This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, April 14, 2012

Racun Hati


RACUN HATI
Racun atau virus ternyata tak hanya menyerang tubuh kita saja. Hati kita dalam artian maknawi pun ternyata bisa juga kesusupan makhluk yang berbahaya ini. Bedanya, kalau racun dan virus yang menyerang tubuh segera kita rasakan pengaruhnya dan tentu segera kita waspada, misalnya dengan membuang sumber racun yang ada. Namun kalau hati kita yang kena racun, kita sering tak sadar kalau telah keracunan. Bahkan mungkin sebagian besar kita tak tahu apa itu racun atau virusnya hati. Dokter di rumah sakit pun tak bisa mendiagnose atau jangan-jangan dokternya pun kena racun atau virus itu pula…
Jelasnya, racun hati berbeda dengan racun yang menyerang tubuh. Ia lebih gawat karena mengancam kelangsungan hidup pada dua kehidupan , yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Beberapa racun hati yang mesti diwaspadai adalah:
 Terlampau Banyak Bicara
Lidah kita sebenarnya bentuknya hanya kecil, namun ternyata ia punya daya rusak yang sangat hebat bila tidak dipelihara dengan syariat. Pertengkaran, permusuhan , kebencian, perceraian, bahkan peperangan bisa berlangsung akibat tidak terkendalinya kata-kata yang dimainkan oleh lidah. Di zaman kita, realita membuktikan bagaimana kerusakan yang ditimbulkan dari aktivitas "terlampau banyak bicara". Fitnah, adu domba, menggunjing (Ghibah) bergaung di berbagai penjuru. Tak heran apabila aktivitas ini pula yang terbanyak memasukkan orang kedalam api neraka seperti sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam : "Dua lubang yang terbanyak memasukkan manusia ke dalam neraka, yaitu mulut dan kemaluan" (HR shahihain)
Kadang orang berucap tanpa ia pikirkan terlebih dahulu dan ia anggap hal yang sangat sepele namun berakibat ia terpuruk di api neraka. Dan kini majelis-majelis seperti ini laku dan banyak diminati oleh masyarakat. Beragam dosa lahir dari aktivitas ini, maka ia pula yang merupakan racun berbahaya yang mesti diwaspadai. Bagi seorang muslim hanya ada 2 pilihan saja yaitu berkata-kata yang baik atau diam.
Memandang hal-hal yang diharamkan
Pandangan yang haram akan membekaskan bayangan di dalam hati kita terhadap apa-apa yang kita pandang. Syaitan pun segera bermain di sana, dengan membikin hiasan-hiasan indah pada bayangan tersebut. Akibatnya akan lahir kejelekan-kejelekan yang banyak di hati kita. Sebenarnya ada muatan apa pada pandangan yang diharamkan itu…?
1.       Pandangan adalah panah yang dillepaskan oleh iblis. Ketika seseorang tak menjaga pandangannya niscaya panah-panah iblis segera menancap di dalam hatinya, dan membuat luka yang menganga.
2.       Syaitan masuk bersama pandangan yang diharamkan.
3.       Menyibukkan hati untuk memikirkan apa yang dipandang. Hati pun lalai untuk memikirkan kesehatan dan kebaikan hati. Akhirnya, kacau balaulah segala urusannya,karena mengikuti hawa nafsunya.
4.       Mengumbar pandangan merupakan kemaksiatan kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan muslimah untuk menjaga pandangannya : "Katakan kepada laki-laki yang beriman agar menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatan mereka, yang demikian itu lebih suci dan bersih bagi mereka" (QS An Nur : 30)
5.       Mengumbar pandangan menyebabkan kegelapan hati. Hal ini sebagaimana ditunjukkan Allah setelah memerintahkan untuk menjaga panadangan dengan firmanNya : "Allah adalah cahaya langit dan bumi"
6.       Mengumbar pandangan membutakan hati dari membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Dan barangsiapa yang menundukkan pandangan karena Allah maka ia akan memperoleh firasat yang benar.
 Kebanyakan Makan
Sederhana dalam hal makan berkorelasi dengan kelembutan hati, kekuatan pemahaman, kelembutan jiwa kelemahan hawa nafsu dan amarah. Adapun berbanyak makan akan menyebabkan hal yang berlawanan dengan hal di atas.
"Tidaklah bani Adam memenuhi suatu wadah yang lebih jelek daripada perutnya. Cukup baginya menegakkan tulang punggungnya, bila tidak maka hendaknya ia mengisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya" (HR. Ahmad)
Berlebihan dalam hal makan mengundang sedemikian banyak kejelekan, karena akan menggerakkan badan untuk berbuat maksiat, memperberat ketaatan dan ibadah. Kita dapati dalam realita, betapa banyak maksiat terjadi karena kebanyakan makan. Diakhir poin ini, seorang ulama salaf mengisahkan tentang seseorang yang menasehati pemuda ahli ibadah di kalangan bani israil Janganlah kalian banyak makan, minum dan tidur yang mengakibatkan kalian banyak merugi.
 Terlalu banyak bergaul
Pergaulan yang tidak didasari dengan syariat, akan menimbulkan kerusakan yang besar. Kasus yang banyak terjadi, seseorang yang semula shalih, berubah total menjadi penjahat yang luar biasa rusak karena pengaruh pergaulan yang tidak islami. Maka bagi setiap muslim hendaknya memperhatikan siapa yang akan dia jadikan kawan dekatnya yang selalu ia pergauli. (Tazkiyatun Nafs Dr. Ahmad Farid)

