This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, April 27, 2012

GUS DUR ( Anekdot)

Hadiah



Uni Soviet, sebelum pecah, dikenal sebagai "Tirai besi", negara yang sangat tertutup. Pengontrolan terhadap individu luar biasa ketat. Semua orang harus tunduk dan patuh saja terhadap apapun yang ditentukan negara. Jangankan berontak, menyanyikan lagu Barat saja orang akan diinterogasi berhari-hari oleh polisi rahasia.

Alkisah, tutur Gus Dur, dalam sebuah perjalanan bertemulah dua orang yang belum saling kenal dalam satu kereta. yang seorang berasal dari Polandia, dan seorang lagi dari Moskow. Keduanya akhirnya saling berkenalan dan terlibat obrolan yang cukup serius.

Si orang Polandia bertanya kepada si Bung dari Moskow itu, "Hadiah apakah yang akan anda peroleh kalau anda memamerkan lambang serikat buruh di Moskow?"

"Tidak tahu, apa kira-kira hadiah yang akan kudapat," jawab kawan yang dari Moskow itu.

Sang penanya kemudian menjawab sendiri teka-tekinya itu:"Anda akan memperoleh dua buah gelang dan satu rantai."

"Gelang emas atau perak?" tanya kawan asal Moskow ini penasaran.

"Borgol!" jawab si orang Polandia kalem.

Hanyutnya Presiden Soeharto


Sudah tentu mantan presiden Soeharto kebagian sentilan Gus Dur. Ceritanya, suatu hari Pak Harto memancing di sebuah sungai. Bekas orang kuat itu dikenal gemar memancing (dan barangkali bukan cuma ikan yang dipancingnya). Saking asyiknya, Pak Harto tidak sadar bahwa air sungai itu meluap, lalu terjadilah banjir besar.

Pak Harto hanyut terbawa arus deras. Selama hanyut itu rupanya dia tak sadarkan diri, dan ketika dia terbangun dia berada jauh dari tempatnya semula. Keadaannya sangat sepi, hanya ada seorang petani, yang rupanya telah menolong Pak Harto.

Merasa berutang budi dan sangat berterima kasih, Pak Harto berkata pada penolongnya itu.

"kamu tahu nggak saya ini siapa?" tanya Pak Harto.
"Tidak," jawab si penolong.

"Saya ini Soeharto, Presiden Republik Indonesia.
Nah, karena kamu sudah menolong saya, maka kamu boleh minta apa saja yang kamu mau, pasti saya beri. Ayo katakan saja keinginan kamu."

"Saya cuma minta satu hal saja, Bapak Presiden," kata sang penolong. "Katakan saja apa itu?" Kata Pak Harto.

"Tolong jangan bilang siapa-siapa bahwa saya yang menolong Bapak."

Jin dan Tiga Manusia


Menurut Gus Dur, pernah ada sebuah kapal berisi penumpang berbagai bangsa karam. Ada tiga orang yang selamat, masing-masing dari Perancis, Amerika dan Indonesia. Mereka terapung-apung di tengah laut dengan hanya mengandalkan sekeping papan.

Tiba-tiba muncul jin yang baik hati. Dia bersimpati pada nasib ketiga bangsa manusia itu, dan menwarkan jasa. "Kalian boleh minta apa saja, akan kupenuhi," kata sang jin. Yang pertama ditanya adalah si orang Perancis.

"Saya ini petugas lembaga sosial di Paris," katanya.
"Banyak orang yang memerlukan tenaga saya. Jado tolonglah saya dikembalikan ke negeri saya." Dalam sekejap, orang itu lenyap, kembali ke negerinya.

"Kamu, orang Amerika, apa permintaanmu?"

"Saya ini pejabat pemerintah. Banyak tugas saya yang terlantar karena kecelakaan ini. Tolonglah saya dikembalikan ke Washington."

"Oke," kata jin, sambil menjentikkan jarinya. Dan orang Amerika lenyap seketika, kembali ke negerinya.

"Nah sekarang tinggal kamu orang Indonesia. Sebut saja apa maumu."

" Duh, Pak Jin, sepi banget disini," keluh si orang Indonesia. "Tolonglah kedua teman saya tadi dikembalikan ke sini."

Zutt, orang Perancis dan Pria Amerika itu muncul lagi.

Kaum Almarhum

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

"Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." Katanya.

Kiai Transmigran
Di kalangan warga NU Jakarta, KH Abdul Razak Makmun dikenal sebagai kyai yang bijak, santun, dan berpandangan jauh ke depan. Kalau berceramah biasanya ia tak lupa menyelipkan anjuran tentang pentingnya menuntut ilmu. Apapun tema ceramah yang dibawakan, pasti anjuran itu selalu meluncur dari mulutnya.

Tapi kata Gus Dur, ada hal yang agak lain ketika ia diundang ceramah di suatu masjid. Kali ini dia membawakan tema transmigrasi, yang saat itu memang menjadi program pemerintah. Dalam ceramahnya kali ini tak sedikitpun terdengar anjuran menuntut ilmu. Seluruh ceramah kyai Razak hanya berisi soal pentingnya orang mengikuti transmigrasi.

Ia pun rupanya sudah membentuk organisasi khusus untuk mendorong transmigrasi.

Ane udah bentuk satu yayasan untuk membantu pemerintah dalam soal transmigrasi ini,” ujarnya dalam dialek Betawi medok kepada peserta sebuah penataran mubaligh di Jakarta. ”Sayang ane kagak inget namenye. Maklum, panjang banget sih namenye.”

Gimana sih Pak Kyai ini, wong dia membentuk yayasan kok bisa lupa dengan nama yayasannya sendiri, kata peserta penataran sambil tertawa geli.

Ente semue jangan pade ketawe dulu. Pikir mateng-mateng pesen ane,/i> ini. Diskusiin biar lame. Tanggung deh ente semue nanti lebih kebakar dari ane sekarang,” lanjut Kyai Razak.

“Dua puluh taon lagi tanggung deh ente semue bakal bilang,’kyai Razak orangnye jempol. Sekarang sih emang belon ketauan!”

Kumpulan Humoris
Nah, humor ini juga pernah dilontarkan Gus Dur. Cerita dulu, jamannya Uni Soviet dipimpin oleh seorang diktator yang amat ditakuti. Sang diktator sedang menerima kunjungan rekannya dari barat.

Dalam kunjungan singkatnya itu, terjadi obrolan yang diselingi humor santai. Sambil tertawa, rekan sang diktator itu iseng bertanya, "Apakah anda mengumpulkan para humoris?"

Sang diktator menjawab kalem," Ya, tentu saja. Jumlahnya ada dua sel penuh."

Masuk Akal
Ini cerita lama, sewaktu Gus Dur masih menjabat sebagai ketua PBNU. Kantor PBNU waktu itu baru saja melengkapi fasilitasnya dengan mesin faksimili. Hari itu Gus Dur sedang kedatangan seorang rekannya, disana juga sudah ada Arifin Junaidi (Wakil Sekjen PBNU saat itu) yang mempraktekkan cara mengirim faksimili di depan Gus Dur dan rekannya itu.

"Lho, ngirim tulisan pakai mesin ini apa bisa diterima sama persis disana?" tanya rekan Gus Dur, terheran-heran. Arifin menjawab yakin,"Lha iya, toh."

Setelah Arifin memfaksimili, tiba-tiba ada faks masuk. Drrt...drrt...drrt.....Mendengar bunyi dan masuknya faks itu, rekan Gus Dur ini makin kagum saja.

"Wah, mesin faks ini memang luar biasa, nggak masuk akal," komentar rekan Gus Dur sambil geleng-geleng kepala.
Spontan Gus Dur nyeletuk,"Ya jangan dimasukkin akal! Masukin kertas, dong."

 Melawan Lasio

Dalam satu diskusi di kantor Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Gus Dur tampil bersama pakar filsafat yang mendalami masalah Konghucu. Nama pakar itu Dr. Lasio, mengingatkan orang pada klub sepak bola ternama Italia, Lazio. Sang pakar bicara lebih dulu, dan menguraikan pandangan-pandangannya di depan ratusan peserta yang meluber sampai ke luar ruang yang cukup sempit.

Tiba giliran Gus Dur, dia memulai dengan komentar tentang pentingnya topik diskusi tersebut.

Tapi katanya,"Kok saya yang harus tampil melawan Lasio. Lha mestinya 'kan lebih tepat kalau dia tanding melawan AC Milan..."

Dan sang pakar pun hanya tersenyum saja mendengar guyonan itu.

Obrolan Presiden
 Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa...
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem. 

Gus Dur Beli Pesawat

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat dulu, Pertengahan tahun 2000, Gus Dur bertemu dengan eksekutif puncak Boeing, industri pusat raksasa pesawat terbang. Orang pun bertanya-tanya, apa pula urusannya Gus Dur dengan pembuat pesawat itu? Memangnya dia ahli pesawat terbang seperti Habibie?

Akhirnya kepala protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi mengungkapkan maksud pertemuan itu; Gus Dur mau beli pesawat kepresidenan, yang selama ini memang tidak pernah dimiliki oleh pemerintah indonesia. Kebiasaan Gus Dur tetap ampuh; bikin pernyataan kontroversial di luar negeri, dan menimbulkan reaksi di dalam negeri.

Pers Indonesia pun sibuk mengusut rencana pembelian pesawat yang waktunya dirasa tidak tepat itu. Krisis ekonomi saja sama sekali terlihat belum diatasi, lha kok Presiden RI mau punya pesawat pribadi. "Perlu dong," kata Wahyu Muryadi sambil membandingkan dengan Presiden Amerika serikat, yang sudah lama memiliki air force one yang mewah itu.

Dari mana uang puluhan juta dollar untuk membeli pesawat itu? Menko Rizal Ramli, yang bekas aktivis dan pengamat ekonomi yang kritis kok malah bilang siap melaksanakan dan uang untuk pembelian pesawat sudah ada, apa ini bukan pemborosan uang negara? Apa memang ada "uang nganggur" di laci pemerintah? Apa Rizal Ramli ingin cari muka kepada bosnya?

Mendengar sikap siap melaksanakan Rizal Ramli,kritik publik kian gencar. Sampai Gus Dur sendiri kembali ke Jakarta.

Wartawan bertanya,"Gus, mengapa anda merasa perlu membeli pesawat boeing itu?"

Jawab Gus Dur; "Lho, siapa yang mau beli pesawat?"

Wahyu Muryadi dan Rizal Ramli kali ini yang pusing. Sudah sibuk membela rencana Gus Dur, eh yang
dibela malah membantahnya.

