mengalah juga
pada kehendak Abu Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai
berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan surah-surah
dan bagian-bagiannya dari segenap
penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di
atas batu putih, dan
yang dihafal orang.
Setengahnya ada yang menambahkan, bahwa dia juga
mengumpulkannya dari yang
ada pada lembaran-lembaran, tulang-tulang
bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."
"Ia melakukan itu selama dua
atau tiga tahun terus-menerus,
mengumpulkan semua bahan-bahan
serta menyusun kembali seperti yang ada sekarang ini, atau
seperti yang dilakukan Zaid sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad,
demikian orang mengatakan. Sesudah
naskah pertama lengkap
adanya, oleh Umar itu
dipercayakan penyimpanannya
kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang sudah
dihimpun oleh Zaid ini
tetap berlaku selama khilafat
Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.
"Tetapi kemudian terjadi
perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah
Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam
naskah-naskah itu yang disalin
dari naskah Zaid.
Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu yang
didatangkan dari langit
itu "satu," lalu dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang
pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan,
juga melihat adanya perbedaan
Qur'an orang Suria dengan orang Irak."
MUSHAF USMAN
"Karena banyaknya
dan jauhnya perbedaan
itu, ia merasa gelisah sekali. Ketika
itu ia lalu meminta agar Usman turun
tangan. "Supaya jangan
ada lagi orang berselisih tentang
kitab mereka sendiri
seperti orang-orang Yahudi
dan Nasrani."
Khalifahpun dapat menerima
saran itu. Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid
bin Thabit dimintai bantuannya dengan
diperkuat oleh tiga orang dari
Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha lalu
dibawa, dan cara membaca yang berbeda-beda dari seluruh
persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu
semuanya diperiksa kembali dengan pengamatan
yang luarbiasa, untuk
kali terakhir. Kalaupun Zaid
berselisih juga dengan ketiga sahabatnya
dari Quraisy itu, ia
lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut
logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu
itu diturunkan dengan
tujuh dialek Arab
yang bermacam-macam."
"Selesai dihimpun,
naskah-naskah menurut Qur'an
ini lalu dikirimkan ke seluruh kota persekemakmuran. Yang
selebihnya naskah-naskah itu dikumpulkan lagi
atas perintah Khalifah lalu dibakar. Sedang naskah yang
pertama dikembalikan kepada Hafsha."
PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN
"Maka yang sampai kepada
kita adalah Mushhaf Usman. Begitu cermat
pemeliharaan atas Qur'an itu,
sehingga hampir tidak kita dapati -bahkan
memang tidak kita
dapati- perbedaan apapun dari
naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang tersebar ke seluruh penjuru
dunia Islam yang
luas itu. Sekalipun akibat
terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad kemudian sesudah Muhammad wafat -
telah menimbulkan adanya kelompok-kelompok yang marah dan memberontak sehingga dapat
menggoncangkan kesatuan dunia Islam -
dan memang demikian adanya - namun Qur'an yang satu, itu juga yang
selalu tetap menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang hanya mengenal satu kitab itu ialah bukti
yang nyata sekali, bahwa apa yang ada di depan kita sekarang ini tidak
lain adalah teks yang
telah dihimpun atas perintah Usman yang malang itu.
"Agaknya di seluruh dunia
ini tak ada sebuah kitabpun selain Qur'an
yang sampai empatbelas abad
lamanya tetap lengkap dengan teks
yang begitu murni dan cermatnya.
Adanya cara membaca yang
berbeda-beda itu sedikit sekali
untuk sampai menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya terbatas hanya pada
cara mengucapkan huruf
hidup saja atau pada
tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya
timbul hanya belakangan saja
dalam sejarah, yang
tak ada hubungannya dengan Mushhaf Usman."
"Sekarang, sesudah
ternyata bahwa Qur'an
yang kita baca ialah
teks Mushhaf Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah
kita bahas lagi:
Adakah teks ini
yang memang persis bentuknya seperti
yang dihimpun oleh Zaid sesudah adanya persetujuan
menghilangkan segi perbedaan dalam cara
membaca yang hanya sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula
penting itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali, bahwa memang
demikian. Tidak ada dalam
berita-berita lama atau yang patut
dipercaya yang melemparkan
kesangsian terhadap Usman sedikitpun,
bahwa dia bermaksud mengubah Qur'an guna memperkuat
tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah kemudian
menuduh bahwa dia mengabaikan beberapa ayat yang
mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat diterima akal. Ketika
Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan pihak Alawi (golongan
Mu'awiya dan golongan
Ali) belum terjadi sesuatu
perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam masa itu
benar-benar kuat tanpa
ada bahaya yang mengancamnya. Di
samping itu juga
Ali belum melukiskan tuntutannya
dalam bentuknya yang lengkap. Jadi tak
adalah maksud-maksud
tertentu yang akan
membuat Usman sampai melakukan pelanggaran yang akan sangat
dibenci oleh kaum Muslimin
itu. Orang-orang yang
memahami dan hafal benar
Qur'an seperti yang
mereka dengar sendiri
waktu Nabi membacanya mereka
masih hidup tatkala Usman mengumpulkan Mushhaf itu.
Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan
Ali itu sudah ada,
tentu terdapat juga
teksnya di tangan pengikut-pengikutnya yang banyak itu.
Dua alasan ini
saja sudah cukup untuk menghapus
setiap usaha guna menghilangkan ayat-ayat
itu. Lagi pula,
pengikut-pengikut Ali sudah berdiri sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka
mengangkat Ali sebagai Pengganti."
"Dapatkah diterima akal -
pada waktu kemudian mereka sudah memegang kekuasaan - bahwa mereka akan
sudi menerima Qur 'an yang sudah terpotong-potong, dan terpotong
yang disengaja pula untuk
menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun begitu mereka tetap membaca
Qur'an yang juga
dibaca oleh lawan-lawan mereka.
Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka akan menentangnya. Bahkan Ali
sendiripun telah memerintahkan supaya menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya.
Malah ada diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya dengan
tangannya sendiri."
"Memang benar
bahwa para pemberontak
itu telah membuat pangkal
pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan Qur'an lalu
memerintahkan supaya semua naskah
dimusnahkan selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada
langkah-langkah Usman dalam
hal itu saja,
yang menurut anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di balik
itu tidak seorangpun yang
menunjukkan adanya usaha mau mengubah atau menukar isi Qur'an. Tuduhan demikian
pada waktu itu adalah suatu usaha perusakan
terang-terangan. Hanya kemudian golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu untuk
kepentingan mereka sendiri."
"Sekarang kita dapat
mengambil kesimpulan dengan meyakinkan, bahwa Mushhaf Usman itu tetap
dalam bentuknya yang
persis seperti yang dihimpun
oleh Zaid bin Thabit, dengan
lebih disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu dengan dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan
jauh-jauh bacaan-bacaan selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar di
seluruh daerah itu."
MUSHAF USMAN CERMAT DAN
LENGKAP
"Tetapi sungguhpun begitu masih ada suatu soal
penting lain yang terpampang di
depan kita, yakni:
adakah yang dikumpulkan oleh
Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya dan lengkap
seperti yang diwahyukan
kepada Muhammad?
Pertimbangan-pertimbangan di bawah
ini cukup memberikan keyakinan, bahwa itu adalah
susunan sebenarnya yang
telah selengkapnya dicapai waktu itu:"
"Pertama -
Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan Abu Bakr. Sedang Abu
Bakr seorang sahabat yang
jujur dan setia kepada Muhammad.
Juga dia adalah orang yang sepenuhnya beriman pada kesucian sumber Qur'an,
orang yang hubungannya begitu erat
sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun terakhir dalam hayatnya,
serta kelakuannya dalam
khilafat dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari
gejala ambisi, sehingga baginya memang tak
adalah tempat buat mencari
kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa yang diwahyukan kepada
kawannya itu adalah wahyu dari Allah, sehingga
tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu itu semua dalam
keadaan murni sepenuhnya."
Pernyataan semacam ini berlaku
juga terhadap Umar yang sudah menyelesaikan
pengumpulan itu pada
masa khilafatnya. Pernyataan
semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum Muslimin waktu
itu, tak ada perbedaan antara
para penulis yang membantu
melakukan pengumpulan itu,
dengan seorang mu'min biasa
yang miskin, yang memiliki wahyu
tertulis di atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu membawanya
semua kepada Zaid. Semangat
mereka semua sama,
ingin memperlihatkan kalimat-kalimat dan
kata-kata seperti yang dibacakan oleh
Nabi, bahwa itu adalah risalah
dari Tuhan. Keinginan mereka hendak
memelihara kemurnian itu
sudah menjadi perasaan semua
orang, sebab tak ada sesuatu yang
lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka
seperti rasa kudus yang
agung itu, yang
sudah mereka percayai
sepenuhnya sebagai firman Allah.
Dalam Qur'an terdapat peringatan-peringatan bagi
barangsiapa yang mengadakan kebohongan atas
Allah atau menyembunyikan sesuatu
dari wahyuNya. Kita tidak
akan dapat menerima, bahwa pada kaum Muslimin yang mula-mula
dengan semangat mereka
terhadap agama yang begitu
rupa mereka sucikan itu, akan terlintas pikiran yang akan membawa
akibat begitu jauh
membelakangi iman."