Percaya atau tidak cobalah sendiri...!!!
Kudus, 14 April 2012

Al Qu'an Untuk Kesehatan


Pengaruh Qur'an Terhadap Organ Tubuh
[Dievalusi dengan menggunakan perangkat elektronik]
Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America)
Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an dalam pengulangan-pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur'an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur'an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur'an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur'an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur'an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa "Kata-kata dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur'an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Subsekuen:
1.       Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2.       Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3.       Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan:
Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur'an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur'an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur'an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur'an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur'an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur'an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur'an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur'an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur'an dan bukan Al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur'an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.
Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.
Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan
Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.
Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.


MENURUT AHLI SEJARAH NON-MUSLIM
(dikutip dari SEJARAH HIDUP MUHAMMAD oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL)
PENDAPAT MUIR
Sebenarnya apa yang diterangkan kaum  Orientalis  dalam  hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh Sir William Muir dalam The Life of  Mohammad  supaya  mereka yang  sangat  berlebih-lebihan  dalam  memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang  biasanya  menerima  begitu saja   apa   yang  dikatakan  orang  tentang  pemalsuan  dan perubahan Qur'an itu, dapat  melihat  sendiri.  Muir  adalah seorang  penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan  setiap kesempatan  melakukan  kritik  terhadap Nabi dan Qur'an, dan berusaha memperkuat kritiknya.
etika bicara tentang  Qur'an  dan  akurasinya  yang  sampai kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:

"Wahyu  Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang bersifat  umum  atau  khusus. Melakukan pembacaan ini adalah wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik yang  akan  mendapat  pahala  bagi yang melakukannya. Inilah sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan  itu  pula yang  telah  diberitakan  oleh  wahyu.  Oleh karena itu yang hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu  banyak sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka pada awal masa kekuasaan Islam itu ada  yang  dapat  membaca sampai  pada  ciri-cirinya  yang  khas.  Tradisi  Arab telah membantu pula mempermudah pekerjaan  ini.  Kecintaan  mereka luar  biasa  besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang datang  dari  para  penyairnya  tidak  mudah  dicapai,  maka seperti  dalam  mencatat  segala  sesuatu  yang  berhubungan dengan nasab keturunan  dan  kabilah-kabilah  mereka,  sudah biasa  pula  mereka  mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran hati mereka sendiri. Oleh karena  itu  daya  ingat  (memori) mereka  tumbuh  dengan  subur. Kemudian pada masa itu mereka menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup. Begitu  kuatnya  daya  ingat  sahabat-sahabat Nabi, disertai pula  dengan  kemauan  yang  luar  biasa  hendak  nnenghafal Qur'an,  sehingga  mereka,  bersama-sama  dengan  Nabi dapat mengulang kembali dengan ketelitian yang  meyakinkan  sekali segala  yang  diketahui  dari  pada  Nabi  sampai pada waktu mereka membacanya itu."

"Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas  daya ingatnya   itu,  kita  juga  bebas  untuk  tidak  melepaskan kepercayaan kita  bahwa  kumpulan  itu  adalah  satu-satunya sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin, bahwa sahabat-sahabat Nabi  menulis  beberapa  macam  naskah selama  masa  hidupnya  dari  berbagai  macam  bagian  dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an itu  ditulis.  Pada  umumnya  tulis-menulis  di  Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa  kerasulan  Muhammad.  Tidak hanya  seorang  saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan  perang  Badr  yang dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad.  Tidak  hanya  seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat  mengajarkan tulis-menulis   kepada   kaum  Anshar  di  Medinah,  sebagai imbalannya  mereka  dibebaskan.  Meskipun  penduduk  Medinah dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak juga  di  antara  mereka  yang  pandai  tulis-menulis  sejak sebelum  Islam.  Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa  ayat-ayat yang  dihafal  menurut  ingatan  yang sangat teliti itu, itu juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."

"Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah  mengutus seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah menganut Islam,  supaya  mengajarkan  Qur'an  dan  mendalami agama.  Sering  pula  kita  membaca, bahwa ada utusan-utusan yang    pergi    membawa    perintah    tertulis    mengenai masalah-masalah  agama  itu.  Sudah tentu mereka membawa apa yang  diturunkan  oleh  wahyu,  khususnya  yang  berhubungan dengan  upacara-upacara  dan peraturan-peraturan Islam serta apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."

PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI

"Qur'an  sendiripun  menentukan  adanya  itu  dalam   bentuk tulisan.  Begitu  juga  buku-buku  sejarah  sudah menentukan demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar,  tentang adanya   sebuah   naskah  Surat  ke-20  [Surah  Taha]  milik saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk  Islam tiga  atau  empat  tahun  sebelum  Hijrah.  Kalau  pada masa permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling  dipertukarkan, tatkala  jumlah  kaum  Muslimin  masih sedikit dan mengalami pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan  sekali, bahwa  naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak kekuasaannya  dan  kitab  itu  sudah  menjadi  undang-undang seluruh bangsa Arab."

BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI

"Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan  demikian juga  halnya  kemudian  sesudah  Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum  mukmin.  Berbagai  macam  bagiannya  sudah tercatat  belaka  dalam  naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu  sudah  seharusnya benar-benar  cocok.  Pada  waktu itu pun Qur'an sudah sangat dilindungi sekali, meskipun  pada  masa  Nabi  masih  hidup, dengan  keyakinan  yang  luarbiasa  bahwa  itu  adalah kalam Allah. Oleh karena  itu  setiap  ada  perselisihan  mengenai isinya,  untuk  menghindarkan  adanya  perselisihan demikian itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam  hal  ini  ada beberapa  contoh  pada  kita:  'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi  wafat,  bila ada  perselisihan,  selalu  kembali  kepada  teks yang sudah tertulis  dan  kepada  ingatan  sahabat-sahabat  Nabi   yang terdekat serta penulis-penulis wahyu."

PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA

"Sesudah  selesai  menghadapi  peristiwa  Musailima  - dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah  menyebabkan  kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang telah menghafal Qur'an dengan  baik.  Ketika  itu  Umar merasa  kuatir  akan  nasib  Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka  yang telah  menyimpannya  dalam  ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah Abu  Bakr  dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal  Qur'an  itu  akan  terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak lagi dari mereka  yang  akan  hilang.  Menurut  hemat  saya, cepat-cepatlah    kita    bertindak   dengan   memerintahkan pengumpulan Qur'an."

"Abu Bakr segera  menyetujui  pendapat  itu.  Dengan  maksud tersebut  ia  berkata  kepada Zaid bin Thabit, salah seorang Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang  cerdas  dan saya  tidak  meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada Rasulullah  s.a.w.  dan  kau  mengikuti  Qur'an  itu;   maka sekarang kumpulkanlah.''

"Oleh  karena  pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali.  Ia  masih  meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain melakukannya. Akan tetapi akhirnya  ia  mengalah  juga  pada kehendak  Abu  Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai berusaha  sungguh-sungguh   mengumpulkan   surah-surah   dan bagian-bagiannya  dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas  batu putih,   dan   yang  dihafal  orang.  Setengahnya  ada  yang menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya  dari  yang  ada pada  lembaran-lembaran,  tulang-tulang  bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."

"Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun  terus-menerus, mengumpulkan   semua   bahan-bahan  serta  menyusun  kembali seperti yang ada sekarang ini, atau seperti  yang  dilakukan Zaid  sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian orang mengatakan. Sesudah  naskah  pertama  lengkap  adanya, oleh  Umar  itu  dipercayakan  penyimpanannya kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang  sudah  dihimpun  oleh Zaid  ini  tetap  berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.

"Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah  itu yang  disalin  dari  naskah  Zaid.  Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu  yang  didatangkan  dari  langit  itu "satu,"  lalu  dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan,  juga  melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."

MUSHAF USMAN

"Karena  banyaknya  dan  jauhnya  perbedaan  itu,  ia merasa gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman  turun tangan.  "Supaya  jangan  ada  lagi orang berselisih tentang kitab  mereka  sendiri  seperti   orang-orang   Yahudi   dan Nasrani."   Khalifahpun  dapat  menerima  saran  itu.  Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin  Thabit  dimintai bantuannya  dengan  diperkuat  oleh tiga orang dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha  lalu  dibawa,  dan cara  membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu  semuanya  diperiksa  kembali dengan  pengamatan  yang  luarbiasa,  untuk  kali  terakhir. Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya  dari Quraisy  itu,  ia  lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu   itu   diturunkan   dengan  tujuh  dialek  Arab  yang bermacam-macam."

"Selesai dihimpun, naskah-naskah  menurut  Qur'an  ini  lalu dikirimkan  ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya naskah-naskah itu dikumpulkan lagi  atas  perintah  Khalifah lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada Hafsha."

PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN

"Maka yang sampai kepada kita adalah Mushhaf  Usman.  Begitu cermat  pemeliharaan  atas Qur'an itu, sehingga hampir tidak kita dapati -bahkan  memang  tidak  kita  dapati-  perbedaan apapun dari naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang tersebar ke seluruh  penjuru  dunia  Islam  yang  luas  itu. Sekalipun akibat terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad kemudian sesudah Muhammad wafat - telah  menimbulkan  adanya kelompok-kelompok  yang marah dan memberontak sehingga dapat menggoncangkan kesatuan dunia Islam -  dan  memang  demikian adanya  - namun Qur'an yang satu, itu juga yang selalu tetap menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang  hanya mengenal satu kitab itu ialah bukti yang nyata sekali, bahwa apa yang ada di depan kita sekarang ini  tidak  lain  adalah teks  yang  telah  dihimpun  atas perintah Usman yang malang itu.

"Agaknya di seluruh dunia ini tak ada sebuah kitabpun selain Qur'an  yang  sampai empatbelas  abad  lamanya  tetap lengkap dengan teks yang begitu murni  dan  cermatnya.  Adanya  cara membaca  yang  berbeda-beda  itu sedikit sekali untuk sampai menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya  terbatas hanya  pada  cara  mengucapkan  huruf  hidup  saja atau pada tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya  timbul  hanya belakangan  saja  dalam  sejarah,  yang  tak ada hubungannya dengan Mushhaf Usman."

"Sekarang, sesudah ternyata  bahwa  Qur'an  yang  kita  baca ialah  teks  Mushhaf  Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah kita  bahas  lagi:  Adakah  teks  ini  yang  memang   persis bentuknya  seperti  yang  dihimpun  oleh Zaid sesudah adanya persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara  membaca yang  hanya  sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali, bahwa  memang  demikian.  Tidak ada dalam berita-berita lama atau  yang  patut  dipercaya  yang  melemparkan   kesangsian terhadap  Usman  sedikitpun,  bahwa  dia  bermaksud mengubah Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah kemudian  menuduh  bahwa  dia mengabaikan beberapa ayat yang mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat  diterima akal.  Ketika  Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan pihak Alawi  (golongan  Mu'awiya  dan  golongan  Ali)  belum terjadi  sesuatu  perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam masa  itu   benar-benar   kuat   tanpa   ada   bahaya   yang mengancamnya.  Di  samping  itu  juga  Ali  belum melukiskan tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap.  Jadi  tak  adalah maksud-maksud   tertentu  yang  akan  membuat  Usman  sampai melakukan pelanggaran yang akan  sangat  dibenci  oleh  kaum Muslimin  itu.  Orang-orang  yang  memahami  dan hafal benar Qur'an  seperti  yang  mereka  dengar  sendiri  waktu   Nabi membacanya  mereka  masih  hidup  tatkala Usman mengumpulkan Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan  Ali  itu sudah   ada,   tentu   terdapat   juga   teksnya  di  tangan pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua  alasan  ini  saja sudah  cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan ayat-ayat  itu.  Lagi  pula,  pengikut-pengikut  Ali   sudah berdiri  sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat Ali sebagai Pengganti."

"Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian  mereka  sudah memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an yang sudah terpotong-potong, dan  terpotong  yang  disengaja pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun begitu mereka tetap membaca Qur'an  yang  juga  dibaca  oleh lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan supaya  menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya dengan tangannya sendiri."

"Memang  benar  bahwa  para  pemberontak  itu  telah membuat pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan Qur'an  lalu  memerintahkan  supaya semua naskah dimusnahkan selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada langkah-langkah  Usman  dalam  hal  itu  saja,  yang menurut anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di  balik  itu tidak  seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah atau menukar isi Qur'an. Tuduhan  demikian  pada  waktu  itu adalah suatu usaha perusakan terang-terangan. Hanya kemudian golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu  untuk  kepentingan mereka sendiri."

"Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan, bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam  bentuknya  yang  persis seperti  yang  dihimpun  oleh  Zaid bin Thabit, dengan lebih disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu  dengan dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar  di  seluruh daerah itu."

MUSHAF USMAN CERMAT DAN LENGKAP

"Tetapi  sungguhpun begitu masih ada suatu soal penting lain yang  terpampang  di  depan   kita,   yakni:   adakah   yang dikumpulkan  oleh  Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya dan  lengkap  seperti  yang  diwahyukan   kepada   Muhammad? Pertimbangan-pertimbangan  di  bawah  ini  cukup  memberikan keyakinan, bahwa itu adalah susunan  sebenarnya  yang  telah selengkapnya dicapai waktu itu:"

"Pertama  -  Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan Abu Bakr. Sedang Abu Bakr seorang  sahabat  yang  jujur  dan setia kepada Muhammad. Juga dia adalah orang yang sepenuhnya beriman pada kesucian sumber Qur'an, orang yang  hubungannya begitu  erat  sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun terakhir dalam hayatnya, serta  kelakuannya  dalam  khilafat dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari gejala ambisi, sehingga baginya  memang  tak  adalah  tempat buat  mencari  kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa yang diwahyukan kepada kawannya itu adalah wahyu dari Allah, sehingga  tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu itu semua dalam keadaan murni sepenuhnya."

Pernyataan semacam ini berlaku juga terhadap Umar yang sudah menyelesaikan   pengumpulan   itu   pada  masa  khilafatnya. Pernyataan semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum Muslimin  waktu  itu,  tak ada perbedaan antara para penulis yang membantu  melakukan  pengumpulan  itu,  dengan  seorang mu'min  biasa  yang  miskin, yang memiliki wahyu tertulis di atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu  membawanya  semua kepada    Zaid.    Semangat   mereka   semua   sama,   ingin memperlihatkan kalimat-kalimat dan  kata-kata  seperti  yang dibacakan  oleh  Nabi,  bahwa itu adalah risalah dari Tuhan. Keinginan  mereka  hendak  memelihara  kemurnian  itu  sudah menjadi  perasaan  semua  orang,  sebab tak ada sesuatu yang lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka  seperti  rasa  kudus yang  agung  itu,  yang  sudah  mereka  percayai  sepenuhnya sebagai    firman    Allah.    Dalam     Qur'an     terdapat peringatan-peringatan   bagi   barangsiapa  yang  mengadakan kebohongan  atas  Allah  atau  menyembunyikan  sesuatu  dari wahyuNya.  Kita  tidak  akan dapat menerima, bahwa pada kaum Muslimin yang  mula-mula  dengan  semangat  mereka  terhadap agama  yang  begitu  rupa mereka sucikan itu, akan terlintas pikiran yang akan membawa akibat  begitu  jauh  membelakangi iman."

"Kedua  -  Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga tahun sesudah Muhammad wafat. Kita  sudah  melihat  beberapa orang  pengikutnya,  yang  sudah  hafal  wahyu  itu  di luar kepala, dan setiap Muslim sudah hafal sebagian,  juga  sudah ada   serombongan   ahli-ahli   Qur'an  yang  ditunjuk  oleh pemerintah dan dikirim ke segenap penjuru daerah Islam  guna melaksanakan  upacara-upacara dan mengajar orang memperdalam agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu  mata  rantai penghubung  antara wahyu yang dibaca Muhammad pada waktu itu dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum Muslimin bukan  saja bermaksud jujur dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf itu,  tapi  juga  mempunyai  segala  fasilitas  yang   dapat menjamin    terlaksananya    maksud    tersebut,    menjamin terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam  kitab  itu, yang ada di tangan mereka sesudah dengan teliti dan sempurna dikumpulkan."