Friday, April 20, 2012

DANGER OF THE CORRUPTION

DANGER OF THE CORRUPTION

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

The Honorable All Juries…….
The Honorable All Participants………
And My beloved Friends………

First of all, Let's thank's to Allah the almighty, who has been giving us his mercy until we can become together in English speech Contest.
Secondly, Shalawat and Salam always with our Prophet Muhammad SAW, who has been bring us from The Darkness Era to The Brightness era.
Thirdly, I will never forget to thank Mr. Chairman who has given us an opportunity to deliver a speech in front of  the public, under title: DANGER OF THE CORRUPTION
             And My beloved Friends………
The State equitable, prosperous, and luxurious is an aspiraton of this nation. The Reformation is agreement reached of our nation, but it seem has not been finished. With still some  problems in our nation.
The High Intellectual was like as fall down, The Majesty of Noble Characteristic was like as insulted and means nothing. Coruption is not one new heard and strange again in child's ears. Coruption has become a way of life. Because our nation is over to hold the coruptor, the thief of moneys country's.
                And my beloved friends……..
This nation does  not only need IQ intellectual above one hundred, not only need people with talk soft, not only people with neat coat if behind   their  talk  soft, behind  their  intelligence  only some personal passion.
But this nation need EQ and SQ another IQ, the intelligence to know, WHO AM I ? WHERE I MUST STEP FORWARD? AND FOR WHAT ?
The Corruptor is people not keep the mandate from peoples.
             All Participants………..
In Al-Qur'an Allah has been explained  about prohibition to betray in every mandate.
يأ يها الـذين Ø£ منو ا لا تخـونـو ا اللـه والـرسو Ù„ ولا تخـونو أمانا تـكم وانتـم تعـلـمون              
Meaning : Oh…Muslim believers ! You don't to betray  to Allah and Prophet Muhammad SAW, and you all don't betray to every mandate already give to you whereas you have be understand.
As a believer, we should keep the mandate and to take care the mandate as good as possible. Keep the mandate is the one of characters of angel, prophet, and apostles and become special character to a good man and devotion.
           All Participants……….
Let's we take a basis of Faithfull. We can be every things, be agood Police, be a good Artist, be a good Industrialist, be a good President, and everythings.
We have to clean for coruption for the sake to realize a nation prosperous, luxurious, and peacefull.
          My beloved Friends………..
We have to still manage to stand  to take care spirit together. Don't wish to play opposite, don't wish to broken to pieces. We are tired enough endure of long road.
Let's look for equality, don't look for difference. And we have to ask for help to Allah, and his protection.
    And My beloved friends…….
Finally, those all what I can deliver in this opportunity, I apologize for my mistakes I any, thank you very much for your attention.

والسلام عليـكم ورحمة الـله وبركا ته

ISRAILIYYAT

ISRAILIYYAT

PENDAHULUAN
Al-Quran merupakan satu mukjizat yang sesuai untuk semua zaman, keadaan, dan juga tempat. Oleh itu, ia memerlukan satu penafsiran yang kukuh untuk memudahkan orang awam memahami kandungan al-Quran dan seterusnya dapat menghayati segala isi kandungannya. Penafsiran yang dilakukan tidak berhatihati akan memudahkan unsur-unsur Israiliyyat dan khurafat memasuki ke dalam kitab-kitab tafsir. Unsur-unsur Israiliyyat ini menyerap masuk ke dalam kitab tafsir kerana sikap ambil mudah pentafsir. Mereka terus menukilkan tafsir tanpa mengira kesahihan cerita tersebut.
Islam adalah agama yang syumul. Segala pengajaran, arahan dan larangannya adalah merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia. Sejajar dengan itu, al-Quran diturunkan sebagai kitabullah yang mempunyai panduan dan hidayah kepada seluruh umat manusia, lengkap dengan segala isi kandungannya sama ada dari segi aqidah, ibadah, perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. Al-Quran dinukilkan secara mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara isi kandungannya oleh Allah daripada diseleweng oleh musuh-musuh-Nya.
Namun begitu, terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa kini yang memasukkan unsur-unsur Israiliyyat dalam pentafsiran mereka. Unsur-unsur ini banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal cerita-cerita para nabi dan rasul. Faktor ini adalah antara penyebab berlakunya kelemahan dalam tafsir ma’thur.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisa kitab tafsir Melayu Tafsir Anwar Baidhawi karangan Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh Abdurrauf yang ditafsirkan secara lengkap tiga puluh juzuk. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu tulisan Jawi lama. Tafsir ini masih dicetak hingga sekarang.
Ia dicetak dalam tiga penggal, dan yang terbaru sekali ia dicetak hanya dalam satu jilid tebal. Kitab tafsir ini menjadi pilihan kerana ia merupakan antara kitabkitab tafsir berbahasa Melayu yang dipelajari di surau-surau, masjid-masjid serta pondok-pondok di Malaysia. Kitab ini wajar diberi perhatian dan penumpuan bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh kisah-kisah Israiliyyat ataupun Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 25 tidak. Artikel ini bertujuan membincangkan tafsiran-tafsiran al-Quran secara terperinci, tanpa terpengaruh dengan kisah-kisah Israiliyyat yang tidak berdasarkan kepada sanad yang sahih.

PENGERTIAN ISRAILIYYAT
Perkataan Israiliyyat adalah diambil daripada kata jamac. Mufradnya adalah diambil daripada kata Israiliyyah, yang dinisbahkan kepada Bani Israil (keturunan Israil). Manakala Israil pada asalnya adalah nama Nabi Allah Yaakob (a.s.) yang membawa maksud Abdullah atau hamba Allah. Bani Israil atau keturunan Israil ialah keturunan Nabi Yaakob (a.s.) yang berkembang hingga kepada Nabi Musa (a.s.) dan seterusnya nabi-nabi yang datang silih berganti, sehinggalah keturunannya yang terakhir iaitu Nabi Isa (a.s.).
Keturunan Nabi Yaakob (a.s.) atau Bani Israil sejak beberapa zaman yang lalu dikenali dengan panggilan Yahudi. Keturunan yang beriman kepada Nabi Isa (a.s.) pula dikenali dengan nama Nasara atau Nasrany. Manakala yang beriman dengan Nabi Muhammad (s.a.w.) pula telah menjadi sebahagian daripada umat Islam dan dikenali dengan Muslim ahl al-Kitab. Israiliyyat menurut istilah ahli tafsir ialah kisah-kisah Yahudi yang menyerap masuk ke dalam masyarakat Islam melalui tafsir al-Quran yang banyak berlaku di zaman tabi’in. Namun ulama tafsir dan hadith menggunakan istilah Israiliyyat terhadap perkara-perkara yang lebih luas, iaitu setiap kisah termasuk cerita lama yang diadakan, dimasukkan ke dalam tafsir. Bahkan sesetengah ulama tafsir dan hadith menganggap Israiliyyat adalah setiap kisah yang dicipta dan disampai oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dengan tujuan untuk merosakkan kesucian Islam .

RIWAYAT ISRAILIYYAT
Secara umumnya, riwayat Israiliyyat boleh dibahagikan kepada tiga bahagian;
Israiliyyat yang sahih dan bertepatan dengan nas-nas al-Quran dan al-Sunnah. Israiliyyat daripada bahagian ini harus diriwayatkan berdasarkan Hadith Nabi (s.a.w.) yang bermaksud: Sampaikan daripada aku walaupun satu ayat. Perkatakanlah tentang kisah-kisah Bani Israil dan ianya bukan menjadi satu kesalahan. Dan sesiapa berdusta terhadapku maka disediakan baginya tempat di dalam neraka.
Israiliyyat yang bercanggah dengan nas yang Qatci daripada al-Quran dan juga al-Sunnah, serta menyalahi lojik akal. Israiliyyat daripada bagian ini tidak harus diriwayatkan.
Israiliyyat yang ‘Maskut cAnhu’ iaitu yang tidak disokong oleh nas al-Quran dan juga al-Sunnah iaitu ia bukan dari bahagian pertama dan juga bahagian kedua. Bahagian ini tidak perlu kita membenarkannya dan tidak juga mendustakannya. Tetapi harus diriwayatkannya.

PENGARUH ISRAILIYYAT KE ATAS KITAB TAFSIR
Kemasukan Israiliyyat ke dalam tafsir bermula dengan kemasukan thaqafah (peradaban) Bani Israil (yang berhijrah ke Semenanjung Arab) ke dalam thaqafah Arabiyyah di zaman Jahiliyyah. Bangsa Yahudi ini membawa bersama-sama mereka ilmu-ilmu dan pengetahuan yang diambil daripada kitab-kitab agama mereka, dan segala perkara yang berkaitan dengannya daripada huraian-huraian, dan juga yang mereka warisi daripada satu generasi ke satu generasi daripada nabi-nabi mereka dan pendita-pendita mereka. Mereka mempunyai tempat yang dinamakan al-midras iaitu sekolah-sekolah tempat mereka mempelajari setiap perkara yang diwarisi. Mereka juga mempunyai tempat-tempat ibadah dan syiar agama mereka.
Kemudian, datang ajaran Islam dan kitab Allah (s.w.t.) yang terkandung di dalamnya ilmu dan agama. Seruan Islam lahir dan tersebar di kalangan penduduk Semenanjung Arab. Pada zaman Rasulullah (s.a.w.) pusat negara Islam adalah Madinah al-Munawwarah. Untuk mendidik para sahabat, majlis-majlis ilmu pada zaman Rasulullah (s.a.w.) ini dilakukan di Masjid Madinah. Di kota Madinah dan di sekitarnya tinggal bermukim beberapa golongan Yahudi seperti Bani Qainuqa’, Bani Quraizah, Bani al-Nadir, Yahudi Khaibar, Taima’ dan Fadak.  Terdapat di kalangan ulama Yahudi atau ahli Kitab di Madinah yang memeluk Islam seperti Abdullah b. Salam (r.a.). Beliau dan orang sepertinya menjadi tempat rujukan kepada sahabat untuk bertanya secara terperinci tentang kisah-kisah yang sama yang juga disebut di dalam kitab-kitab al-Quran dan Taurat. Namun para sahabat tidak menerima bulat-bulat apa yang diceritakan kepada mereka.  Malah mereka menapisnya dengan akal dan juga syarak. Mereka hanya menerima apa yang diterima oleh akal dan syarak dan menolak sekiranya bercanggah dengan keduanya. Seterusnya mereka berdiam diri terhadap perkara-perkara yang tidak jelas tentang benar dan salahnya.
Ibn Khaldun menyatakan apabila timbul keinginan di kalangan orang-orang Arab untuk mengetahui tentang permulaan kejadian makhluk dan rahsia kejadian, mereka cenderung bertanya ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Majoriti mereka adalah dari suku bangsa Humair. Apabila mereka memeluk Islam, pengaruh daripada ajaran agama mereka yang berkaitan dengan asal kejadian makhluk, cerita-cerita tentang peperangan dan sebagainya masih kuat dalam diri mereka. Antara golongan mereka ialah Ka’ab b. al-Ahbar, Wahab b. Munabbih, dan Abdullah b. Salam. Kerana inilah cerita-cerita Israiliyyat Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir dipenuhi dengan riwayat-riwayat daripada mereka.