"Kedua -
Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga tahun sesudah Muhammad
wafat. Kita sudah melihat
beberapa orang pengikutnya, yang
sudah hafal wahyu
itu di luar kepala, dan setiap
Muslim sudah hafal sebagian, juga sudah ada
serombongan ahli-ahli Qur'an
yang ditunjuk oleh pemerintah dan dikirim ke segenap
penjuru daerah Islam guna
melaksanakan upacara-upacara dan
mengajar orang memperdalam agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu mata
rantai penghubung antara wahyu
yang dibaca Muhammad pada waktu itu dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum
Muslimin bukan saja bermaksud jujur
dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf itu, tapi
juga mempunyai segala
fasilitas yang dapat menjamin terlaksananya maksud
tersebut, menjamin
terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam
kitab itu, yang ada di tangan
mereka sesudah dengan teliti dan sempurna dikumpulkan."
"Ketiga - Juga kita
mempunyai jaminan yang
lebih dapat dipercaya tentang
ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni bagian-bagian Qur'an yang
tertulis, yang sudah
ada sejak masa Muhammad
masih hidup, dan
yang sudah tentu jumlah
naskahnyapun sudah banyak sebelum
pengumpulan Qur'an itu. Naskah-naskah demikian
ini kebanyakan sudah ada di
tangan mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa apa yang
dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan langsung dibaca
sesudah pengumpulannya. Maka logis
sekali kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam
bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka.
Oleh karena itu keputusan mereka semua sudah tepat pada
tempatnya. Tidak ada suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan,
bahwa para penghimpun itu
telah melalaikan sesuatu bagian, atau sesuatu ayat, atau kata-kata,
ataupun apa yang terdapat di dalamnya
itu, berbeda dengan
yang ada dalam Mushhaf yang sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian
ini memang ada, maka tidak bisa tidak tentu terlihat
juga, dan tentu dicatat pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat
itu; tak ada sesuatu yang diabaikan
sekalipun yang kurang penting."
"Keempat -
Isi dan susunan
Qur'an itu jelas
sekali menunjukkan cermatnya pengumpulan. Bagian-bagian yang bermacam-macarn disusun
satu sama lain
secara sederhana tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."
"Tak ada bekas tangan yang
mencoba mau mengubah
atau mau memperlihatkan keahliannya
sendiri. Itu menunjukkan adanya iman dan kejujuran sipenghimpun
dalam menjalankan tugasnya itu. Ia tidak berani lebih daripada
mengambil ayat-ayat suci itu seperti apa adanya, lalu
meletakkannya yang satu
di samping yang lain."
"Jadi kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan
meyakinkan sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu bukan
hanya hasil ketelitian saja,
bahkan - seperti beberapa kejadian menunjukkan - adalah juga lengkap,
dan bahwa penghimpunnya tidak bermaksud mengabaikan
apapun dari wahyu itu. Juga kita dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti
yang kuat, bahwa setiap
ayat dari Qur'an
itu, memang sangat teliti sekali dicocokkan seperti yang dibaca oleh
Muhammad."
Panjang juga kita mengutip
kalimat-kalimat Sir William Muir
seperti yang disebutkan
dalam kata pengantar The Life of
Mohammad (p.xiv-xxix) itu. Dengan apa yang sudah kita kutip itu
tidak perlu lagi
rasanya kita menyebutkan
tulisan Lammens atau Von Hammer
dan Orientalis lain
yang sama sependapat. Secara
positif mereka memastikan
tentang persisnya Qur'an yang kita baca sekarang, serta
menegaskan bahwa semua yang
dibaca oleh Muhammad adalah wahyu yang benar dan
sempurna diterima dari
Tuhan. Kalaupun ada sebagian kecil
kaum Orientalis berpendapat
lain dan beranggapan bahwa Qur'an
sudah mengalami perubahan, dengan tidak menghiraukan alasan-alasan logis
yang dikemukakan Muir dan sebagian besar
Orientalis, yang telah
mengutip dari sejarah Islam
dan dari sarjana-sarjana Islam,
maka itu adalah suatu dakwaan yang hanya didorong oleh
rasa dengki saja terhadap Islam
dan terhadap Nabi.
Betapapun pandainya
tukang-tukang tuduh itu
menyusun tuduhannya, namun mereka
tidak dapat meniadakan
hasil penyelidikan ilmiah yang
murni. Dengan caranya itu mereka takkan dapat menipu kaum Muslimin,
kecuali beberapa pemuda yang
masih beranggapan bahwa
penyelidikan yang bebas itu mengharuskan mereka mengingkari masa lampau
mereka sendiri, memalingkan muka
dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh kepalsuan yang indah-indah.
Mereka percaya kepada semua yang mengecam
masa lampau sekalipun
pengecamnya itu tidak mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan
sejarah.