"Ketiga - Juga  kita  mempunyai  jaminan  yang  lebih  dapat dipercaya  tentang  ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni bagian-bagian Qur'an yang tertulis,  yang  sudah  ada  sejak masa  Muhammad  masih  hidup,  dan  yang  sudah tentu jumlah naskahnyapun sudah banyak sebelum  pengumpulan  Qur'an  itu. Naskah-naskah  demikian  ini  kebanyakan sudah ada di tangan mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa  apa yang  dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan langsung dibaca sesudah pengumpulannya.  Maka  logis  sekali kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka.  Oleh  karena  itu keputusan mereka semua sudah tepat pada tempatnya. Tidak ada suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan, bahwa para  penghimpun  itu  telah melalaikan sesuatu bagian, atau sesuatu ayat, atau kata-kata, ataupun apa yang  terdapat  di dalamnya  itu,  berbeda  dengan  yang ada dalam Mushhaf yang sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian ini  memang  ada, maka tidak bisa tidak tentu terlihat juga, dan tentu dicatat pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat itu;  tak ada sesuatu yang diabaikan sekalipun yang kurang penting."

"Keempat   -   Isi  dan  susunan  Qur'an  itu  jelas  sekali menunjukkan  cermatnya   pengumpulan.   Bagian-bagian   yang bermacam-macarn  disusun  satu  sama  lain  secara sederhana tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."

"Tak ada bekas tangan yang mencoba  mau  mengubah  atau  mau memperlihatkan  keahliannya  sendiri. Itu menunjukkan adanya iman dan kejujuran sipenghimpun dalam  menjalankan  tugasnya itu. Ia tidak berani lebih daripada mengambil ayat-ayat suci itu seperti apa adanya,  lalu  meletakkannya  yang  satu  di samping yang lain."

"Jadi  kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan meyakinkan sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu  bukan  hanya hasil  ketelitian  saja,  bahkan - seperti beberapa kejadian menunjukkan - adalah juga lengkap, dan  bahwa  penghimpunnya tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti yang  kuat,  bahwa setiap  ayat  dari  Qur'an  itu, memang sangat teliti sekali dicocokkan seperti yang dibaca oleh Muhammad."

Panjang juga kita mengutip kalimat-kalimat Sir William  Muir seperti  yang  disebutkan  dalam  kata pengantar The Life of Mohammad (p.xiv-xxix) itu. Dengan apa yang sudah kita  kutip itu  tidak  perlu  lagi  rasanya  kita  menyebutkan  tulisan Lammens atau  Von  Hammer  dan  Orientalis  lain  yang  sama sependapat.   Secara   positif   mereka  memastikan  tentang persisnya Qur'an yang kita baca sekarang,  serta  menegaskan bahwa  semua  yang  dibaca  oleh  Muhammad adalah wahyu yang benar  dan  sempurna  diterima  dari  Tuhan.  Kalaupun   ada sebagian   kecil   kaum   Orientalis  berpendapat  lain  dan beranggapan bahwa Qur'an sudah mengalami  perubahan,  dengan tidak menghiraukan alasan-alasan logis yang dikemukakan Muir dan sebagian besar  Orientalis,  yang  telah  mengutip  dari sejarah  Islam  dan  dari  sarjana-sarjana  Islam,  maka itu adalah suatu dakwaan yang hanya didorong  oleh  rasa  dengki saja terhadap Islam dan terhadap Nabi.

Betapapun   pandainya   tukang-tukang   tuduh  itu  menyusun tuduhannya,  namun  mereka  tidak  dapat  meniadakan   hasil penyelidikan  ilmiah  yang  murni. Dengan caranya itu mereka takkan dapat menipu kaum Muslimin, kecuali  beberapa  pemuda yang  masih  beranggapan  bahwa  penyelidikan yang bebas itu mengharuskan mereka mengingkari masa lampau mereka  sendiri, memalingkan  muka  dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh kepalsuan yang indah-indah. Mereka percaya kepada semua yang mengecam   masa   lampau  sekalipun  pengecamnya  itu  tidak mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan sejarah.

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah









Wednesday, April 11, 2012