PENGARUH ISRAILIYYAT TERHADAPAQIDAH UMAT ISLAM
Terdapat sebahagian daripada kisah-kisah Israiliyyat yang boleh menyebabkan kekeliruan dan mengganggu kemurnian ajaran Islam. Antara kisah-kisah tersebut ialah yang berbentuk dongeng dan khurafat, yang bersalahan dengan akal dan syarak. Kisah-kisah ini boleh mengakibatkan kesan berikut;
Dalam Israiliyyat terdapat unsur penafian terhadap sifat maksum para anbiya’ dan mursalin, dan menggambarkan mereka menolak kelazatan dan kenikmatan pemberian Tuhan kepada kekejian dan keaiban yang tidak layak bagi manusia biasa, sebagai anugerah Tuhan kerana dilantik menjadi nabi. Sebagai contoh apa yang digambarkan oleh kisah Israiliyyat tersebut terhadap apa yang menimpa Nabi Allah Ayub (a.s.).
Israiliyyat hampir-hampir menghilangkan kepercayaan umat Islam terhadap sebahagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Bukan sedikit dongeng Israiliyyat yang disandarkan riwayatnya kepada segolongan daripada salafus salih yang terkenal dengan kepercayaan orang dan keadilannya. Mereka juga terkenal di kalangan orang-orang Islam dengan tafsir dan Hadith. Antara yang ditohmah ialah Abu Hurairah, Abdullah bin Salam, Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabih.
Israiliyyat juga hampir-hampir memalingkan manusia dari tujuan asal penurunan al-Quran dan melalaikan mereka daripada meneliti dan memahami maksud ayat-ayat al-Quran, lalai daripada mengambil manfaat dan iktibar, serta nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya atau membahaskan tentang hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Memalingkan mereka kepada perkara sia-sia yang tiada kebaikan padanya. Contohnya membahaskan warna anjing Ashabul Kahfi dan namanya, tentang tongkat Nabi Musa (a.s.), daripada pokok apakah ianya dibuat, tentang nama budak kecil yang dibunuh oleh Khidir dan sebagainya.
Inilah antara kesan terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap kesucian ajaran Islam hasil daripada riwayat Israiliyyat. Kaum Yahudi berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk merosakkan aqidah umat Islam dan melemahkan kepercayaan mereka terhadap pegangan suci mereka terhadap al-Quran dan al-Sunnah. Mereka juga berusaha untuk menggoncang kepercayaan umat Islam terhadap Salafussoleh yang telah berperanan untuk memikul risalah umat Islam dan menyebarkannya ke setiap penjuru Timur dan Barat. Oleh itu, umat Islam seharusnya memberi perhatian dan mengambil berat terhadap penyerapan Israiliyyat dalam tafsir-tafsir dan menghapuskannya.


PENULIS TAFSIR
Abd. al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh Abdurrauf Sheikhkuala, merupakan seorang tokoh agama, ahli tasawuf, negarawan dan karyawan. Beliau dilahirkan di Singkel, utara Fansur (Pantai Barat Sumatera). Mengenai tarikh kelahiran beliau tersebut, terdapat beberapa riwayat yang berbeza. Ada yang menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1001H/1592M, ada yang menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada 1024H/1615M, dan ada yang menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1029H/1620M. Bagaimanapun, tidak terdapat percanggahan tentang tarikh wafatnya iaitu beliau meninggal dunia pada tahun 1106H/1695M di Kuala Sungai Aceh. Abd. al-Rauf mendapat pendidikan awal daripada bapanya, Sheikh Ali al-Fansuri sehingga beliau menguasai ilmu-ilmu asas agama dan bahasa Arab. Abd. al-Rauf turut berguru dengan bapa saudaranya, Sheikh Hamzah Fansuri di Dayah Oboh Simpang Kiri (Singkel) dan dengan Sheikh Shamsuddin Sumarani di Pasai.  Beliau melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Tanah Arab iaitu di Makkah, Madinah, Yamman, Baitulmaqdis dan Istanbul. Dalam tempoh hampir dua puluh tahun di luar negeri, Abd. al-Rauf telah mempelajari pelbagai ilmu seperti fikah, hadith, tafsir, mantiq, falsafah, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah dan perubatan. Di samping itu, beliau mempelajari ilmu tasawuf mengikut tarekat Shattariyyah dan tarekat Qadariyyah sehingga beliau dikurniakan ijazah daripada dua tarekat tersebut. Dengan itu, beliau dikurniakan gelaran “Sheikh” yang bermaksud “pemimpin tarekat”.
Pada bulan Rabiulawal 1071H/1661M Abd. al-Rauf dilantik menjadi Kadi Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada zaman pemerintahan Ratu Safiatuddin dan kekal dengan jawatan itu hingga ke zaman Sultanah Sri Ratu Kamalatuddin Shah (1098H /1688 M 1109 H / 1699M). Beliau banyak menghasilkan buku, antaranya ialah kitab cUmdah al-Ahkam mengenai hukum-hukum Islam; al-Tarjuman al-Musafid atau Tafsir Anwar Baidhawi, tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu; Bayan Tajalli, yang membahas masalah falsafah ketuhanan, iaitu faham wahdah al-wujud yang berdasarkan manusia dan martabat tujuh sebagai gambaran Tuhan yang ditentang oleh Abd.  al-Rauf; Daqa’iq al-Huruf, mengenai rahsia-rahsia huruf; Shicr Macrifah, kumpulan sajak yang membahas masalah ketuhanan, dan Hidayah al-Balaghah cala Jumcat al-Mukhasamah, iaitu kitab hukum Islam mengenai sengketa. Bagi mengenang jasa beliau yang begitu besar dalam bidang pendidikan, pada 2 September 1961 namanya telah diabadikan menjadi nama sebuah universiti di Darussalam iaitu Universiti Sheikhkuala. Abdul Malik Abdul Karim (Hamka) (1999 1: 24) telah menyentuh mengenai ketokohan Shaykh Abdul Rauf Fansuri dalam pendahuluan kitab tafsir beliau, Tafsir al-Azhar. Beliau menyatakan: Bahawa usaha menterjemah dan mentafsirkan al-Quran menerusi penulisan Tafsir al- Azhar ialah sebagai menyambung dan meneruskan usaha yang telah dirintis oleh para Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 29 ulama terdahulu, termasuk kitab tafsir yang ditulis oleh Shaykh Abdul Rauf Fansuri pada abad ke-11H/17M.

TARJUMAN AL-MUSTAFID
Tarjuman al-Mustafid adalah sebuah kitab terjemahan yang dilakukan oleh Shaykh Abdul Rauf terhadap kitab tafsir Arab berjudul Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, karangan Imam al-Qadi al-Baydawi. Ia juga mungkin merupakan terjemahan daripada Tafsir Jalalayn.
Setelah penelitian dibuat terhadap kedua-dua kitab tafsir tersebut, didapati banyak perbezaan. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Abd. al-Rauf tidak menterjemah keseluruhan kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya al-Baydawi , tetapi ia dijadikan sebagai rujukan utama beliau, di samping kitab-kitab tafsir lain seperti Tafsir al-Khazin dan Tafsir al-Jalalayn.
Pendapat ini dikuatkan lagi dengan kenyataan seorang daripada penyunting kitab tafsir ini sendiri, iaitu Shaykh Ahmad al-Fatani dalam cetakan pertama.  Beliau berkata “inilah yang dinamakan Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawi yang diterjemahkan dengan bahasa Jawi yang diambil sesetengah maknanya dari Tafsir al-Baydawi. Kenyataan Shaykh Ahmad ini menunjukkan pihak penyunting sendiri telah menggunakan lafaz ‘sesetengah’ yang membawa maksud bukan semua isi kandungan kitab Shaykh Abdul Rauf Fansuri telah disalin dan diterjemah daripada kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya al-Baydawi.
Sebagai penulis tafsir paling awal di Nusantara, karya beliau tersebar ke seluruh wilayah Melayu - Indonesia. Bahkan cetakan edisinya diedar sehingga ke Afrika Selatan. Cetakan edisi-edisinya tidak hanya diterbitkan di Singapura, Penang, Jakarta dan Bombay tetapi juga diterbitkan di Timur Tengah. Disebabkan Tarjuman Mustafid diterbitkan di Timur Tengah maka ia mencerminkan ketinggian nilai karya ini serta ketinggian intelektual al-Singkili. Edisi terakhir beliau diterbitkan di Jakarta pada tahun 1981. Abd. al-Rauf banyak memberi sumbangan kepada perkembangan tafsir al- Quran di Nusantara. Beliau meletakkan dasar bagi batasan antara tarjamah dan tafsir. Ini mendorong beliau menelaah dengan lebih mendalam karya-karya tafsir dalam bahasa Arab. Tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya tafsiran lengkap al-Quran di Tanah Melayu selama tiga abad, sebelum munculnya tafsirtafsir baru di wilayah Melayu Indonesia. Namun ini tidak bererti tafsir tersebut telah kehilangan daya tarikannya.

ISRAILIYYAT DALAM KITAB TAFSIR ANWAR AL-BAIDHAWI
Artikel ini melihat satu sudut sahaja daripada kandungan kitab ini, iaitu yang berkaitan dengan riwayat-riwayat Israiliyyat. Riwayat-riwayat Israiliyyat yang bertentangan dengan akal dan syarak boleh mengurangkan nilai tafsiran tersebut, kerana ia tidak diperlukan dalam memahami ayat. Lebih daripada itu, ia boleh merosakkan pemikiran umat Islam khususnya mereka yang membaca tafsir-tafsir yang mengandungi riwayat-riwayat Israiliyyat tersebut. Artikel ini juga mengemukakan riwayat-riwayat Israiliyyat yang terdapat di dalam tafsiran ini sebagai satu usaha bagi memudahkan kalangan pembaca bagi membezakan antara tafsiran al-Quran yang sebenar dengan riwayat Israiliyyat.

BEBERAPA KISAH ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR
Antara kisah-kisah Israiliyyat yang terdapat dalam kitab Tafsir Anwar Baidhawi ialah:
Kisah Talut dan Jalut Kisah ini diceritakan oleh Allah (s.w.t.) dalam al-Quran bermaksud: Dan nabi mereka berkata lagi kepada mereka: Sesungguhnya tanda kerajaan Talut itu ialah datangnya kepada kamu peti tabut yang mengandungi (sesuatu yang memberi) ketenteraman jiwa dari Tuhan kamu, dan (berisi) sebahagian dari apa yang telah ditinggalkan oleh keluarga nabi-nabi Musa dan Harun, peti tabut itu dibawa oleh oleh malaikat, sesungguhnya peristiwa kembalinya tabut itu mengandungi satu tanda keterangan bagi kamu, jika benar kamu orang yang beriman (al-Baqarah 2: 248).


Abd. Rauf Fansuri mentafsirkan ayat ini dengan katanya: Dan telah berkata bagi mereka itu Nabi mereka itu tatkala dituntut mereka itu daripadanya tanda atas kerajaan Thalut itu bahawasanya tanda kerajaannya bahawa didatangkan akan kamu suatu peti di dalamnya ketetapan bagi segala hati kamu daripada Tuhan kamu dan yang mati daripada peninggalan Musa dan Harun pada hal menanggung akan dia segala malaikat. Tersebut di dalam Khazin adalah peti itu di dalamnya rupa segala nabi yang diturunkan Allah Taala ia atas Adam maka turun temurun hingga datang kepada Musa dan adalah mereka itu menuntut kemenangan pada Allah Taala dengan berkat peti itu atas seteru mereka itu dan dihantarkan mereka itu peti itu di hadapan mereka itu maka tatap (melihat) mereka itu kepadanya tatkala perang dan ditaruh di dalamnya oleh Musa, Taurat dan mata bendanya di taruh Harun di dalamnya tengkoloknya maka tatkala mati Musa tinggalah peti itu pada padang maka tatkala ditentu oleh mereka itu akan tanda kerajaan Thalut maka ditengking akan dia oleh malaikat antara langit dan bumi pada hal mereka itu menilik kepadanya hingga dihantarkan malaikat akan peti itu pada Thalut maka percayalah mereka itu akan kerajaan Thalut. 
Tafsiran ini jelas menunjukkan terdapatnya unsur-unsur Israiliyyat. Ini dapat dilihat menerusi tafsiran ayat yang dilakukan oleh pengarang mengenai kerajaan Talut. Dalam al-Quran, Allah (s.w.t.) ada menceritakan tentang kerajaan Talut, dan peti Tabut. Peti Tabut ini diceritakan sebagai tempat menyimpan kitab Taurat, tetapi tidaklah sampai kepada mempunyai segala nama dan rupa nabi-nabi dari Adam (a.s.) hingga Musa (a.s.). Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 31 Kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an juga mentafsirkan ayat tentang kerajaan Talut. Dalam kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an ini, diceritakan bahawa malaikat membawa peti yang berisi kitab Taurat kepada Talut. Peti tersebut ialah peninggalan daripada keluarga Nabi Musa (a.s.) dan Harun (a.s.). Apabila Nabi Musa (a.s.) wafat, pihak musuh mengambil peti tersebut. Terdapat juga pendapat yang menyatakan bahawa peti yang mengandungi naskah Taurat itu adalah pemberian daripada Allah Taala kepada Nabi Musa (a.s.) di Bukit Tur.
Kisah Nabi Sulaiman (a.s.) dengan Puteri Balqis Firman Allah (s.w.t.) dalam al-Quran bermaksud: Setelah itu dikatakan kepadanya, dipersilakan masuk ke dalam istana ini. Maka tatkala ia melihatnya, disangkanya halaman istana itu sebuah kolam air, serta iapun menyingsingkan pakaian dari dua betisnya. Nabi Sulaiman berkata, sebenarnya ini adalah sebuah istana yang diperbuat licin berkilat dari kaca. Mendengar yang demikian, Balqis berdoa: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dan sekarang aku menegaskan bahawa aku berserah diri memeluk Islam bersama-sama Nabi Sulaiman kepada Allah Tuhan sekalian alam (al-Naml 27: 44).
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi mentafsirkan maksud ayat ini dengan menyatakan: Tatkala dikhabarkan oleh jin kakinya seperti kaki keldai maka disuruh Sulaiman segala syaitan berbuat halaman dari kaca supaya dicubainya dengan tiada menyuruh membukakan kainnya maka tatkala disumbatkan oleh Balqis kainnya maka tahulah ia akan baik kakinya. Selain daripada itu, pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi ini juga menyatakan bahawa: Tatkala berkehendak kepada Sulaiman mengahwin dia maka benci ia akan bulu betisnya dan dibubuh oleh segala syaitan baginya kapur maka dihilangkannya ia dengan dia.
Sayyid Qutb mentafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahawa apabila Puteri Balqis tiba di istana Nabi Sulaiman, maka baginda pun dipersilakan masuk. Perkara yang memeranjatkan Balqis ialah keadaan istana tersebut yang diperbuat daripada kaca. Lantai istana itu dibina di atas air, dan ini membuatkan ia kelihatan seakan-akan seperti sebuah kolam air. Oleh kerana baginda menyangka bahawa baginda akan mengharungi sebuah kolam, baginda pun menyingsingkan kainnya. Keadaan ini menyebabkan Nabi Sulaiman menjelaskan rahsianya dengan berkata: “Sesungguhnya istana ini adalah sebuah istana yang dibuat dengan cara yang halus iaitu dari bahan kaca”.  Ibn Kathir pula menjelaskan bahawa ketika Puteri Balqis dipersilakan masuk ke dalam istana yang lantainya diperbuat daripada kaca dan kelihatan seperti sebuah kolam air, baginda masuk sambil menyingkapkan kainnya.
Setelah itu Nabi Sulaiman (a.s.) pun berkata: “Sesungguhnya bukanlah air yang engkau pijak, lantai ini sangat licin kerana diperbuat daripada kaca”. Puteri Balqis yang sangat kagum dengan struktur binaan istana tersebut, kemudiannya memeluk Islam.
Manakala menurut al-Maraghi, sebelum ketibaan Balqis, Sulaiman telah menyuruh bala tenteranya untuk membina sebuah istana besar yang lantainya diperbuat dari kaca putih yang licin. Di bawahnya terdapat air yang mengalir dengan pelbagai ikan dan lain-lain. Apabila Balqis tiba, Sulaiman menyambutnya di istana dan duduk di ruang tengah. Ketika Balqis hendak mendekati Sulaiman, Balqis menyangka lantai itu adalah air. Lalu Balqispun menyingsingkan kainnya supaya pakaiannya tidak basah seperti mana yang biasa dilakukan oleh orang yang menyeberangi air. Ketika itu Sulaiman pun berkata kepada Balqis: “Sesungguhnya apa yang kamu sangkakan air itu bukanlah air, tetapi ia adalah sebuah istana yang diperbuat daripada kaca”. Balqis segera menutupi betisnya dan beliau berasa amat kagum dengan ciptaan itu. Setelah itu, barulah Balqis menyedari bahawa ada lagi kerajaan lain yang lebih berkuasa dari kerajaannya. Sulaiman lantas menyeru Balqis supaya menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan selain daripada-Nya.
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 44, surah al-Naml dengan menyatakan bahawa jin telah mengkhabarkan kepada Sulaiman tentang kaki Puteri Balqis adalah seperti kaki keldai. Sulaiman lantas memerintahkan para syaitan supaya membina sebuah halaman dalam istana yang seakan-akan sebuah kolam air supaya Sulaiman dapat memastikan kebenaran cerita itu. Apabila Balqis berjalan di atas halaman yang dibina itu sambil menyingsingkan kainnya, maka Sulaiman mendapati kaki Balqis sebenarnya berkeadaan baik. Menurut riwayat ini juga, ketika Balqis menyingsing kainnya itu, Sulaiman terpandang akan bulu betisnya. Sulaiman tidak suka melihatnya lalu syaitan menghilangkannya dengan kapur.
Apabila riwayat Tafsir Anwar Baidhawi ini dibandingkan dengan pendapat para ahli tafsir seperti al-Fansuri, Sayyid Qutb, Ibn Kathir dan al-Maraghi, didapati tidak ada satu pun tafsiran daripada ahli tafsir yang menyentuh tentang perkara ini apatah lagi membenarkannya. Tafsiran para ahli tafsir didapati hanya menjelaskan tentang kekaguman Balqis terhadap istana yang dibina oleh Nabi Sulaiman (a.s.). Rasa kagum ini melahirkan keinsafan dan telah menyedarkan Balqis bahawa ada lagi kuasa lain yang lebih hebat daripada kekuasaannya.  Fenomena ini akhirnya membawa Balqis kepada Islam. Kisah yang menyatakan bahawa Balqis menyingkap kainnya ketika berjalan di dalam istana Sulaiman kerana menyangka beliau sedang menyeberangi sebuah kolam air juga adalah diakui kebenarannya oleh para ahli tafsir.
Bagaimanapun, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa ketika Balqis menyingsing kainnya, Sulaiman telah terpandang bulu betis Balqis dan membencinya serta tidak ada juga riwayat yang menjelaskan bahawa kaki Balqis adalah seperti kaki keldai seperti yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi. Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 33


Kisah Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.) Firman Allah (s.w.t.) dalam al-Quran bermaksud: Musa menjawab, perjanjian itu adalah antaraku denganmu (tetap dihormati bersama) yang mana sahaja dari dua tempoh itu aku tunaikan, maka janganlah aku disalahkan. Dan Allah jualah menjadi pengawas di atas apa yang kita katakan (al-Qasas 28: 28). 
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 28, surah al-Qasas ini dengan satu kisah, iaitu: Menurut kata mufassir, setelah selesainya akad Nabi Shu’aib (a.s.) telah menyuruh anak perempuannya memberi kepada Nabi Musa (a.s.) satu tongkat untuk menyelamatkan baginda daripada segala binatang yang buas ketika menjaga kambing. Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi ini juga didapati meriwayatkan bahawa tongkat semua nabi berada pada tangan Nabi Shu’aib. Manakala tongkat yang berada pada anak perempuan Nabi Shu’aib (a.s.) adalah tongkat Nabi Adam (a.s.) yang diperbuat daripada sejenis kayu, yang bernama As Asol yang diambil daripada syurga, kemudian diambil oleh Nabi Musa (a.s.) dengan pengetahuan Nabi Shu’aib.
Apabila dirujuk kepada kitab-kitab yang peka terhadap persoalan Israiliyyat, seperti Sayyid Qutub, di dapati beliau mentafsirkan ayat 28, surah al-Qasas ini dengan menyatakan bahawa apabila Nabi Musa (a.s.) menerima tawaran dan perjanjian itu mengikut syarat-syarat yang ditetapkan oleh Nabi Syu’aib (a.s.), maka Nabi Musa (a.s.) pun berkata: “Dan mana-mana sahaja daripada dua tempoh kerja itu saya tunaikan maka hendaklah tidak ada apa-apa tuntutan yang lain lagi ke atas saya. Dan Allah juga yang menjadi saksi di atas apa yang kita katakan ini”. Ertinya apabila cukup tempoh selama lapan tahun Nabi Musa (a.s.) bekerja maka hendaklah tidak ada lagi tuntutan yang lain melebihi tugas-tugas kerja tersebut kerana kerja yang lebih itu hanyalah merupakan kerja sukarela sahaja. Nabi Musa (a.s.) telah membuat penjelasan ini sesuai dengan kejujuran hatinya dan ketegasan sahsiahnya, sedangkan beliau sendiri telah berniat untuk menunaikan kerja yang lebih baik.  Ibn Kathir (1966: 274) pula menyatakan bahawa di dalam ayat sebelumnya iaitu ayat 27, surah al-Qasas, Nabi Syu’aib telah menerima cadangan puterinya supaya mengambil Musa (a.s.) bekerja dengan baginda, lalu Nabi Syu’aib (a.s.) pun memanggil Nabi Musa (a.s.) dan berkata: Wahai Musa, aku ingin mengahwinkan engkau dengan salah seorang daripada puteriku ini dengan mas kahwinnya engkau hendaklah bekerja denganku selama lapan tahun. Jika engkau hendak memanjangkan tempoh kerjamu selama sepuluh tahun, maka itu aku anggap sebagai kerja sukarela dan aku tidak memaksa. Kemudian dalam ayat 28, surah al-Qasas ini, Nabi Musa (a.s.) menjawab: Aku menerima tawaranmu ini dengan perjanjian sebagaimana yang engkau tetapkan iaitu bekerja selama lapan tahun dan sekiranya aku bersetuju, aku boleh memanjangkan masa kerjaku sehingga sepuluh tahun. Allahlah yang menjadi saksi atas apa yang telah kita ucapkan.
Al-Maraghi dalam mengutarakan pendapatnya berhubung maksud ayat 28, surah al-Qasas ini menyatakan bahawa Nabi Musa (a.s.) telah berkata: Apa yang engkau syaratkan kepadaku adalah untukmu dan apa yang engkau syaratkan kepadaku untuk mengahwini di antara salah seorang daripada puterimu adalah untukku. Kita masing-masing tidak boleh keluar dari syarat yang telah kita persetujui ini”. Kemudian Nabi Musa (a.s.) menyambung lagi: “Apabila aku telah menyempurnakan lapan atau sepuluh tahun untuk mengembala kambing, itu bermakna aku telah menyempurnakan syaratmu. Oleh itu, engkau tidak berhak yang lebih daripada itu. Dan sesungguhnya Allahlah yang menjadi saksi kepada perjanjian kita.  Dalam mentafsirkan ayat 28, surah al-Qasas ini, para ahli tafsir tidak pernah menyebut tentang adanya tongkat yang diberikan oleh anak perempuan Nabi Syu’aib (a.s.) kepada Nabi Musa (a.s.). Apatah lagi tentang asal-usul tongkat tersebut yang dikatakan salah satu daripada tongkat nabi-nabi dan berasal dari syurga. Al-Quran hanya menceritakan tentang akad perjanjian yang berlaku di antara Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.). Dalam perjanjian tersebut, Nabi Syu’aib telah berjanji akan mengahwinkan Nabi Musa (a.s.) dengan salah seorang daripada anak perempuannya sekiranya Nabi Musa (a.s.) bersetuju untuk bekerja selama lapan tahun bersama baginda dan syarat ini dipersetujui oleh Nabi Musa (a.s.).

Kisah Nabi Musa (a.s.) dengan Firaun Firman Allah dalam al-Quran yang bermaksud: Dan Firaun pula berkata, hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada bagi kamu Tuhan selain daripadaku. Oleh itu wahai Hamman, bakarkanlah untukku batu-bata serta binalah untukku bangunan yang tinggi supaya aku boleh naik untuk melihat Tuhan Musa yang dikatakan itu. Dan sesungguhnya aku percaya Musa daripada kalangan orang-orang yang berdusta (al-Qasas 28: 38).
Al-Fansuri telah mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini dengan katanya: Tersebut di dalam al-Khazin, tatkala selesailah mereka membina mahligai (tangga) seperti yang disuruh itu, maka naiklah Firaun ke atas dan disuruhnya panah ke langit. Setelah anak panah itu kembali kepadanya, didapati anak panah itu berlumuran dengan darah dan Firaun mengatakan bahawa beliau telah membunuh Tuhan Musa (al-Fansuri t.th.: 322).
Dalam mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini, pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi menyatakan bahawa ketika Nabi Musa (a.s.) menyeru Firaun kepada Islam, Firaun telah mempersendakan kata-kata Nabi Musa (a.s.). Dalam usaha untuk menimbulkan keraguan terhadap kebenaran kata-kata Nabi Musa (a.s.), beliau telah memerintahkan pembesarnya yang bernama Hamman supaya membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.). Setelah itu, Firaun menaiki tangga tersebut lalu memanah ke langit. Menurut riwayat ini lagi, apabila anak panah itu kembali kepadanya, anak Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 35 panah tersebut dipenuhi dengan darah. Firaun kemudian mendakwa bahawa beliau telah membunuh Tuhan Nabi Musa (a.s.).
Cerita ini jelas bertentangan dengan tafsiran yang dibuat oleh para ahli tafsir yang muktabar. Menurut tafsiran mereka, ayat 38, surah al-Qasas ini adalah menceritakan tentang keangkuhan Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan serta berlaku zalim terhadap rakyatnya. Justeru itu, apabila Nabi Musa (a.s.) mendakwa ada Tuhan selain daripadanya, dia berasa tercabar lalu memerintahkan pembesarnya untuk membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit.  Tujuannya adalah untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.). Sebenarnya, katakata Firaun ini bukanlah menunjukkan kesungguhannya melainkan sekadar hanya untuk mempersendakan Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan pada masa yang sama bertujuan untuk menimbulkan keraguan di kalangan rakyatnya terhadap kebenaran dakwaan Nabi Musa (a.s.).
Namun begitu, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa Firaun telah naik ke langit untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan memanah ke langit lalu apabila anak panah itu kembali kepada Firaun, anak panah itu berlumuran darah sebagaimana yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi. Hal ini jelas membuktikan kepalsuan cerita ini.
Sayyid Qutb (1974: 67) dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan bahawa Allah telah menceritakan tentang Firaun yang telah menyeru kepada pembesarnya dengan menyatakan: “Wahai pembesar-pembesarku, setahu aku kamu tidak mempunyai Tuhan yang lain selain daripadaku”. Kata-kata Firaun ini berlandaskan kisah dongeng yang terkenal di Mesir dalam menghubungkan raja-raja dengan tuhan-tuhan dan juga berdasarkan kuasa paksaan yang tidak membenarkan para hambanya berfikir dan bercakap. Mereka sedar bahawa Firaun hanya seorang manusia sama seperti mereka yang akan hidup dan mati, namun apabila Firaun mengeluarkan kata-kata seperti ini, mereka hanya mampu mendengar tetapi tidak mampu membantah.
Kemudian dia berpura-pura menunjukkan kesungguhan hendak mengetahui hakikat yang sebenar dengan mencari Tuhan Musa (a.s.), sedangkan tujuannya yang sebenar adalah untuk mengejek dan menyenda. Katanya: “Wahai Hamman!  Bakarlah untukku tanah liat, kemudian binakan untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa di langit”. Kemudian dengan kata-kata mengejek pula dia berpura-pura meragui kebenaran Musa, tetapi dia terus mencari dan menyiasat untuk mendapatkan hakikat sebenar.  Menurut pendapat Ibn Kathir (1966: 282-283 ) pula, ayat 38, surah al-Qasas ini menjelaskan tentang gaya hidup Firaun yang sombong dan kejam terhadap rakyatnya. Tidak cukup dengan itu, beliau turut mengingkari kenabian Nabi Musa (a.s.) dan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh manusia. Beliau berkata:
Wahai sekalian rakyatku, aku tidak mengetahui dan mengenal Tuhan bagimu selain aku dan aku telah memerintahkan kepada Hamman supaya membina sebuah gedung yang tinggi menjulang ke langit agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Aku yakin bahawa dia 36 Isla-miyya-t 26(2) adalah seorang pendusta yang mengatakan ada Tuhan selain aku serta menyuruh sekelian kamu menyembah Tuhannya itu.
Dalam pada itu, al-Maraghi berpendapat bahawa kata-kata Firaun itu secara zahirnya menunjukkan kebijaksanaannya. Beliau berharap dengan kata-kata itu rakyatnya akan menerima dirinya sebagai Tuhan. Ada dua kalimah yang diucapkan oleh Firaun iaitu: “Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain aku” dan “Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi”. Maksudnya Firaun menganggap tidak ada Tuhan selainnya tetapi rakyatnya menyembah Tuhan Musa dan membenarkan kata-kata yang dibawa oleh Nabi Musa (a.s.).  Bagaimanapun, menurut ar-Razi seperti yang dinukilkan oleh al-Maraghi berhubung ayat 38, surah al-Qasas ini, pengakuan Firaun sebagai Tuhan tidak bermaksud bahawa beliau mengaku dirinya sebagai pencipta langit, bumi, laut, gunung dan manusia kerana baginya, setiap orang yang berakal sudah tentu mengetahui hal itu. Tetapi yang dimaksudkan oleh beliau ialah kewajipan menyembah kepadanya.

KESIMPULAN
Kitab Tafsir Anwar Baidhawi adalah sebuah kitab yang mengandungi banyak kisah-kisah Isra’iliyyat. Apa yang dibincangkan dalam artikel ini hanyalah sebahagian kecil daripadanya sahaja. Kisah-kisah Israiliyyat adalah kisah-kisah yang bukan sahaja boleh merosakkan tafsiran yang sahih, malah ia juga boleh mencetuskan kekeliruan di kalangan umat Islam. Bagaimanapun, kitab Tafsir Anwar Baidhawi ini adalah antara kitab tafsir dalam bahasa Melayu yang banyak digunapakai oleh masyarakat Melayu dalam usaha mereka untuk memahami tafsir kitab Allah (s.w.t.). Sebagai cadangan bagi menangani isu kekeliruan di kalangan umat Islam, penjelasan atau tafsiran hendaklah disertakan sama ada di akhir kisah-kisah tersebut bagi menyatakan bahawa apa yang diriwayatkan tersebut adalah dari periwayatan Israiliyyat, atau yang paling baik pengarang tidak menukilkan atau memasukkan kisah-kisah tersebut di dalam kitab-kitab tafsiran mereka. Cadangan ini perlu diberi perhatian dan diambil tindakan oleh semua pihak yang terlibat dalam pentafsiran kitab Allah (s.w.t.). Ini adalah kerana golongan sasaran yang akan membaca kitab-kitab tafsir mereka adalah mungkin terdiri daripada kalangan orang Melayu yang tidak mempunyai pengetahuan mengenai Israiliyyat yang menyebabkan mereka menyangka bahawa itulah tafsiran sebenar terhadap kisah-kisah yang terdapat di dalam al-Quran.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Haji. 1999. Tafsir al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.
Abdullah Basmeih. 1980. Tafsir pimpinan al-Rahman. Kuala Lumpur: Darulfikr. Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 37
al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad b. Ismail. t.th. Matan al-Bukhari bi hasyiah al- Sindi. Misr: Mitbaah Faisal Isa al-Babi al-Halabi.
al-Fansuri, Abd. Rauf bin Muhammad Ali. t.th. Tafsir Anwar al-Baidhawi. Thailand:
Al-Qurtubi, Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansari. t.th. al-Jamic al-ahkam al- Qur’an. Qaherah: Dar al-Bayan li al-Turath.
al-Suyuti, cAbdul Rahman Jalaluddin. 1983. al-Darul al-Mansur fi tafsir al-Qur’an . Lubnan: Dar al-Fikr.
Bahasa dan Pustaka. Sayyid Qutb. 1994. Fi zilal al-Qur’an. Beirut: Dar al-Shuruq.
Ibn Kathir, Ismail bin Kathir al-Qurasyi al-Dimasyqi. 1970. Tafsir al-Qur’an al-cAzim. Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Khaldun. Abd al-Rahman b. Khaldun al-Maghribi. 1968. Muqaddimah Ibn Khaldun. Beirut: Dar Maktabah al-Hayat.
Mahayuddin Hj. Yahya. 1986. Ensiklopedia sejarah Islam. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
Maktabah Wa Mitbaah Muhammad Nahdi Wa Awladuh.  al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-cArabiyyah.
Muhammad b. Muhammad Abu Shahbah. 1408H. al-Israiliyyat wa al-mawducat fi Kutub al-tafsir. Qaherah: Maktabah al-Sunnah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. 1990. al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadith. Qaherah: Maktabah Wahbah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. t.th. al-Tafsir wa al-mufassirun. Qaherah: Maktabah Wahbah. Rozali Adam. 1985. Al-Quran di antara tafsir dan Isra’iliyyat. Kuala Lumpur: Dewan

FILSAFAT ILMU

PARADIGMA DALAM FILSAFAT ILMU
POSITIVISME DAN FENOMENOLOGI

Paradigma yaitu perspektif atau kerangka acuan untuk memandang dunia. Apabila diartikan secara umum adalah sebagai perangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak sehari-hari. Bisa di ibaratkan sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya.

A.    POSITIVISME
Positivisme adalah apa yang berdasarkan fakta-fakta. Tokoh yang memperkenalkan ajaran Positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857). Positivisme pun mengutamakan pengalaman. Berbeda dengan empirisme yang menerima pengalaman bathiniah atau subjek sebagai sumber pengetahuan.

Keyakinan dasar akidah ini berakar dari paham ontologi realisme (apa yang ada pada kenyataan yang sesuai dengan hukum alam)

Upanya dari penelitian posiivisme adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan yang dimana pengkajiannya menggunakan metodologi eksperimen empirik. Contohnya; fakta sosial.

Syarat-syarat positivisme meliputi;
1.    Peneliti terjun secara langsung
2.    Objek yang jelas
3.    penelitian secara mendalam
4.    Pengumpulan data
5.    Penyimpulan

Adapun Objek ilmu pengetahuan dalam positivisme harus memenuhi syarat:
1.    Dapat di / teramati (Opserteble)
2.    Dapat di/ terulang (Repeatable)
3.    Dapat di/ terukur (Measurable)
4.    Dapat di/ teruji (Testable)
5.    Dapat di/ teramakan (Predictable)

Syarat bagian pertama sampai dengan tiga merupkan syarat yang diberlakukan atas objek ilmu pengetahuan. Sedangkan dua syarat terakhir, diberlakukan atas proposisi-proposisi ilmiah. Karena syarat-syarat itulah paradigma positivisme ini sangat behavioral, oprasional, dan kuantitatif.

B.    FENOMENOLOGI
Fenomenologi secara bahasa diartikan gejala, secara istilah yaitu suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang menampakkan diri. Dapat diartikan sebagai suatu metode berfikir tertentu yang teliti secara Khas.

Tokoh terkenal filsafat fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938). Ia berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Inti pemikiran dalam filsafat ini adalah untuk menemukan pemikiran secara benar.

Penganut faham filsafat fenomenologi  Max Scheller (1874-1928), dan Nicolai Hartma. Scheller mengemukakan bahwa yang diutamakan dalam filsafat ini adalah penyelidikan secara fenomenologi etika dan filsafat agama. Yang artinya manusia itu bukanlah pencipta nilai tingkah laku, melainka nilai-nilai itu berlaku lepas dari pada manusia.

Ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pedekatan fenomenologi, yaitu;
1.    Reduksi Fenomenologis (menampakkan diri)
Ini merupakan pembersihan diri dari segala subjektivitas yang dapat mengganggu perjalanan mencapai realitas.
2.    Reduksi Eidetis (inti sari)
Ialah penyaringan atau penempatan yang menghasilkan penilikan realitas. Reduksi ini menunjukkan bahwa dalam fenomenologi kriteria kohersi berlaku. Artinya, pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap objek harus dapat disatukan dalam suatu horizon yang konsisten
3.    Reduksi Fenomenologi-Transendetal
Dalam reduksi ini bukan lagi mengenai ojek atau fenomena, bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran Reduksi, ini merupakan pengarah ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran yang menghasilkan aktus kesadaran diri

Tujuan kesemua reduksi adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi sebagai fenomena asli dalam kesadaran manusia.


SIMPULAN
Positivisme adalah  apa yang berdasarkan fakta-fakta. Sedangkan Fenomenologi secara bahasa diartikan gejala jika secara istilah yaitu suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang menampakkan diri

Positivisme dan fenomenologi merupakan kajian dalam mencari kebenaran yang dimana untuk menuju jalan kebenaran tersebut didapat melalui pengalaman dan kenyataan (menampakkan diri) dengan syarat-syarat sebagai berikut;
Positivisme:
1.    Dapat di / teramati (Opserteble)
2.    Dapat di/ terulang (Repeatable)
3.    Dapat di/ terukur (Measurable)
4.    Dapat di/ teruji (Testable)
5.    Dapat di/ teramakan (Predictable)

Fenomenoogi:
1.    Reduksi Fenomenologis (menampakkan diri)
2.    Reduksi Eidetis (inti sari)
3.    Reduksi Fenomenologi-Transendetal






DAFTAR PUSTAKA

Harun Hadiwidjono, Sari Sejarah filsafat Barat
K. Bertens, Filsafat Barat dalam Abad XX, Dan Ringkasan Sejarah Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia.
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu, Belukar, Yogyakarta.
Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika, Kencana, Jakarta.
Ulya, Filsafat Ilmu.

RELEVANSI SUNNAH DALAM ISLAM

RELEVANSI SUNNAH DALAM ISLAM

A.    PENDAHULUAN
Perdebatan modern mengenai kewenangan keagamaan terbentuk dari hal-hal yang orang muslim saksikan sewaktu mereka menoleh ke belakang kepada sejarah awal Islam. Akibatnya, perdebatan modern ini tidak boleh dodekati dalam kekosongan sejarah, seolah-olah perdebatan tersebut menggambarkan tantangan baru dan tidak terduga terhadap gagasan tradisional mengenai kewenangan keagamaan.
Berbagai kontroversi seputar sunnah, baik yang kuno maupun yang modern, harus dipandang sebagai akibat wajar yang esensial dari upaya orang Muslim untuk menyesuaikan doktrin terhadap perubahan keadaan. Karena sunnah merupakan symbol kewenangan Nabi Muhammad SAW., dan merupakan sumber kesinambungan dengan masa lalu, tidak ada perselisihan ajaran, kontroversi hukum, pembahasan tafsir, yang dapat dilakukan tanpa merujuk kepada sunnah. Bahkan bagi mereka yang mencoba menolak kewenangan sunnah, sunnah terbukti penting untuk diabaikan. Akibatnya, orang Muslim menghasilkan spectrum pendekatan mereka sendiri terhadap sunnah, suatu spectrum yang sungguh mirip dengan spectrum modern.. disinilah letak hubungan antara perdebatan kuno dan modern mengenai sunnah, dan pentingnya perdebatan lama bagi studi ini.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah kali ini, kami akan memaparkan tentang relevansi sunnah dalam Islam dilihat dari;
1.    Konsensus Klasik
2.    Sunnah Nabi Muhammad SAW. dan sunnah-sunnah lainnya
3.    Sunnah dan Al-Qur'an
Dan beserta apa saja yang berkaitan tentang hal tersebut. Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari bersama.

C.    PEMBAHASAN
1.    Konsensus Klasik
a.    Sunnah dalam Pandangan As-Syafi'i
Kebanyakan teori klasik mengenai sunnah memasukkan tiga elemen yang penting. Istilah sunnah menunjuk kepada contoh autoriatif yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. dan yang dicatat dalam tradisi (hadis, akhbar) mengenai perkataannya, tindakannya, persetujuannya atas perkataaanatau perbuatan orang lain, serta karakteristik (shifat) kepribadiannya. Dengan demikian elemen pembatas pertama dalam doktrin sunnah, dalam bentuknya yang matang, merupakan identifikasi eksklusif istilah tersebut dengan Nabi Muhammad SAW., sunnah berdasarkan pengertiannya adalah sunnah Nabi. Elemen kedua teori klasik sunnah adalah identifikasi sempurna sunnah dengan riwayat-riwayat hadis yang bisa dilacak mata rantainya hingga Nabi Muhammad SAW. dan dinilai sahih, sunnah sepadan dengan tradisi autentik. Sifat pembatas sunnah yang  ketiga adalah, statusnya sebagai wahyu. Sunnah menurut ajaran klasik, diwahyukan oleh Allah melalui perantara Rasululah seperti halnya Al-Qur'an.
Blok-blok bangunan utama consensus klasik mengenai sunnah diletakkan oleh Muhammad Ibn Idris As-Syafi'i. Tampaknya As-Syafi'I sendirilah yang mengintregrasi blok-blok bangunan ini menjadi suatu system yurisprudensiyang saling terkait, dan secara efektif memperjuangkan pengadopsian metodenya sebagai satu-satunya pendekatan yang sah terhadap sunnah. Usahanya yang besar berupa identifikasi klasik sunnah dengan preseden spesifik yang digariskan Nabi Muhammad SAW., yaitu dengan tradisi autentik yang berasal dari Rasulullah sendiri. As-Syafi'I mengarahkan sebagian besar polemiknya terhadap gagasan fleksibel sunnah sebagai kumpulan praktik yang telah diterima dalam mazhab-mazhab hukum awal, yan goleh Schacht disebut sebagai "tradisi hidup" mazhab-mazhab.
Bukti keberhasilan As-Syafi'I dalam memperjuangkan identifikasi sunnah dengan hadist Nabi  SAW. dan dalammenegakkan superioritas sunnah atas sumber-sumber preseden lain adalah jelas; setelah As-Syafi'i, jarang kita menemukan istilah sunnah digunakan untuk selain sunnah Nabi Muhammad SAW.

b.    Sunnah sebelum As-Syafi'i
Kata sunnah mendahului kemunculan Islam, dan terbukti kebenarannya dalam sumber-sumber pra-Islam. Sunnah berasal dari makna akar kata kerja sanna, "membentuk" dan kemudian diperluas menjadi "melembagakan, membentuk, atau menentukan",  pengertian diatas menunjuk kepada tindakan, yang lewat tindakan itu menentukan sesuatu. Akibatnya, sunnah tentu saja menunjuk kepada suatu praktik yang ditentukan atau dilembagakan oleh orang tertentu atau sekelompok orang tertentu.
Gagasan pra-Islam tentang sunnah sangatlah hampir pasti diterapkan kepada Nabi SAW., bahkan semasa beliau masih hidup. Tidaklah mungkin seorang tokoh politik atau agama terkemuka dan mulia sperti Nabi Muhammad SAW. tidak dengan secara sadar berusaha diikuti oleh para pengikutnya.
Sejak awal, Nabi Muhammad, sebagai pembawa pesan Alah, telah menjadi focus kewenangan keagamaan. Namun, sewaktu Rasulullah tidak lagi bersama, orang-orang muslim tidaklah satu pikiran mengenai bagaimana pengganti kewenangan Nabi SAW.  seharusnya. Pada tahun-tahun awal setelah Rasulullah wafat, mungkin asumsi yang dominant, yang terlestarikan dalam gagasan Syi'ah tentang autoritas keagamaan adalah bahwa kewenangan Nabi SAW. dilanjutkan oleh pengganti yang karismatik. Gagasan keagamaan seperti itu akan membuat sunnah dalam formulasinya yang klasikmenjadi kurang lebih tidak relevan.
Oleh karena itu, gagasan Muslim awal mengenai sunnah berbeda dengan definisi sunnah klasik sunnah dalam beberapa hal penting. Pertama, orang-orang muslim awal tidak menempatkan sunnah Nabi Muhammad SAW. lebih tinggi daripada sunnah-sunnah orang muslim terkemuka lainnya. Kedua, pada tahap awal ini, orang muslim tidak selalu mengidentifikasikan sunnah dengan riwayat khusus mengenai Nabi Muhammad SAW, yaitu riwayat hadis tidak menjadi wahana eksklusif bagi sunnahnya sehingga tidak terjadi perbedaan yang kaku antara berbagai sumber kewenangan keagamaan, terutama antara sunnah dan al-Qur'an.

2.    Sunnah Nabi Saw. dan "Sunnah-Sunnah" lainnya
Pokok perbedaan yang sangat jelas antara gagasan sunnah pra dan pasca Syafi'I berkenaan dengan hubungan antara sunnah Nabi SAW. dan "sunnah-sunnah" lainnya. Hal pokok dalam system as-Syafi'I adalah keunikan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Di bandingkan dengan semua sumber kewenangan lainnya. Bagi as-Syafi'I, satu-satunya sunnah yang sejati adalah sunnah Nabi SAW., dan sunnah ini secara eksklusif dia identifikasikan dengan hadis-hadis autentik Rasulullah.
Akan tetapi, terdapat banyak bukti dari tulisan-tulisan as-Syafi'I sendiri, bahwa evaluasi sunnah Rasulullah berkembang dengan lambat, dan bahwa dalam pikiran orang Muslim awal sunnah Nabi SAW. hanyalah salah satu dari beberapa sumber potensial kewenangan keagamaan, termasuk al-Qur'an, sunnah para para sahabat, dan sunnah para khalifah yang pertama. Apapun Sumber tradisi ini, mereka yang menyebarluaskan dan mengutipnya, melakukannya guna menegaskan kesamaan dalam teori dan, dalam beberapa hal, superioritas dalam praktik sumber-sumber lain kewenangan tradisi dari Rasulullah Saw.

3.    Sunnah Nabi Saw. dan Hadis Nabi Saw.
Perdabatan penting kedua antara gagasan orang-orang muslim awal mengenai sunnah dan gagasan periode klasik, berkaitan dengan hubungan antara sunnah Rasulullah dan hadist. Kandungan sunnah, dalam penggunaan klasiknya, bersifat spesifik; sunnah koekstensif dengan hadist sahih yang bersambung sampai ke Nabi Muhammad SAW., sebaliknya, bagi banyak orang muslim awal, sunnah dan hadist secara konseptual tetap independent, an kedua konsep itu tidak sepenuhnya bersatu, hingga setelah as-Syafi'i. kita terutama menyaksikan pemisahan antara sunnah dan hadist dalam riwayat-riwayat sejarah awal, yakni "sunnah" sering digunakan dalam pengertian secara umum menunjukkan tidak lebih daripada "norma-norma yang bisa diterima" atau "adapt-istiadat" dan sunnah Nabi SAW., bukanlah berkonotasi sebagai perangkat preseden yang dapat dikenali dan khusus, melainkan seruan umum terhadap prinsip-prinsip keadilan.
Tulisan-tulisan teologis awal menawarkan lebih banyak bukti mengenai kebebasan "sunnah" dari preseden spesifik. Al-Hasan al-Bashri dalam kitabnya Risalah fi al-Qadar, menyebutkan sunnah Rasul dengan cara yang sangat umum namun tidak merujuk kepada kasus-kasus khusus, meskipun ada permintaan khusus Abdul Malik mengenai riwayat dari setiap sahabat Rasulullah. 
Anggapan bahwa gagasan sunnah berbeda dengan fenomena penyampaian hadist tidak seharusnya ditafsirkan sebagai menunjukkan bahwa pola penyampaian hadist itu sendiri merupakan perkembangan baru.

4.    Sunnah dan Al-Qur'an
Sejauh ini sebelum as-Syafi'I, sunnah merupakan suatu prinsip kewenangan yang teridentifikasikan sangat erat namun tidak eksklusif dengan Nabi Muhammad SAW., dan bahwa gagasan sunnah secara konseptual tetap terlepas dari preseden hadis spesifik. Kaum muslimin awal tidak membuat perbedaan yang tajam antara berbagai sumber kewenangan yang dalam periode klasik, dibedakan secara tajam. Selama tahun awal Islam, Al-Qur'an, Sunnah Nabi SAW., sunnah sahabat Nabi SAW., dan para khalifah awal berada dalam suatu massa tradisi yang sebagian besar tidak terdiferensiasi, yang keseluruhannya ditandai dengan aura wahyu.
Namun, dalam lingkungan keagamaan dan politik yang semakin rumit, pendekatan yang tidak sistematis ini tidak dapat bertahan. Pada saat konflik mengguncang masyarakat, timbul kebutuhan yntuk menemukan penyangga yang kuat atas pandangan dan cara meruntuhkan alas an-alasan yang diajukan orang yang menentang. Hal ini membutuhkan hierarki material yang diwahyukan, yaitu bukti-bukti yang disukai dapat dibenarkan dan bukti-bukti penolakan yang dapat dilenyapkan. Material "wahyu" yang banyak jumlahnya harus dibedakan secara sistematis. Akibat kemungkinan ini, timbul berbagai disiplin yurisprudensi (Ushul Fiqh), kritisisme hadist ('ulumul hadist), dan penghapusan (al-nash waal-mansukh).
Isu sentran dalam perdebatan ini adalah status relative berbagai sumber autoritas hukum; Al-Qur'an, Sunnah Rasul SAW., Sunnah para autoritas lainnya, dan berbagai metode pertimbangan hukum seperti qiyas dan istihsan.

D.    SIMPULAN

Kebanyakan teori klasik mengenai sunnah memasukkan tiga elemen yang penting. Istilah sunnah menunjuk kepada contoh autoriatif yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. dan yang dicatat dalam tradisi (hadis, akhbar) mengenai perkataannya, tindakannya, persetujuannya atas perkataaanatau perbuatan orang lain, serta karakteristik (shifat) kepribadiannya. Dengan demikian elemen pembatas pertama dalam doktrin sunnah, dalam bentuknya yang matang, merupakan identifikasi eksklusif istilah tersebut dengan Nabi Muhammad SAW., sunnah berdasarkan pengertiannya adalah sunnah Nabi. Elemen kedua teori klasik sunnah adalah identifikasi sempurna sunnah dengan riwayat-riwayat hadis yang bisa dilacak mata rantainya hingga Nabi Muhammad SAW. dan dinilai sahih, sunnah sepadan dengan tradisi autentik. Sifat pembatas sunnah yang  ketiga adalah, statusnya sebagai wahyu. Sunnah menurut ajaran klasik, diwahyukan oleh Allah melalui perantara Rasululah seperti halnya Al-Qur'an.

Sejak awal, Nabi Muhammad, sebagai pembawa pesan Alah, telah menjadi focus kewenangan keagamaan. Namun, sewaktu Rasulullah tidak lagi bersama, orang-orang muslim tidaklah satu pikiran mengenai bagaimana pengganti kewenangan Nabi SAW.  seharusnya. Pada tahun-tahun awal setelah Rasulullah wafat, mungkin asumsi yang dominant, yang terlestarikan dalam gagasan Syi'ah tentang autoritas keagamaan adalah bahwa kewenangan Nabi SAW. dilanjutkan oleh pengganti yang karismatik. Gagasan keagamaan seperti itu akan membuat sunnah dalam formulasinya yang klasikmenjadi kurang lebih tidak relevan.
Pokok perbedaan yang sangat jelas antara gagasan sunnah pra dan pasca Syafi'I berkenaan dengan hubungan antara sunnah Nabi SAW. dan "sunnah-sunnah" lainnya. Hal pokok dalam system as-Syafi'I adalah keunikan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Di bandingkan dengan semua sumber kewenangan lainnya. Bagi as-Syafi'I, satu-satunya sunnah yang sejati adalah sunnah Nabi SAW., dan sunnah ini secara eksklusif dia identifikasikan dengan hadis-hadis autentik Rasulullah.
 Anggapan bahwa gagasan sunnah berbeda dengan fenomena penyampaian hadist tidak seharusnya ditafsirkan sebagai menunjukkan bahwa pola penyampaian hadist itu sendiri merupakan perkembangan baru.

Namun, dalam lingkungan keagamaan dan politik yang semakin rumit, pendekatan yang tidak sistematis ini tidak dapat bertahan. Pada saat konflik mengguncang masyarakat, timbul kebutuhan yntuk menemukan penyangga yang kuat atas pandangan dan cara meruntuhkan alas an-alasan yang diajukan orang yang menentang. Hal ini membutuhkan hierarki material yang diwahyukan, yaitu bukti-bukti yang disukai dapat dibenarkan dan bukti-bukti penolakan yang dapat dilenyapkan. Material "wahyu" yang banyak jumlahnya harus dibedakan secara sistematis. Akibat kemungkinan ini, timbul berbagai disiplin yurisprudensi (Ushul Fiqh), kritisisme hadist ('ulumul hadist), dan penghapusan (al-nash waal-mansukh).
Isu sentran dalam perdebatan ini adalah status relative berbagai sumber autoritas hukum; Al-Qur'an, Sunnah Rasul SAW., Sunnah para autoritas lainnya, dan berbagai metode pertimbangan hukum seperti qiyas dan istihsan.





E.    PUSTAKA

·    Al-Ghazali, Kitab Al-Musthofa, Juz III, Kairo 1435 H.
·    Al-Jurjani, al-Ta'rifat, Kairo, 1312 H.
·    Bravmann, The Spiritual of Early Islam, Leiden, 1972.
·    Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Oxford, 1950, terj.
·    Juynboll, Jerusalem Studies in Arabic and Islam, 1987.
·    Patricia Crone, Martin Hinds, God's Caliph: Religious Authority in the First Centuries of Islam, Cambrige, 1986.
·    Muhammad Ibn Idris As-Syafi'I, Kitab Al Umm, Kairo 1321-1325 H.
·    William Graham, Divine Word and Propethic Word in Early Islam, Den Haag, 1997.

JENIS ZAKAT

Jenis Zakat

1.    Zakat Fitrah/Fidyah

Dari Ibnu Umar ra berkata :
"Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha' kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari ummat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk sholat ('iid ). ( Mutafaq alaih ).
Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,176 kg. Sedangkan makanan yang wajib dikeluarkan yang disebut nash hadits yaitu tepung, terigu, kurma, gandum, zahib (anggur) dan aqith (semacam keju). Untuk daerah/negara yang makanan pokoknya selain 5 makanan di atas, mazhab Maliki dan Syafi'i membolehkan membayar zakat dengan makanan pokok yang lain.
Menurut mazhab hanafi pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan membayar- kan harganya dari makanan pokok yang di makan.

Pembayaran zakat menurut jumhur 'ulama :
a.    Waktu wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan
b.    Membolehkan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di awal.
Keterangan :Bagi yang tidak berpuasa Ramadhan karena udzur tertentu yang dibolehkan oleh syaria't dan mempunyai kewajiban membayar fidyah, maka pembayaran fidyah sesuai dengan lamanya seseorang tidak berpuasa.
2.    Zakat Maal
a.    Pengertian Maal (harta)
Menurut terminologi bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.
Sedangkan menurut terminologi syari'ah (istilah syara'), harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim). Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:
a.    Dapat dimiliki, dikuasai, dihimpun, disimpan
b.    Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.
b.    Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati
1.    Milik Penuh
Artinya harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat Islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
2.    Berkembang
Artinya harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
3.    Cukup Nishab
Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara'. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat dan dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah
4.    Lebih Dari Kebutuhan Pokok
Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum, misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.
5.    Bebas Dari hutang
Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.
6.    Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)
Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu (mencapai) satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.
c.    Harta (maal) yang Wajib di Zakati
1.    Binatang Ternak
Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).
2.    Emas Dan Perak
Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan tambang elok, juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Oleh karena syara' mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir, ukiran atau yang lain.
Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.
Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan, tanah, dll. Yang melebihi keperluan menurut syara' atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat di uangkan. Pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.
3.    Harta Perniagaan
Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan atau perserikatan seperti : CV, PT, Koperasi, dsb.
4.    Hasil Pertanian
Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll.
5.    Ma'din dan Kekayaan Laut
Ma'din (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dll.
6.    Rikaz
Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau biasa disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.
7.    Zakat Profesi/Pendapatan
Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi dimaksud mencakup profesi pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, wiraswasta, dll.

Hasilan profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, wiraswasta, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa generasi terdahulu, oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan "zakat". Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada dasarnya/hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantara mereka (sesuai dengan ketentuan syara').
Dengan demikian apabila seseorang dengan penghasilan profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.
Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.
Contoh perhitungan:
Iwan Darsawan adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di kota Bekasi, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,-.
Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih Rp. 625.000 per bulan maka kelebihan dari penghasilannya = (1.500.000 - 625.000) = Rp. 975.000 perbulan.
Apabila saldo rata-rata perbulan 975.000 maka jumlah kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun adalah Rp. 11.700.000 (lebih dari nishab).
Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5% dari saldo.
Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.
Perhitungan Zakat Pendapatan/Profesi
Nisab zakat pendapatan / profesi setara dengan nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras, kadar zakatnya sebesar 2,5 %. Waktu untuk mengeluarkan zakat profesi pada setiap kali menerima diqiyaskan dengan waktu pengeluaran zakat tanaman yaitu setiap kali panen. "Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya ( dengan dikeluar kan zakat nya ). ( QS : Al-An'am :141
Contoh perhitungan:
Nisab sebesar 520 kg beras, asumsi harga beras 2000 jadi nilai nisab sebesar 520 x 2000 = 1.400.000
Jumlah pendapatan perbulan Rp 2.000.000,-
Zakat atas pendapatan ( karena telah mencapai nisab ) 2,5 % x 2.000.000,- = 50.000,-
Zakat Uang Simpanan
Uang simpanan ( baik tabungan, deposito, dll ) dikenakan zakat dari jumlah terendah bila telah mencapai haul. Besarnya nisab senilai dengan 85 gr emas ( asumsi 1 gr emas Rp 75.000, nisab sebesar Rp 6.375.000 ). Kadarnya zakatnya sebesar 2,5 %.
Uang Tabungan

Tanggal    Masuk    Keluar    Saldo      
01/03/99    20.000.000         20.000.000      
25/03/99         2.000.000    18.000.000      
20/05/99         5.000.000    13.000.000      
01/06/99    200.000*         13.200.000      
12/09/99         1.000.000    12.200.000      
11/10/99    2.000.000         14.200.000      
31/02/00    1.000.000         15.200.000   
* Bagi hasil
Jumlah saldo terakhir dalam tabel di atas adalah 15.200.000 telah melebihi nisab (asumsi 1 gr emas Rp 75.000, nisab sebesar Rp 6.375.000) dan genap satu tahun. Tahun haul menurut contoh di atas 01/03/99 - 31/02/00.. uang bagi hasil ini dikeluarkan terlebih dahulu sebelum perhitungan zakat.
Perhitungan :
Tahun haul : 01/03/99 - 31/02/00
Nisab : Rp 6.375.000,-
Saldo terakhir : Rp 15.200.000,- - Rp 200.000,- = Rp 15.000.000,-
Besarnya zakat : 2,5 % x Rp 15.000.000,- = Rp 375.000,-
Bila seseorang mempunyai beberapa tabungan maka semua buku dihitung setelah dilihat haul dan saldo terendah dari masing-masing buku.
Perhitungan:
Haul : 01/03/99 - 31/02/00
Saldo terakhir:
- Buku 1: 5.000.000- Buku 2: 3.000.000- Buku 3: 2.000.000
Jumlah total : Rp 10.000.000
Zakat : 2,5 % x Rp 10.000.000 = Rp 250.000,-
Simpanan Deposito
Seseorang mempunyai deposito di awal penyetoran tanggal 01/04/99 sebesar Rp 10.000.000 dengan jumlah bagi hasil 300.000 setahun. Haul wajib zakat adalah tanggal 31/03/00, nisab sebesar 6.375.000. Maka setelah masa haul tiba zakat yang harus dikeluarkan sebesar :
2.5 % x Rp 10.000.000 = Rp 250.000
Bila seseorang mempunyai beberapa simpanan deposito maka seluruh jumlah simpanan deposito dijumlahkan. Bila mencapai nisab dengan masa satu tahun kadar zakatnya sebesar 2,5 % dengan perhitungan seperti di atas.
Zakat Emas/Perak
Seorang muslim yang mempunyai emas dan perak wajib mengeluarkan zakat bila sesuai dengan nisab dan haul. Adapun nisab emas sebesar 85 gr dan nisab perak 595 gr.
Emas yang tidak dipakai
Emas yang tidak dipakai adalah perhiasan emas yang tidak digunakan atau sekali pun dipakai hanya sekali setahun. Dengan demikian bila seseorang menyimpan me-nyamai atau melebihi 85 gr maka ia wajib mengeluarkan zakat emas tersebut. Ada pun kadar zakatnya besarnya 2,5 % di hitung dari nilai uang emas tersebut. Misalnya : seseorang mempunyai 90 gr emas. Harga 1 gr emas 70.000. Maka besarnya zakat yang dikeluarkan sebesar : 90 x 70.000 x 2,5 % = 157.500
Emas yang dipakai
Emas yang dipakai adalah dalam kondisi wajar dan tidak berlebihan. Jadi bila seorang wanita mempunyai emas 120 gr, dipakai dalam aktivitas sehari-hari sebanyak 15 gr. Maka zakat emas yang wajib dikeluarkan oleh wanita tersebut adalah 120 gr - 15 gr = 105 gr. Bila harga emas 70.000 maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar : 105 x 70.000 x 2,5 % = 183.750
Keterangan :
Perhitungan zakat perak mengikuti cara per hitungan di atas.
Zakat Investasi
Zakat investasi adalah zakat yang dikenakan terhadap harta yang diperoleh dari hasil investasi. Diantara bentuk usaha yang masuk investasi adalah bangunan atau kantor yang disewakan, saham, rental mobil, rumah kontrakan, investasi pada ternak atau tambak, dll.
Dilihat dari karakteristik investasi, biasanya modal tidak bergerak dan tidak terpengaruh terhadap hasil produksi maka zakat investasi lebih dekat ke zakat pertanian. Pendapat ini diikuti oleh ulama modern seperti Yusuf Qordhowi, Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahab Khalaf, Abdurahman Hasan, dll.
Dengan demikian zakat investasi dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10 %. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 untuk penghasilan bersih.
Zakat Hadiah dan Sejenisnya
Jika hadiah tersebut terkait dengan gaji maka ketentuannya sama dengan zakat profesi/pendapatan. Dikeluarkan pada saat menerima dengan kadar zakat 2,5 %.
Jika komisi, terdiri dari 2 bentuk : pertama, jika komisi dari hasil prosentasi keuntungan perusahaan kepada pegawai, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 10 % (sama dengan zakat tanaman), kedua, jika komisi dari hasil profesi seperti makelar, dll maka digolongkan dengan zakat profesi. Aturan pembayaran zakat mengikuti zakat profesi.
Jika berupa hibah, terdiri dari dua kriteria, pertama, jika sumber hibah tidak di duga-duga sebelumnya, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20 %, kedua, jika sumber hibah sudah diduga dan diharap, hibah tersebut digabung kan dengan kekayaan yang ada dan zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 %.
Zakat Perniagaan-Zakat Perdagangan
"Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang." ( HR. Abu Dawud )
Ketentuan zakat perdagangan:
Berjalan 1 tahun ( haul ), Pendapat Abu Hanifah lebih kuat dan realistis yaitu dengan menggabungkan semua harta perdagangan pada awal dan akhir dalam satu tahun kemudian dikeluarkan zakatnya.
Nisab zakat perdagangan sama dengan nisab emas yaitu senilai 85 gr emas
Kadarnya zakat sebesar 2,5 %
Dapat dibayar dengan uang atau barang
Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan.
Perhitungan :(Modal diputar + Keuntungan + piutang yang dapat dicairkan) - (hutang + kerugian) x 2,5 %
Contoh :
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) nishabnya adalah 20 dinar (setara dengan 85 gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan untung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas (asumsi jika per-gram Rp 75.000,- = Rp 6.375.000,-), maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %
Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama), maka jika semua anggota syirkah beragama Islam, zakat dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang bersyirkah. Tetapi jika anggota syirkah terdapat orang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah muslim saja (apabila jumlahnya lebih dari nishab)
Cara menghitung zakat :
Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga bentuk di bawah ini :
Kekayaan dalam bentuk barang
Uang tunai
Piutang
Maka yang dimaksud dengan harta perniagaan yang wajib dizakati adalah yang harus dibayar (jatuh tempo) dan pajak.
Contoh :
Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 1995 dengan keadaan sbb :
Sofa atau Mebel belum terjual 5 set Rp 10.000.000
Uang tunai Rp 15.000.000
Piutang Rp 2.000.000
Jumlah Rp 27.000.000
Utang & Pajak Rp 7.000.000
Saldo Rp 20.000.000
Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,- = Rp 500.000,-
Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dll, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk kedalam kategori barang tetap (tidak berkembang)
Usaha yang bergerak dibidang jasa, seperti perhotelan, penyewaan apartemen, taksi, renal mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dll, kemudian dikeluarkan zakatnya dapat dipilih diantara 2 (dua) cara:
Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti taksi, kapal, hotel, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.
Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya, tidak dihitung harga tanahnya.
Zakat Perusahaan
Zakat perusahaan hampir sama dengan zakat perdagangan dan investasi. Bedanya dalam zakat perusahaan bersifat kolektif. Dengan kriteria sebagai berikut :
Jika perusahaan bergerak dalam bidang usaha perdagangan maka perusahaan tersebut mengeluarkan harta sesuai dengan aturan zakat perdagangan. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 %
Jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang produksi maka zakat yang dikeluarkan sesuai dengan aturan zakat investasi atau pertanian. Dengan demikian zakat perusahaan dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10 %. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk pengahasilan bersih.
Catatan :Bila dalam perusahaan tersebut ada penyer taan modal dari pegawai non muslim maka penghitungan zakat setelah dikurangi ke- pemilikan modal atau keuntungan dari pegawai non muslim